Hukum Berwudu Menggunakan Air Kejatuhan Bangkai Hewan

3
12099

BincangSyariah.Com – Bangkai hewan termasuk salah satu hal yang najis. Sementara itu, salah syarat sah wudu adalah menggunakan air yang suci dan menyucikan, tidak boleh menggunakan air yang terkena najis atau dalam istilah fikih disebut mutanajjis. Namun demikian, ulama memerinci kategori air mutanajjis yang tidak boleh digunakan dan masih boleh digunakan untuk bersuci.

Ulama fikih membagi dua jenis air dari segi ukuran, yaitu air dua kulah dan air kurang dari dua kulah. Air dua kulah menurut mazahb Syafii itu air yang volumenya mencapai kurang lebih 192,857 kg atau memenuhi wadah dengan ukuran lebar, panjang dan dalam masing-masing satu hasta atau kurang lebih 60 cm. Ini berarti air yang kurang dari ukuran tersebut termasuk air kurang dari dua kulah.

Terkait air dua kulah yang kejatuhan najis, Syekh Taqiyud Din al-Hishni dalam Kifayatul Akhyar berkata demikian:

وَأما الْكثير وَهُوَ قلتان فَصَاعِدا فَلَا ينجس إِلَّا بالتغير بِالنَّجَاسَةِ لقَوْله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم (خلق الله المَاء طهُورا) الحَدِيث وَالْإِجْمَاع مُنْعَقد على نَجَاسَته بالتغير ثمَّ لَا فرق بَين التَّغَيُّر الْيَسِير وَالْكثير سَوَاء تغير الطّعْم أَو اللَّوْن أَو الرَّائِحَة وَهَذَا لَا اخْتِلَاف فِيهِ هُنَا

Air yang banyak (dua kulah atau lebih) itu tidak bisa menjadi najis kecuali bila air tersebut berubah sebab kejatuhan najis. Hal ini karena hadis Nabi, “Allah itu menjadikan air suci dan menyucikan”, dan ijmak ulama atas status najis air yang berubah karena najis. Selain itu, tidak ada perbedaan baik perubahan air itu sedikit atau banyak, berubah rasa, warna, atau baunya. Ini tidak ada perbedaan pendapat.

Air dalam kategori ini, tentu apabila kejatuhan bangkai cicak, nyamuk, atau belalang misalnya, biasanya tidak berubah salah satu dari bau, warna, dan rasanya. Bila demikian, maka air dua kulah tersebut masih dapat digunakan untuk bersuci; wudu, mandi junub, atau mencuci pakaian yang terkena najis.

Baca Juga :  Hukum Akikah dengan Kambing yang Dikebiri

Hal ini, menurut Syekh Taqiyuddin al-Hishni, berbeda dengan air yang kurang dari dua kulah sebagaimana berikut:

إِذا كَانَ دون قُلَّتَيْنِ يتأثر بِالنَّجَاسَةِ وَاحْترز بِالنَّجَاسَةِ المؤثرة عَن غير المؤثرة قَالَ النَّوَوِيّ فِي الرَّوْضَة كالميتة الَّتِي لَا نفس لَهَا سَائِلَة مثل الذُّبَاب والخنافس وَنَحْوهَا وكالنجاسة الَّتِي لَا يُدْرِكهَا الطّرف لعُمُوم الْبلوى بِهِ وكما إِذا وَقع الذُّبَاب على نَجَاسَة ثمَّ سقط فِي المَاء ورشاش الْبَوْل الَّذِي لَا يُدْرِكهُ الطّرف فيعفى عَنهُ

Ketika air itu kurang dari dua kulah, maka air tersebut akan terkena dampak sebab kejatuhan najis. Hal ini dikecualikan bila najis tersebut tidak dapat mempengaruhi air, sebagaimana Imam an-Nawawi menyebutkan dalam al-Raudhah, yaitu seperti bangkai hewan yang darahnya tak mengalir, seperti lalat, kelelawar, dan sejenisnya, dan seperti najis yang tak dapat terlihat pandangan mata, karena sulit menjaganya. Misalnya, ada seekor lalat yang menemplok pada najis, kemudian lalat itu terjatuh di dalam air, atau misalnya cipratan air kencing yang tak terlihat mata, itu semua dapat toleransi dari agama.

Dari penjelasan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa air kurang dua kulah juga sama seperti air dua kulah bila najis yang jatuh ke dalam air berupa cicak, lalat, kelelawar. Umumnya, air yang kejatuhan bangkai hewan tersebut tidak dalam skala besar itu tidak akan mengubah karakteristik air. Oleh karena itu, air kategori ini juga masih boleh digunakan untuk bersuci.

Hal ini berbeda apabila yang jatuh ke dalam air kurang dua kulah itu seperti ayam yang darahnya mengalir. Bila air kurang dari dua kulah kejatuhan bangkai ayam, misalnya, maka air tersebut tidak dapat digunakan untuk bersuci, baik air itu berubah warna, bau, dan rasanya, maupun tidak berubah.

Baca Juga :  Ini Penjelasan Kalau Muharam adalah Bulan Allah

3 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Benda mutanajjis adalah benda yang aslinya suci, akan tetapi ia terkena najis, akhirnya disebut dengan mutanajjis. Hukum asal dari benda semacam ini adalah bisa kembali suci setelah disucikan, dengan air dan debu. Suatu contoh, ada meja yang terkena najis. Maka cara menyucikannya adalah dengan menyiram air bagian yang terkena najis. (Baca: Hukum Berwudu Menggunakan Air Kejatuhan Bangkai Hewan) […]

  2. bagaimana bila kejatuhan tikus lalu mati tapi tidak merubah warna, bau sedangkan bangkai sudah di kluarkan apakah masih bisa digunakan..?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here