Hukum Bersih-bersih Kuburan Saat Hari Raya Lebaran

0
1737

BincangSyariah.Com – Selain ziarah kubur pada hari rayat Idul Fitri, tradisi sebagian besar umat Muslim di Indonesia adalah bersih-bersih kuburan keluarga yang sudah meninggal mendahului mereka. (Baca: Hukum Mencium Batu Nisan Saat Ziarah Kubur)

Dalam I’aanah at Tholibiin (II/ 120) karya Syekh Abu Bakr Syatha (w. 1310 H), diterangkan bahwa,

ويحرم أخذ شيء منهما ما لم ييبسا لما في أخذ الأولى من تفويت حظ الميت المأثور عنه صلى الله عليه وسلم

Artinya:

Diharamkan mengambil sesuatu (tanaman hijau/ bunga-bunga di atas pusara) darinya selagi belum mengering karena dapat menghilangkan bagian dan hak mayit yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad shallalaahu alaihi wasallam

Nabi SAW., dalam beberapa riwayat seperti Bukhari (1273) dan an Nasa’i (2042), pernah melintasi dua kuburan yangmana penghuninya sedang disiksa. Beliau lantas mengambil sebatang dahan kurma yang masih basah daunnya, lalu membelahnya menjadi dua, kemudian menancapkannya pada dua pusara kubur tersebut. Lalu para sahabat bertanya tentang tindakan Nabi SAW. tersebut, hingga Beliau menjawab,

لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Artinya:

Semoga diringankan (siksanya) selama batang pohon ini basah

Syekh Abu Bakr Syatha melanjutkan bahwa larangan untuk mengambil tanaman hijau pada pusara kubur, mutlak ketentuannya bagi penanam maupun bagi orang lain. Ini sesuai dengan pernyataan di bawah ini yang berbunyi,

وظاهره أنه يحرم ذلك مطلقا أي على مالكه وغيره

Namun dalam referensi lain (an Nihaayah) dikatakan bahwa larangan mencabut tumbuhan sebelum mengering tersebut hanya berlaku bagi selain penanam. Seperti pernyataan di bawah ini,

وفي النهاية ويمتنع على غير مالكه أخذه من على القبر قبل يبسه فقيد ذلك بغير مالكه

Dalam kitab tersebut, mengutip pula pernyataan Syekh Ibnu Qasim, bahwa beliau merincikan,

وفصل ابن قاسم بين أن يكون قليلا كخوصة أو خوصتين فلا يجوز لمالكه أخذه لتعلق حق الميت به وأن يكون كثيرا فيجوز له أخذه

Baca Juga :  Ayat Ahkam: Hukum Asal Segala Sesuatu yang Diciptakan adalah Mubah (al-Baqarah: 29)

Artinya:

Ibnu Qaasim menjelaskan bila (tanaman hijau/ bunga-bunga basah diatas pusara tersebut) sedikit, sejimpit atau dua jimpit, bagi pemilik (penanam)nya tidak diperbolehkan mengambilnya karena berhubungan dengan hak si mayit. Tapi bila (tanaman hijau/ bunga-bunga) basah diatas pusara tersebut banyak maka boleh ia mengambilnya

Pernyataan yang dilayangkan para ulama di atas, menyebutkan bahwa adanya pelarangan bagi penanam maupun orang lain untuk mengambil/ mencabut tanaman hijau yang masih basah pada pusara kubur seorang mayit. Keterangan mengenai pelarangan tersebut mempunyai alasan bahwa tumbuhan yang masih basah itu akan selalu bertasbih dan memohonkan ampun untuk si mayit yang menerima siksa kubur. Sebagaimana pernyataan Syekh Abu Bakr Syatha, yang berbunyi,

وقوله من تفويت حظ الميت ,أي منفعته وهو التخفيف عنه ببركة تسبيحها

Artinya:

Keterangan mengenai ‘dapat menghilangkan bagian dan hak mayit’, (maksudnya adalah) menghilangkan manfaatnya yang meringankan (beban siksaan) si mayit akibat bacaan tasbih (tanaman/ bunga) diatas pusara tersebut

Maka dari itu, selama tumbuhan tersebut belum kehilangan manfaat (mengering), maka tumbuhan tersebut dilarang untuk dicabut.

Namun bagaimana dengan tindakan masyarakat yang mana menjadikan unsur kebersihan, kerapian hingga kemaslahatan, untuk sebuah sebab dicabutnya tumbuhan basah pada pusara kubur?

Dalam Mughni al Muhtaaj (I/ 364) karya Syekh al Khatib asy Syarbini (w. 977 H) dijelaskan kembali bahwa sunnah hukumnya menaruh pelepah kurma hijau (basah) di atas kuburan, begitu juga tumbuh-tumbuhan yang berbau harum dan semacamnya yang masih basah. Berikut pernyataan Syekh Khatib asy Syarbiniy,

ويسن أيضا وضع الجريد الأخضر على القبر وكذا الريحان ونحوه من الشيء الرطب ولا يجوز للغير أخذه من على القبر قبل يبسه

Baca Juga :  Lukman Hakim Saefuddin: Moderasi Beragama Keniscayaan untuk Hindari Penafsiran yang Ekstrem

Pernyataan di atas mungkin telah direaktualisasikan pada konteks masa dan tempat saat ini, untuk menjadikan batang pohon kamboja/ semboja sebagai pengganti batang pohon kurma. Tak hanya itu, peziarah juga sering untuk menyirami pusara kubur dengan air yang sudah dicampur dengan bunga, sehingga menimbulkan aroma yang sangat harum.

Fenomena ini sangat marak dijumpai pada saat di pemakaman, khususnya kompleks pemakaman di pedesaan. Dan hal ini sah-sah saja apabila merujuk pada konsep pemahaman mengenai “Sarana yang berubah dan Tujuan yang tetap”, yang dipaparkan oleh Syekh Yusuf Qardlawy dalam bukunya Kaifa Nata’mal ma’as Sunnah an Nabawiyyah.

Dalam Hasyiah al Bujairimi ‘ala al Khatib (II/ 570) karya Syekh Sulaiman al Bujairimi (w. 1221 H), menyatakan sesuai dengan pendapat Ibn Qaasim di atas bahwa,

…إنْ كَانَ الشَّيْءُ الْأَخْضَرُ قَلِيلًا كَخُوصَةٍ أَوْ خُوصَتَيْنِ مَثَلًا لَا يَجُوزُ لَهُ أَخْذُهُ… إذَا كَانَ كَثِيرًا فَإِنَّهُ يَجُوزُ الْأَخْذُ مِنْهُ

Artinya:

“…Apabila sesuatu yang basah itu sedikit seperti sehelai daun atau dua helai, maka tidak boleh atas pemiliknya mengambilnyaAdapun apabila banyak, maka dibolehkan

Serta dianjurkan pula untuk meletakkan tumbuhan yang baru dicabut tersebut pada kuburan yang lain, walaupun masih dalam keadaan basah (hidup). Sebagaimana yang diterangkan al Bujairimi pada pembahasan selanjutnya,

فَيَجُوزُ لِمَنْ وَضَعَ خُوصًا كَثِيرًا مَثَلًا عَلَى قَبْرٍ الْأَخْذُ مِنْهُ لِيَضَعَهُ عَلَى قَبْرٍ آخَرَ وَهَكَذَا

Artinya:

Dibolehkan bagi orang-orang yang meletakkan semisal helai yang banyak atas kubur mengambilnya untuk meletaknya atas kuburan yang lain dan seterusnya

Dari pelbagai penjelasan para ulama di atas, bisa kita tarik beberapa kesimpulan diantaranya, (1) Menancapkan tumbuhan (dan sejenisnya) adalah sebuah anjuran dengan syarat diniatkan untuk meringankan beban siksa kubur si mayit; (2) Tidak diperbolehkan untuk mengambil tumbuhan yang masih hidup bagi siapapun apabila jumlah tumbuhannya sedikit; (3) Diperbolehkan bagi penanam yang bermaksud memberikan manfaat kepada si mayit lewat tumbuhan yang ditanamnya, untuk mengambil tumbuhan yang masih hidup apabila terlalu banyak pada pusara kubur.

Baca Juga :  Ketika Berziarah Ke Kuburan, Sebaiknya Duduk atau Berdiri?

Apabila memang tumbuhan seperti rerumputan dan sejenisnya menghalangi orang lain untuk berziarah ke kuburan, sehingga mengganggu kenyamanan publik, maka dimungkinkan untuk membersihkannya demi kemaslahatan. Kesimpulan ini bisa didasarkan pada salah satu kaidah dalam ushul fiqh yang berbunyi,

درء المفاسد أولى من جلب المصالح

Yang mana maknanya bahwa pencegahan dari kemudharatan yang besar adalah lebih utama daripada mengambil buah kemaslahatan yang cenderung sedikit.

Garis kesimpulan di atas, bijaknya disikapi dengan penuh tanggung jawab dan disertai dengan maksud kebaikan. Alasan yang dibenarkan yakni bisa dengan maksud memberi manfaat kepada si mayit atau menciptakan suatu kemaslahatan bila memang tumbuhannya mengganggu publik. Tentu ini harus dilatarbelakangi dengan berbagai alasan hukum (illat) yang dapat menyertainya, sehingga kemungkinan besar masih dapat berubah-ubah sesuai dengan keadaan yang nyata dan semestinya.

Dalam konteks waktu, penulis belum menemukan bahwa ziarah dan bersih kubur ini hanya dilakukan pada momen hari raya. Hal ini tentu memberikan indikasi bahwa aktivitas semacam ini bisa dilakukan kapanpun, tidak hanya pada saat momen hari raya. Namun memang bila melihat fenomena di masyakarat, orang-orang akan mengunjungi pemakaman sekedar untuk berziarah kepada keluarganya yang telah meninggal. Tentu sangat wajar, karena pada momen hari raya, masyarakat mempunyai waktu yang lebih daripada pada hari-hari biasa yang disibukkan dengan segala aktivitasnya.

Wallahu a’lam bi as Showaab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here