Hukum Berselawat di Klub Malam

4
985

BincangSyariah.Com – Baru-baru ini viral di dunia maya, aksi seorang pendakwah yang masuk ke klub malam dan mengajak para perempuan pekerja di tempat tersebut yang rata-rata berpakaian terbuka tidak menutup aurat untuk bersama-sama melantunkan takbir dan berselawat kepada Nabi Muhammad SAW. Selawat yang dipilih adalah selawat badar.

Pendakwah tersebut bernama Miftah Maulana Habiburrohman. Akrab disapa dengan panggilan Gus Miftah. Dalam berdakwah, ia memiliki cara unik, yakni menyasar di tempat-tempat maksiat seperti lokalisasi, klub malam dan lainnya. Gus Miftah tentu saja bukan yang pertama melakukan hal tersebut di negeri ini. Sebelumnya juga kita mengenal nama Gus Miek, K.H. Hamim Thohari Jazuli, seorang kyai dari pondok pesantren Ploso, Kediri yang selain rajin mengaji bersama para santri, juga kerap mengunjungi klub malam untuk berdakwah.

Ada banyak kontroversi terkait aksi dari Gus Miftah tersebut. Ada yang menolak, namun lebih banyak lagi mendukung. Mereka yang menolak berargumen bahwa ada etika yang dilanggar dalam pembacaan selawat tersebut.

Terkait etika pembacaan selawat, dalam QS. Al-Ahzab ayat 56, Allah berfirman :

إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

Artinya : “Sesungguhnya Allah dan para malaikat itu berselawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, ucapkanlah selawat dan salam kepadanya (Nabi Muhammad Saw)”.

Selawat Allah kepada Nabi adalah Allah memberikan rahmat kepada Nabi. Selawat Malaikat untuk Nabi adalah Malaikat memohon kepada Allah agar memberikan rahmat kepada nabi. Kita tahu bahwa Allah memiliki sifat Maha Indah, Maha Berakhlak, dan Maha Sempurna. Dari ayat diatas yang menyatakan bahwa Allah dan para Malaikat berselawat untuk Nabi Muhammad SAW, bisa kita pahami bahwa selawat tersebut tentu penuh keindahan dan penuh akhlak. Sehingga, perintah untuk berselawat kita pahami sebagai perintah untuk berselawat yang menjunjung akhlak.

Baca Juga :  Hikmah: Ketika Nabi Muhammad Bercanda

Kemudian, Allah juga berfirman dalam QS. An-Nuur ayat 63 :

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ.

Artinya : “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kalian dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”

Dalam ayat tersebut Allah melarang memanggil Nabi dengan panggilan yang jelek, apalagi dalam berselawat. Termasuk dalam hal ini adalah etika berpakaian. Sebagaimana yang dilakukan oleh Gus Miftah, ada banyak sekali wanita berpakaian seksi dan tidak menutup aurat pada saat itu yang berselawat. Bukankah secara etika itu tidak bagus?

Meskipun demikian, perlu kita pahami bahwa aksi gus Miftah tersebut adalah aksi dakwah. Dan kita tahu bahwa dakwah memperbolehkan hal-hal yang semestinya tidak diperbolehkan. Seperti jamaah salat dluha yang tidak memiliki referensi fikih yang kuat, menjadi boleh jika dilakukan di sekolah dalam rangka pembelajaran dan pembiasaan.

Maka menurut hemat penulis, apa yang dilakukan oleh Gus Miftah adalah wajar selama masih dalam proses dakwah dan pembelajaran. Bahkan akan menjadi rancu juga apabila ajakan berselawat itu mesti menunggu para perempuan tersebut ganti baju terlebih dahulu. Penulis pikir, dulu pun barangkali Sunan Kalijogo mengajak orang jawa -yang memakai kemben dan dada nya terlihat kemana-mana- mengaji ya tidak menunggu mereka ganti pakaian dulu. Yang terpenting adalah substansi agama bisa masuk, kemudian baru sesudah itu hal-hal lainnya bisa diperbaiki untuk menuju kesempurnaan.

Akhir kata, penulis mengucapkan salut pada Gus Miftah atas ketelatenannya berdakwah ke tempat-tempat yang belum terjamah oleh pendakwah lainnya, dan berharap semoga selawat bisa selalu menggema di negeri ini. Banyak orang berkata bahwa selawat bisa bikin adem. Semoga makin banyak yang berselawat, negeri ini makin adem. Wallahu a’lam bi shawab.

4 KOMENTAR

  1. Berdakwa di club malam adalah menggarami lautan. Tugas kita pada sekarang ini hanya mengingatkan saja bagi mereka yg mau. Kalau tidak mau biarkan saja sebagaimana ceramah2 para ulama’ di masjid2 bukan ditempat yg najismohon maaf sy yg dloif

  2. Bangsa jahiliah itu lebih dari klub malam saat ini. Tapi Nabi tetap berdakwah pada mereka bangsa jahiliah, dari mulai sembunyi-sembunyi hingga terang-terangan. Apa Nabi juga sedang menggarami lautan? Pribahasa Anda tidak tepat konteksnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here