Hukum Bersalaman dengan Mencium Tangan

1
3570

BincangSyariah.Com – Secara umum tradisi mencium tangan ketika bersalaman dengan orang yang lebih tua merupakan sebuah budaya kesopanan yang masih lestari di Indonesia. Sejak kecil orang tua sudah mengarahkan anak-anaknya untuk mencium tangan orang yang dihormati karena umurnya, kemuliaan, atau ilmunya. Tradisi ini berasal dari ajaran para ulama tentang nilai pentingnya yang muda menghormati yang lebih tua.

Namun sebagian umat muslim ada juga yang berpandangan kalau mencium tangan ini adalah bentuk pengultusan terhadap sesama manusia, sehingga bisa masuk ke dalam keharaman. Benarkah demikian?

Secara spesifik, kebiasaan mencium tangan ketika bersalaman dengan yang lebih tua, atau kepada yang dimuliakan, dapat kita temukan dalam kitab hadis. Hadis yang kami rasa paling menggambarkan adalah riwayat al-Tirmidzi dari ‘Abdullah bin ‘Umar Ra.

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ حَدَّثَهُ، أَنَّهُ كَانَ فِي سَرِيَّةٍ مِنْ سَرَايَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَحَاصَ النَّاسُ حَيْصَةً، فَكُنْتُ فِيمَنْ حَاصَ قَالَ: فَلَمَّا بَرَزْنَا قُلْنَا: كَيْفَ نَصْنَعُ وَقَدْ فَرَرْنَا مِنَ الزَّحْفِ وَبُؤْنَا بِالْغَضَبِ؟ فَقُلْنَا: نَدْخُلُ الْمَدِينَةَ فَنَتَثَبَّتُ فِيهَا وَنَذْهَبُ وَلَا يَرَانَا أَحَدٌ. قَالَ: فَدَخَلْنَا فَقُلْنَا: لَوْ عَرَضْنَا أَنْفُسَنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِنْ كَانَتْ لَنَا تَوْبَةٌ أَقَمْنَا، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ ذَهَبْنَا. قَالَ: فَجَلَسْنَا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ، فَلَمَّا خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ فَقُلْنَا: نَحْنُ الْفَرَّارُونَ فَأَقْبَلَ إِلَيْنَا فَقَالَ: “لَا. بَلْ أَنْتُمُ الْعَكَّارُونَ”. قَالَ: فَدَنَوْنَا فَقَبَّلْنَا يَدَهُ، فَقَالَ: “إِنَّا فِئَةُ الْمُسْلِمِينَ”

Bahwasanya Abdullah bin ‘Umar bercerita kalau ia pernah berada di sebuah rombongan pasukan pengintai (sariyyah) Rasulullah Saw. Kemudian, pasukan melarikan diri dan saya termasuk di antaranya. Setelah kita semua tenang, kita bertanya-tanya: “bagaimana ini? kita sudah lari dari musuh dan kita semua mengaku dengan muak (karena kalah)?” kemudian kami berkata: “begini saja, kita masuk kota Madinah secara mengendap-ngendap dan tidak ada yang melihatnya. Kemudian dia berkata: “baik, kita masuk” Lalu di antara kita ada yang berkata: “bagaimana kalau kita menghadap Nabi Saw? Kalau kita dimaafkan kita akan tetap di Madinah. Jika tidak, kita akan keluar.” Ibn ‘Umar berkata: Kemudian kita duduk menunggu Nabi Saw. sebelum shalat Subuh. Ketika beliau keluar, kami berkata: “Wahai Nabi, kami orang-orang yang lari dari peperangan!”. Nabi Saw. menjawab: “Tidak, kalian adalah para pasukan perang! Ibn ‘Umar berkata: “kami kemudian mendekati Nabi dan mencium tangannya”. Nabi Saw. merespon dengan mengatakan: “saya adalah bagian dari umat muslim.”

Lemahnya Kredibilitas Yazid bin Abi Ziyad sebagai Pe-rawi Hadis

Redaksi hadis di atas terdapat di dalam Sunan Abu Dawud. Selain Abu Dawud, ulama hadis lainnya seperti al-Tirmidzi, al-Nasa’i, Ibn Majah, hingga al-Baihaqi juga menyebutkan redaksi hadis tersebut. Al-Tirmidzi memberikan kriteria hadis tersebut sebagai hadis hasan. Namun, ada juga yang melemahkan hadis tersebut. Ulama muta’akkhirin yang melemahkan hadis tersebut diantaranya adalah Syaikh Nashiruddin al-Albani.

Baca Juga :  Pancasila Menjamin Kebebasan Beragama            

Alasannya adalah ada seorang pe-rawi pada hadis tersebut bernama Yazid bin Abi Ziyad, seorang dari Bani Hasyim, yang dinilai dha’if  karena mengalami kepikunan di akhir usianya. Selain itu, ia disebut-sebut sebagai pemimpin kelompok Syi’ah. Namun, jika kita merujuk kepada Siyar A’laam al-Nubala, ada beragam pendapat tentang Yazid bin Abi Ziyad. Abu Dawud sendiri dikutip di dalamnya dengan perkataan: “saya tidak tahu seorang pun yang meninggalkan hadis-hadisnya” (La a’lamu ahadan taraka haditsahu). Al-Zahabi juga menyebutkan kalau ia adalah orang berilmu, meskipun tidak kuat ingatannya sehingga tidak dirujuk oleh al-Bukhari dan Muslim. Ia juga dikenal sebagai seorang yang mengetahui pendapat para sahabat.

Riwayat Lain

Katakanlah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud tersebut lemah, namun kita dapat menemukan hadis atau perilaku para sahabat lain tentang mencium tangan. Abu ‘Ubaidah al-Jarrah ketika ‘Umar bin Khattab tiba di Syam pernah mencium tangannya. Kisah ini disebutkan oleh al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad, al-Baihaqi dalam Sunan-nya, serta al-Shan’ani (w. 211 H) dalam al-Amaali min Aatsari al-Shahabah. Selain kebiasan dari ‘Abu ‘Ubaidah al-Jarrah, ada sahabat yang lain seperti ‘Ali bin Abi Thalib yang pernah mencium tangan ‘Abbas.

Hadis-hadis tentang mencium tangan ini sebenarnya sering beriringan dengan hadis tentang dibolehkannya mencium tangan saja ketika seseorang bertawaf di Ka’bah dan tidak memungkinkan mencium Hajar Aswad. Ada banyak sahabat yang melakukan hal tersebut sebagai bentuk penghormatan mereka. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa mencium tangan orang yang kita hormati sebenarnya adalah bentuk penghormatan juga, layaknya seseorang menghormati Hajar Aswad karena Nabi Saw. pernah melakukannya.

Memahami Hadis Mencium Tangan

Menurut al-Munzhiri, dalam kitabnya berjudul Mukhtashar Sunan Abu Daud, ia mengutip Al-Hafizh Abu Bakar al-Ashbihani, atau yang lebih dikenal dengan Ibn al-Muqri’ dalam kitabnya Rukhsatu Taqbil al-Yad, melalui hadis di atas ia menyimpulkan dibolehkannya mencium tangan orang karena lebih alim atau lebihmulia. Menurutnya ada banyak riwayat hadis, di antaranya dari Ibn ‘Umar, Ibn’Abbas, Jabir bin Abdullah, Buraidah bin al-Hushaib, Shafwan bin ‘Assal, Mazidah al-‘Abdi, dan al-Zaari’ bin ‘Ali al-Abdi, serta riwayat-riwayat lain dari Sahabat dan Tabi’in; yang menilai sunah mencium tangan.

Baca Juga :  Apakah Bertawasul Itu Musyrik?

Masih menurut Ibn al-Muqri’, Imam Malik berpendapat kalau mencium tangan itu sesuatu yang dilarang dan ia tidak menilai sahih riwayat seputar itu. Namun ulama lain membolehkan. Al-Abhari berargumen bahwa pengharaman oleh Imam Malik tersebut dalam situasi ketika mencium tangan sebagai bentuk kesombongan dan merasa hebat dari orang yang dicium tangannya.

Jika yang dianggap tidak sesuai dengan syariat adalah kesombongan, semua ulama sepakat itu haram. Yang diilustrasikan adalah orang mencium tangan karena harta duniawi atau kekuasaannya. Bahkan, Imam al-Nawawi dalam Rawdhatu al-Thalibin mengutip sebuah hadis hasan tentang tercelanya orang yang berharap ingin dihormati,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَمْثُلَ لَهُ النَّاسُ قِيَامًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Siapa yang ingin orang-orang berdiri di hadapannya (karena mengharap dihormati), maka persiapkanlah tempatnya di neraka.  

Ibn al-Muqri’ menyatakan kalau yang dicium tangannya dikarena kesalihannya, itu diperbolehkan. Bahkan dalam Mazhab Syafi’i, mengutip al-Nawawi dalam Rawdhatu al-Thalibin, mencium tangan seseorang karena kesalihan atau kezuhudan itu disunahkan. Hal lain yang juga termasuk dalam bentuk penghormatan adalah berdiri atau mencium anak orang soleh tersebut dalam konteks kasih sayang, bukan dengan syahwat. Wallahu A’lam

1 KOMENTAR

  1. Saya mau tanya kita kaum hawa dan Adam tidak boleh saling sentuh tangan. akan tetapi di suatu tempat ada yg mengharukan saya mencium tangan orang yang lebih tua baik laki-laki maupun perempuan mereka mengatakan itu adalah tradisi.apa saya berdosa Salim dengan kaum laki-laki tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here