BincangSyariah.Com – Karena merasa lelah setelah melakukan rutinitas sehari-hari, maka sebagian orang ingin mengembalikan stamina tubuh dengan pelbagai pengobatan. Ada yang sengaja untuk menyembuhkan penyakit yang diidap. Tak jarang juga ditemukan menjalani pengobatan untuk relaksasi dengan pengobatan tradisional. Pengobatan semacam itu tidak hanya diminati oleh kaum hawa, bahkan para lelaki pun tak ketinggalan. Begitupun dengan penyedia jasa tersebut. Lalu, apakah boleh seorang menjalani pengobatan dengan lawan jenisnya?

Berobat adalah upaya yang disyariatkan dalam Islam sebagai ikhtiar, sebagaimana sabda Nabi saw.:

إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah SWT menurunkan penyakit dan obatnya, Dia jadikan setiap penyakit pasti ada obatnya, maka berobatlah dan jangan berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud)

Berobat sebisa mungkin dengan obat yang halal dan suci, dilakukan oleh orang yang tepat dengan cara yang benar. Jika pasiennya laki-laki, sebagusnya dokter atau yang mengobatinya laki-laki, begitupun sebaliknya. Jika keadaan seperti itu sulit ditemukan, seperti di suatu daerah tidak ada dokter kandungan muslimah atau ahli pijat satu-satunya perempuan.

Jika hal tersebut terjadi, maka pengobatannya dibolehkan karena termasuk dalam jenis obat yang hukum asalnya boleh. Sudah menjadi rahasia umum jika selama pengobatan sangat memungkinkan terjadi penyentuhan antara yang mengobati dengan yang diobati, karena itulah cara untuk mendeteksi atau mendiagnosis penyakit.

Dalam kitab Sahih al-Bukhari terdapat bab mudawatin nisa’ al arha fil ghazwil (pengobatan wanita untuk yang terluka dalam peperangan), juga bab raddin nisa’ aljarha alqatla ilal madinah (wanita memulangkan pasukan terluka dan terbunuh ke Madinah). Sebagaimana kaidah fikih yang tercantum dalam kitab al-Asybah wa Annazhair:

الْمَشَقَّةُ تَجْلُبُ التَّيْسِيرَ

Baca Juga :  Kedudukan Fatwa MUI di Indonesia

“Kesulitan membawa pada kemudahan.”

Walaupun demikian, diwajibkan menjaga aurat dan pandangan serta tidak ada sentuhan kecuali memang ada kebutuhan. Juga diwajibkan membatasi pada bagian tertentu yang terbuka aurat serta waktu yang sudah ditentukan.

Meskipun sudah diberi keringanan untuk bisa berobat ke lawan jenis. Tetapi, Allah SWT memerintahkan untuk senantiasa menjaga aurat. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُم

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…” (Q.S. an-Nur: 30)

Dan Allah SWT juga berfirman untuk kaum mukminat:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُن

“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…” (Q.S. an-Nur: 31)

Lalu bagaimana dengan sebagian orang yang memanfaatkan jasa pengobatan tradisional seperti pijat relaksasi? Selama tidak ada penyingkapan aurat dan tidak ada sentuhan yang membangkitkan syahwat maka itu dibolehkan. Serta dibolehkan memberikan upah kepada yang mengobati.

Walhasil, pada dasarnya Rasulullah tidak melarang sesorang berobat atau diobati oleh orang selain muhrimnya, namun harus ditemani muhrim lainnya (tidak berdua). Ini bertujuan untuk menghidari fitnah dan sebagainya. Namun jika memang ada dokter atau ahli pengobatan yang sama khasiatnya dan sesama muhrim atau bukan lawan jenis itu jauh lebih baik. Wallahu’alam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here