Hukum Bermakmum pada Imam yang Belum Sunat

1
2133

BincangSyariah.Com – Khitan atau sunat merupakan sesuatu yang dianjurkan menurut medis, dan sangat banyak kemanfaatannya sebagaimana disebutkan oleh situs Alodokter. Dalam Islam, ulama berbeda pendapat mengenai hukum sunat , baik bagi lelaki maupun perempuan. Selain itu, berapa usia sebaiknya seseorang itu disunat juga terjadi perbedaan pendapat ulama (baca: usia berapakah sebaiknya anak laki-laki dikhitan?). Terlepas dari itu, bagaimanakah hukum seseorang yang belum sunat itu menjadi imam shalat?

قَالَ ابْنُ الْعِمَادِ الْاِقْتِدَاءُ بِالْأَقْلَفِ، هُوَ الَّذِي لَمْ يُخْتَنْ، مَكْرُوْهٌ بِلَا خِلَافٍ. وَهَلْ تَصِحُّ صَلاَتُهُ، وَالصَّلاَةُ خَلْفَهُ؟ فِيْهِ وَجْهَانِ. قَالَ الْقَاضِي شُرَيْح الرُّوْيَانِي بْنُ أُخْتِ صَاحِبِ الْبَحْرِ فِي كِتَابِهِ (رَوْضَةِ الْحُكَّامِ وَزِيْنَةِ الْأَحْكَامِ): صَلَاةُ الْأَقْلَفِ صَحِيْحَةٌ وَالْاِقْتِدَاءُ بِهِ صَحِيْحٌ مَعَ الْكَرَاهَةِ. وَقَالَ الْقَفَّال لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ لِأَنَّ بَاطِنَ الْقُلْفَةِ لَهُ حُكْمُ الظَّاهِرِ فِي تَطْهِيْرِهِ مِنَ النَّجَاسَةِ وَالْجَنَابَةِ وَلَا يُمْكِنُ غُسْلُ بَاطِنِهَا إِلَّا بِإِزَالَتِهَا.

Ibn al-‘Imād berpendapat, bermakmum pada orang yang masih berkulup, yaitu orang yang belum sunat, itu makruh tanpa ada perbedaan pendapat. Apakah salat orang yang masih berkulup dan makmumnya itu sah? Ada dua pendapat. Kadi Shurayḥ al-Rūyānī, putra saudara perempuan pengarang kitab al-Baḥr, berpendapat dalam kitabnya Rawḍah al-Hukkām wa Zīnah al-Aḥkām, salatnya orang yang masih berkulup itu sah, dan bermakmum padanya juga sah, namun tetap makruh. Al-Qaffāl berpendapat salatnya tidak sah, karena batin kulup itu sama seperti zahir dalam cara mensucikannya dari najis dan janabah. Sementara, tidak mungkin membasuh batin kulup kecuali dengan cara menyunatnya.

Sementara itu, Imam al-Nawāwī dalam syarah al-Muhadhdhab berpendapat, mandi (junub) orang yang masih berkulup itu tidak sah kecuali dengan membasuh batin kulupnya dalam pendapat yang sahih yang berbeda dengan pendapat al-‘Ubbādī. Jika mani menjadi najis di dalam kulup, kemudian seseorang selesai mandi (junub), lalu setelah itu keluar air najis, maka baginya tidak wajib mengulangi mandi, karena batin kulup itu berhukum sama seperti zahirnya. Namun menurut al-‘Ubbādī wajib mengulangi mandi junub, karena kulup itu termasuk bagian batin.

Oleh karena itu, diketahui jawabannya bahwa salat bermakmum pada orang yang berkulup itu ada yang berpendapat sah, namun tetap makruh, dan inilah pendapat yang benar. Kita tidak perlu mengetahui apakah imam yang memimpin salat itu sudah sunat atau belum. Wallāh ta‘ālā a‘lam.

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Sunat atau khitan merupakan fitrah bagi lelaki Muslim. Selain terdapat anjuran dalam agama, sunat bagi seorang Muslim pun baik menurut medis. Namun bagaimana jika sunat itu sampai terbawa mimpi? Ternyata tafsir mimpi sunat menurut Islam itu dijelaskan oleh Imam Ibnu Sirin dalam kitab Muntakhab al-Kalam fi Tafsir al-Ahlam. (Baca: Hukum Bermakmum pada Imam yang Belum Sunat) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here