Hukum Bermain Game Online dalam Pandangan Syariat Islam

0
972

BincangSyariah.Com – Berbicara soal hiburan,  game merupakan permainan berdaya tarik besar di kalangan tua maupun muda. Sebagai hiburan saat jenuh, dan tentunya juga menjadi sarana belajar; belajar dari berbagai karakter tokoh dari game yang berbeda-beda, belajar bagaimana mengatur strategi yang jitu, dan tentunya belajar bagaimana berkomunikasi yang baik. Bahkan bermain game online ada juga yang bisa mendapatkan penghasilan dengan cara menjual konten yang kita miliki. (Hukum Bermain Catur dalam Pandangan Syariat Islam)

Dalam kacamata hukum Islam, syariat Islam memberikan kebebasan bermain di depan layar komputer atau handphone, asal  permainan atau hiburan yang dimaksud memenuhi beberapa kriteria berikut:

Pertama, tidak membuat lalai bahkan meninggalkan shalat wajib. Wahbah Zuhaili dalam karyanya Fatawa al-Mu’ashoroh vol.200 memaparkan :

وَإِنْ أَدَّى السَّهْرُ عَلَى الْكَمْبَيُوتَرْ إِلَى تَضَيُّعِ فَرِيْضَة  الصَّلَاةِ كَالصُّبْحِ وَغَيْرِهِ صَارَ السَّهْرُ حَرَامًا وَعَلَيْكَ أَيُّهَا الْأَبِّ تَنْظِيْمُ وَقْتِ ابْنِكَ فِي النَّوْمِ وَالْاِسْتْيقَاظِ حفاظا على صحته وجسمه فكل ما أدى إلى الحرام فهو حرام حتى الملاهي المباحة المكروهة

Bila begadang di depan komputer sampai menyebabkan terbengkalainya sholat fardlu seperti shubuh dan lainya, maka diharamkan. Dan wajib bagi seorang ayah mengatur waktu anaknya dalam tidur dan bangun guna menjaga kesehatanya. Setiap sesuatu yang mendatangkan keharaman adalah larangan, hingga alat permainan yang hukum asalnya mubah maupun makruh.

Kedua, tidak menyebabkan bahaya pada diri pemain. Terlalu lama atau sering bermain di depan layar bisa berbahaya pada kesehatan atau madlorot seperti menyebabkan sakit mata atau bahkan kebutaan. Nabi sebsabda :

لا ضَرَرَ ولا ضِرَارَ

“Tidak boleh membayakan diri sendiri dan orang lain”.(H.R.Ibnu Majah Dan Daru al-Quthni) 

Ketiga, tidak mengandung unsur judi atau taruhan. Perjudian atau taruhan tidak terbatas pada keuntungan dan kerugian yang mensyaratkan imbalan alat tukar dari salah satu kedua pihak (pemenang atau yang kalah). Abdur Rahman bin Abi Bakar al-Suyuti dalam  al-Dur al-Mantsur Fi-Tafsir Bil-Ma’tsur menjelaskan:

Baca Juga :  Ini Bahaya Tertawa Berlebihan

وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِيْ الدُّنْيَا وَأَبُوْ الشَّيْخِ عَنْ ابْنِ سِيْرِيْن قَالَ : مَا كَانَ مِنْ لَعْبٍ فِيْهِ قِمَارُ أَوْ قِيَامٌ أَوْ صِيَاحٌ أَوْ شّرٌّ فَهُوَ مِنَ الْمَيْسِرِ.

“Diriwayatkan oleh ibnu abi al-dunya dan abu syaikh dari ibnu sirin, beliau berkata: permainan yang didalamnya mengandung (disyaratkan dari pihak yang menang atau kalah) taruhan, berdiri, berteriak, keburukan maka termasuk perjudian.” Wallahu A‘lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here