Hukum Berdiri untuk Menghormati Seseorang           

0
803

BincangSyariah.Com – Berdiri untuk menghormati orang yang baru datang bukanlah keharusan, melainkan praktik kesempurnaan etika. Hal tersebut sering dicontohkan para ulama dan pengikutnya yang terbiasa dengan berdiri untuk melakukan pernghormatan terhadap orang-orang yang mulia. Terlebih dengan Islam di Indonesia yang dikenal dengan keramahannya. Kesempurnaan etika itu bisa dimulai dengan menjabat tangannya dan menuntunnya.

Kebiasaan tersebut tidaklah keluar dari ajaran Islam, melainkan sebuah peninggalan dari jejak Nabi. Dalam hadis diceritakan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

عن عائشة رضي الله عنها قالت: ما رأيت احدا من الناس كان أشبه با النبي صلى الله عليه وسلم : إذا رأها اقبلت رحب بها ثم قام إليها فقبلها ثم أخد بيدها فجاء بها حتى يجلسها في مكانه وكانت إذا اتاها النبي صلى الله عليه وسلم رحبت به ثم قامت اليه فقبلته

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: aku tidak melihat seorang pun di antara manusia yang lebih menyerupai nabi dalam hal berdialog, berbicara, dan cara duduknya selain Fatimah Radhiyallahu ‘Anha ”. Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Apabila nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat Fatimah datang beliau menyambutnya serta berdiri untuknya, lalu menciumnya sambil memegang erat tangan Fatimah itu. Kemudian Nabi menuntun Fatimah sampai mendudukkannya di tempat beliau biasa duduk. Sebaliknya, apabila Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang datang kepadanya, Fatimah berdiri menyambut Nabi serta mencium Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (HR. Bukhari, Turmidzi, Abu Dawud). 

Dalam kisah lain juga diriwayatkan dalam hadits yang shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan para shahabat untuk berdiri memberikan penghormatan kepada Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu ‘Anhu, ketika beliau mendatangi majelis Nabi dan para sahabat beliau. Saat itu Nabi Saw. menyambut Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu ‘Anhu dengan ucapan;

Baca Juga :  Membincang Hadis Perang Melawan Orang Bermata Sipit Sebagai Tanda Kiamat

قوموا لسيدكم . رواه البخري

“Berdirilah kamu semua, hormatilah sayid kamu ini”.

Dalam kitab Syarhun Nawawi ‘Ala Shahih Muslim dijelaskan juga bahwa dengan jelas hadis tersebut membolehkan penghormatan terhadap seorang yang memiliki keutamaan dengan berdiri, kemudian menyambutnya saat beliau datang. Bahkan lebih detail lagi Imam Nawawi berkomentar jika perihal ini hukumnya mustahab, yaitu dianjurkan untuk mengormati orang saleh. Dikarenakan banyaknya hadis yang menegaskan akan perihal tersebut dan belum ada satu pun larangan tegas mengenainya.

Adapun yang munkar adalah berdiri untuk pengagungan. Berdirinya orang-orang yang sedang duduk untuk pengagungan, atau sekedar berdiri saat masuknya orang dimaksud, tanpa maksud menyambutnya atau menyalaminya, maka hal itu tidak layak dilakukan.

Yang buruk dari itu adalah berdiri untuk menghormat, sementara yang dihormat itu duduk. Demikian ini bila dilakukan bukan dalam rangka menjaganya tapi dalam rangka mengagungkannya. Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Saw. bahwa hal ini tidak boleh dilakukan. Karena itu Nabi Saw. menyuruh para sahabatnya untuk duduk ketika beliau shalat sambil duduk, beliau menyuruh mereka supaya duduk dan shalat bersama beliau sambil duduk.

Setelah shalat tersebut, Rasulullah bersabda:

Artinya : Hampir saja tadi kalian melakukan seperti yang pernah dilakukan oleh bangsa Persia dan Romawi, mereka (biasa) berdiri untuk para raja mereka sementara para raja itu duduk” (Hadits Riwayat Muslim dalam Ash-Shalah).



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here