Hukum Berdakwah di Media Sosial, Perhatikan Dua Hal Penting Ini

0
1189

BincangSyariah.Com – Di antara kewajiban yang sering kali dilalaikan adalah berdakwah mengajak umat ke arah yang lebih baik dalam pandangan agama. Kewajiban ini telah difirmankan oleh Allah SWT:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah diantara kalian terdapat umat yang menyeru kepada kebajikan, memerintahkan kepada hal yang baik dan mencegah dari kemungkaran. Merekalah orang-orang yang beruntung“ (QS. Ali Imran; 104).

Di era  sekarang  menyebarkan  syari’at  islam  sebagai bentuk dakwah sangatlah  mudah, salah satunya  dengan menyebarkan video lewat Youtube atau media sosial lainnya. Penyebaran, menonton serta me-like video atau konten tulisan yang digunakan sebagai sarana dakwah dapat dibenarkan dengan ketentuan sebagai berikut:

Pertama, isi Konten dan tujuannya tidak bertentangan dengan syariat. (Baca: Dai Tak Paham Al-Qur’an dan Hadis, Bolehkah Berdakwah?)

Isi dan tujuan tidak bertentangan dengan aturan hukum Islam. Para dai harus berkompeten dan mengetahui secara penuh tentang apa yang akan disampaikan dalam dakwahnya, agar isi yang disampaikan sesuai ajaran Nabi. Dalam al-Mausu’ah al-fiqhiyah al-Kuwaitiyah (juz 20 vol.330) disebutkan:

وَإِنَّمَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ الدَّاعِي عَالِمًا بِمَا يَدْعُو إِلَيْه

“Selayaknya seorang dai harus mengetahui penuh tentang hal yang disampaikanya”.

Pengetahuan sorang dai harus sesuai dengan ajaran dari Al-Qur’an dan Hadis. Untuk memahami keduanya dipastikan membutuhkan perantara melalui karya para ulama terdahulu. Dalam Tanwir al-Qulub vol.29 disampaikan :

وَمَنْ لَمْ يُقَلِّدْ وَاحِدًا مِنْهُمْ وَقَالَ أَنَا أَعْمَلُ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مُدَّعِيًا فَهْمَ الْأَحْكَامِ مِنْهُمَا فَلَا يُسَلِّمُ لَهُ بَلْ هُوَ مُخْطِءٌ ضَالٌّ مُضِلٌّ سِيَمَا فِى هَذَا الزَّمانِ الَّذِىْ عَمَّ فِيْهِ الْفِسْقُ وَكَثُرَتْ فِيْهِ الدَّعْوَى الْبَاطِلَةُ

“Barang siapa tidak mengikuti pemikiran ulama terdahulu dan berkata: “Saya mengamalkan Al-Qur’an dan Hadis serta mengaku memahami hukum yang terdapat pada Al-Qur’an dan Hadis, maka orang tersebut tidak selamat bahkan ia salah, sesat dan menyesatkan, apalagi di era sekarang banyak orang fasik dan banyak dakwah yang sesat.”

Kedua, tidak menimbulkan fitnah. Fitnah dalam konteks ini diartikan sebagai segala bentuk gambaran, provokasi dan doktrin yang menimbulkan perselisihan dan perpecahan umat. Abu Said Muhammad bin Muhammad al-Khadimi dalam karyanya Bariqoh Mahmudiyah fi-Syarhi Thoriqoh Muhammadiyah wa Syari’ah Nabawiyah (juz 4 vol.270) mempertegas arti fitnah sebagai berikut:

Baca Juga :  Ini Akibat Berbangga dengan Postingan Kemaksiatan di Media Sosial

 الثَّامِنُ وَالْأَرْبَعُونَ الْفِتْنَةُ وَهِيَ إيقَاعُ النَّاسِ فِي الِاضْطِرَابِ أَوْ الِاخْتِلَالِ وَالِاخْتِلَافِ وَالْمِحْنَةِ وَالْبَلَاءِ بِلَا فَائِدَةٍ دِينِيَّةٍ وهُوَ حَرَامٌ لِأَنَّهُ فَسَادٌ فِي الْأَرْضِ وَإِضْرَارٌ بِالْمُسْلِمِينَ وَزَيْغٌ وَإِلْحَادٌ فِي الدِّينِ

“Keempat puluh adalah fitnah, yaitu menjatuhkan (menyebabkan) manusia (masyarakat umum) dalam kebingungan, perpecahan, perselisihan dan malapetaka tanpa nilai positif dalam agama. Hal ini diharamkan karena menimbulkan kerusakan di bumi, membahayakan terhadap kaum muslimin dan penyimpangan dalam agama.”

Nabi saw. mengancam mereka yang menyulut fitnah, sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik:

الْفِتْنَةُ نَائِمَةٌ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ أَيْقَظَهَا

“Fitnah itu tertidur, Allah melaknat orang yang menyulutnya.”            

Fatawa al-Azhar (juz 1, vol.164) menambahkan satu hal penting sebagai berikut:

فَمَا كَانَ مِنْ هَذِهِ الْأُمُوْرِ وَالْمَوَادِّ حَلَالًا فِى أَصْلِهِ ، وَلَمْ يُؤَثِّرْ تَأْثِيْرًا سَيِّئًا عَلَى الْعَقِيْدَةِ أَوِ الْأَخْلَاقِ ، وَلَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ ضِيَاعُ وَاجِبٍ كَانَ السِّمَاعُ حَلَالاً وَالْمُشَاهَدَةُ أَيْضًا حَلالًا، وَمَا خَالَفَ ذَلِكَ كَانَ مَمْنُوْعًا

“Hal ini (menonton televisi/video) pada dasarnya halal, apabila tidak berdampak buruk terhadap aqidah atau kepribadian serta tidak membuat  terbengkalainya kewajiban maka mendengarkan dan menyaksikan hukumnya halal. Apabila sebaliknya maka dicegah (dilarang).”

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here