Hukum Berciuman Bibir Saat Puasa, Apakah Puasa Batal?

1
32

BincangSyariah.Com – Ketika sedang berpuasa, biasanya seseorang berusaha untuk tidak bercumbu dan berciuman dengan pasangannya. Namun adakalanya berciuman dengan pasangan bisa saja terjadi saat berpuasa, bahkan sampai berciuman bibir. Lantas bagaimana hukum berciuman bibir saat sedang berpuasa, apakah puasa batal?

Menurut para ulama, hukum berciuman bibir dengan pasangan, baik suami atau istri, itu tidak membatalkan puasa selama ciuman tersebut tidak sampai mengeluarkan sperma atau inzal. Sebaliknya, jika mengeluarkan sperma, maka puasanya batal.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Mawardi dalam kitab Al-Hawi Al-Kabir berikut;

أما إن وطئ دون الفرج أو قبل أو باشر فلم ينزل فهو على صومه لا قضاء عليه ولا كفارة، وإن أنزل فقد أفطر ولزمه القضاء إجماعا

Jika seseorang mewathi’ selain farji’, atau berciuman dan bermesraan tanpa ada sperma yang keluar, maka puasanya tetap dinilai sah, tak perlu diqadha dan tak perlu membayar kafarat. Namun jika spermanya keluar, maka puasanya batal dan wajib mengqadha puasa tersebut menurut kesepakatan para ulama.

Di antara dalil yang dijadikan dasar bahwa berciuman tidak membatalkan puasa adalah hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Sayidah Aisyah, dia berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَلَكِنَّهُ كَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ

Nabi Saw pernah mencium sedangkan beliau berpuasa, dan beliau pun pernah bercumbu sedangkan beliau berpuasa, tetapi beliau lebih dapat menahan nafsunya.

Meski berciuman tidak membatalkan puasa, namun menurut para ulama, sebaiknya hal itu tidak dilakukan karena sangat berpotensi membangkitkan syahwat. Dan, berciuman yang membangkitkan syahwat saat berpuasa hukumnya adalah haram. Ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ berikut;

ومن حركت القبلة شهوته كره له أن يقبل وهو صائم والكراهة كراهة تحريم وان لم تحرك شهوته قال الشافعي فلا بأس بها وتركها أولي

Jika berciuman membangkitkan syahwat seseorang, maka dimakruhkan baginya berciuman dalam keadaan berpuasa. Makruh disini adalah makruh tahrim atau haram. Jika berciuman tidak membangkitkan syahwatnya, menurut Imam Al-Syafi’i, maka hal itu tidak masalah namun meninggalkan berciuman tetap lebih utama.

1 KOMENTAR

  1. Assalamualaikum ustadz, maaf sebelumnya. Disertai salam hormat, sya ingin bertanya, kenapa tidak ditampilkan keterangan bahwa قبّل dlm hadis, memang bermakna “cium bibir” dlm istilah kita. Artinya, bisa jadi maknanya bukan demikian. Sehingga mungkin harus menyertakan keterangan/referensi.
    Atau mungkin ada hadis lain yang menerangkan bahwa yg dimaksud قبّل dlm hadis di atas adalah “cium bibir”.

    Ala kulli hal, Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here