Hukum Belajar Ilmu Tajwid untuk Membaca Al-Qur’an

0
565
BincangSyariah.Com – Belajar ilmu tajwid merupakan perantara bagi kita untuk membaca Al-Qur’an yang baik dan benar. Terlebih lagi membaca Al-Qur’an merupakan ibadah tersendiri bagi para pembacanya. Namun, untuk membaca Al-Qur’an yang baik dan benar, kita perlu belajar ilmu tajwid. Apa itu ilmu tajwid? Menurut Syekh Thaha ‘Abdur Rouf Sa‘d dalam Nihayatu Qaulil Mufid, mempelajari tajwid itu membutuhkan keterampilan dalam 4 hal. Pertama, keterampilan memahami makhraj huruf atau tempat artikulasi. Kedua, keterampilan memahami sifat-sifat huruf. Ketiga, keterampilan memahami hukum-hukum bacaan, seperti iqlab, izhar, dan sebagainya. Keempat, melatih mulut untuk terus mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an sesuai arahan dari guru yang mumpuni. Selain itu, pengarang Nihayatu Qaulil Mufid tersebut membagi hukum mempelajari ilmu tajwid menjadi dua sebagaimana berikut:

أما حكم تعلمه فهو فرض كفاية بالنسبة إلى عامة المسلمين أي إذا تعلمه علماء الدين وعلماء القرآن سقط فرضه عن الباقين.

Artinya: Hukum mempelajari ilmu tajwid itu fardu kifayah bagi seluruh umat Muslim. Artinya, jika pemuka agama atau ulama ahli Al-Qur’an sudah mempelajarinya, maka kewajiban umat Muslim lainnya itu gugur.

أما بالنسبة إلى علماء الدين وطلابه وعلماء القراءة فهو فرض عين فيجب عليهم جميعا يأثم تاركه منهم ويتعرض لعقاب الله

Artinya: Terkait ulama, pelajar agama, ahli Al-Qur’an, itu wajib bagi mereka (mempelajari ilmu tajwid) yang mana mereka bisa berdosa bila tidak menerapkan ilmu tajwid dan akan mendapat siksa Allah. Syekh Muhammad ibnu al-Jazari dalam matn al-Jazariyyah berpendapat:

 والأخذ بالتجويد حتم لازم    من لم يجود القرآن آثم

Memakai tajwid itu wajib hukumnya # siapa yang tidak bertajwid dalam (membaca) Al-Qur’an itu dosa. Sejalan dengan pendapat di atas, Imam al-Ghazali menyatakan pendapat serupa dalam Ihya ‘Ulumuddin sebagaimana berikut:
Baca Juga :  PCINU Tiongkok Usulkan Relasi Indonesia-Tiongkok Masuk Tema Debat Capres

والذي يُكثر اللحن في القرآن إن كان قادراً على التعلم فليمتنع من القراءة قبل التعلم فإنه عاص به

وإن كان لا يطاوعه اللسان فإن كان أكثر ما يقرؤه لحنا فليتركه وليجتهد في تعلم الفاتحة وتصحيحها

وإن كان الأكثر صحيحاً وليس يقدر على التسوية فلا بأس له أن يقرأ

ولكن ينبغي أن يخفض به الصوت حتى لا يسمع غيره، ولمنعه سراً منه أيضاً وجه

ولكن إذا كان ذلك منتهى قدرته وكان له أنس بالقراءة وحرص عليها فلست أرى به بأساً

Artinya: Seseorang yang sering keliru dalam (membaca) Al-Qur’an itu bila dia masih mampu belajar, maka tidak boleh membaca Al-Qur’an sebelum ia belajar, karena itu berdosa. Jika memang fungsi lisannya sudah tidak mampu (membaca dengan baik), jika memang kekeliruannya banyak, maka tidak usah membaca, dan (utamakan) belajar dan memperbaiki al-Fatihah dengan sungguh-sungguh. Tapi jika lebih banyak bacaan yang benar, dan ia belum mampu menyamai (bacaan sesuai tajwid), maka ia boleh membacanya. Akan tetapi seyogianya ia memelankan bacaan sampai orang lain tidak mendengar. Bahkan terdapat pendapat yang melarangnya untuk membaca secara pelan sekalipun. Tapi jika memang itulah kemampuan maksimalnya, dan dia ingin sekali membaca Al-Qur’an, maka itu tidak apa-apa menurutku. Dari pemaparan Imam al-Ghazali ini, ada beberapa poin yang dapat kita catat. Pertama, belajar tajwid dengan baik, apalagi bagi yang masih muda, itu wajib hukumnya. Seseorang tidak boleh membaca Al-Qur’an apabila ia tidak mau belajar ilmu tajwid. Bila sudah belajar sungguh-sungguh, namun sudah tidak mampu sefasih orang Arab, maka itu tidak masalah. Kedua, Imam al-Ghazali mewanti-wanti bagi yang belum bisa baca Al-Qur’an dengan baik itu untuk membacanya secara keras-keras, karena dikhawatirkan banyak kekeliruan membaca.
Baca Juga :  Tuhan Menjamin Rezekimu
Bila membaca secara keras untuk diri sendiri saja tidak boleh, apalagi mengajarkan ke orang lain bukan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here