Hukum Bekerja di Kantor Pajak dan Bea Cukai dalam Islam

2
1023

BincangSyariah.Com – Bagaimana menjawab pertanyaan, apa hukum bekerja di kantor pajak dalam Islam? Jawabannya, jika kita cermati bahwa relasi pajak terhadap negara merupakan relasi akad muwathanah (kesepakatan sipil) sehingga menimbulkan hubungan kelaziman antara negara dan warga, dan cukai yang berangkat dari rumpun akad dhoman disebabkan karena faktor berikatannya antara pihak yang merugikan dengan masyarakat, maka bekerja di dua kantor tesebut justru merupakan ladang berjuang dalam menegakkan keadilan. Allah SWT berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ  النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

“Sesungguhnya Allah SWT senantiasa memerintahkan kalian agar menunaikan amanat kepada ahlinya. Saat kalian menghukumi perkara di antara manusia, maka berhukumlah dengan cara yang adil.” (Q.S. An-Nisa [4]: 58)

Sebab turunnya ayat di atas, berdasarkan riwayat dengan sanad dari Zaid bin Aslam, Syahr, dan Ali bin Abi Thalib, adalah berbicara mengenai tugas wulatu al-amri (para pengemban urusan). Sayyidina Ali karramallahu wajhah, menegaskan, seperti dikutip oleh al-Imam Ibn Jarir At-Thabari dalam tafsirnya,

حقٌّ على الإمام أن يحكم بما أنـزل الله، وأن يؤدِّيَ الأمانة، وإذا فعل ذلك، فحقّ على الناس أن يسمعوا، وأن يُطيعوا، وأن يجيبوا إذا دُعوا

“Merupakan wewenang bagi pemimpin untuk berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, menunaikan amanah yang diembannya, dan saat ia sudah menunaikan hal tersebut, maka kewajiban bagi manusia adalah mendengarnya, mentaatinya dan melaksanakan perintahnya.”

Sahabat yang mendapat gelar sebagai Turjumanu al-Qur’an, Ibn Abbas radliyallahu ‘anhuma menyampaikan bahwa ayat ini berbicara mengenai wewenang penguasa dalam menjaga hak kaum istri (nisa’). Hak tersebut adalah berkaitan dengan nafkah yang wajib dterima olehnya.

Dengan demikian, dapat digarisbawahi bahwa selain ayat berbicara mengenai tugas wulatu al-amri, ayat juga berbicara mengenai intervensi pemerintah dalam pengaturan nafkah. Sementara pajak (sebagaimana pembahasan sebelumnya), adalah merupakan salah satu rumpun dari nafkah karena relasi akad kelaziman, yaitu muwathanah (sebagai warga negara). Alhasil, bertindak selaku petugas (petugas) perpajakan, adalah dapat diqiyaskan dengan intervensi pemerintah terhadap nafkah.

Peran petugas pajak disamakan dengan peran qadli atau orang yang dipercaya (amin muwallin) menjaga kedua sumber pemasukan bagi negara yang berpotensi digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Peran penjagaan ini meliputi banyak hal, di antaranya sebagai petugas pajak, maka ia bertindak selaku penghimpun, penarik, penghitung, dan penengah sengketa pajak. Demikian halnya terhadap cukai, maka peran selaku petugas pabean dalam hal ini adalah bertindak selaku penghitung, penarik, penghimpun dan penengah sengketa cukai. Keempat peran ini bisa saja ditambah dengan peran penyalur (tasharruf), seiring kedua petugas tersebut merupakan yang berhubungan langsung dengan masyarakat wajib pajak dan pedagang yang melakukan tindakan wan prestasi tak langsung.

Baca Juga :  Hikmah Disyariatkannya Akad Salam

Secara sekilas, Abu Ja’far al-Thabari, menyampaikan,

وأولى هذه الأقوال بالصواب في ذلك عندي، قولُ من قال: هو خطاب من الله ولاةَ أمور المسلمين بأداء الأمانة إلى من وَلُوا أمره في فيئهم وحقوقهم، وما ائتمنوا عليه من أمورهم، بالعدل بينهم في القضية، والقَسْم بينهم بالسوية. يدل على ذلك ما وَعظ به الرعية (44) في: أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ ، فأمرهم بطاعتهم، وأوصى الرّاعي بالرعية، وأوصى الرعية بالطاعة

“Dari semua model penafsiran di atas, penafsiran yang tepat dalam pandanganku adalah sesuai dengan penafsiran ulama yang menyatakan bahwa ayat yang berisikan pesan agar menunaikan amanat kepada ahlinya, tersebut merupakan perintah Allah kepada para pemegang urusan kaum muslimin agar 1) menunaikan amanat yang disandangnya kepada pihak yang berhak menerimanya/melaksanakannya, 2) menunaika tugas yang diamanahkan oleh mereka kepadanya, 3) bersikap adil dalam keputusan, 4) melakukan pembagian secara sama rata, 5) menunjukkan hal-hal yang demikian itu kepada rakyat dan menganjurkannya agar senantiasa taat kepada Allah, rasul-Nya, dan ulul al-amri. Memerintahkan agar mereka mematuhinya, saling berwasiat antara rakyat dan pemimpinnya.”

Memang tugas yang disitir dalam pandangan di atas ini, sifatnya hanyalah mafhum semata sehingga berlaku sebagai dalil keumuman. Dan itu wajar, karena pendapat itu dijelaskan dalam kitab tafsir.

Untuk mendapatkan pengertian tugas yang lebih khusus, barangkali kita bisa meminjam penjelasan tugas dan wewenang amil zakat. Sebab petugas pajak dan cukai dengan amil zakat ini memiliki kemiripan yaitu, 1) sama-sama bertindak selaku pelaksana sempurnanya kewajiban. Hanya saja, untuk zakat, maka amil itu bertindak selaku penyempuna kewaiban yang ditetapkan syar’i, sementara amil dalam konteks pajak dan cukai adalah penyempurna kewajiban tugas negara (tanfidh). 2) sama-sama diangkat pemerintah, dan 3) sama-sama bertugas dengan obyek tugas berupa memungut harta.

Baca Juga :  Apa Status Anak Hasil Kawin Kontrak ?

Al-Qadhi Abdul Haq bin Ghalib al-Andalusi al-Maliki (481-543 H/1088-1147 M) dalam tafsirnya, al-Muharrar al-Wajiz, menjelaskan tugas amil adalah,

وَأَمِّا الْعَامِلُ فَهُوَ الرَّجُلُ الَّذِي يَسْتَنِيبُهُ الْإِمَامُ فِي السَّعْيِ فِي جَمْعِ الصَّدَقَاتِ وَكُلُّ مَنْ يَصْرِفُ مِنْ عَوْنٍ لَا يُسْتَغْنَى عَنْهُ فَهُوَ مِنَ الْعَامِلِينَ

“Amil adalah seorang laki-laki yang diangkat sebagai wakilnya imam yang bertindak selaku pengumpul shadaqat (zakat) atau semua pihak yang bertindak selaku penyalur karena membantu tugas yang tidak bisa dilaksanakan sendir oleh amil, adalah termasuk bagian dari amil.”

Dari penjelasan ini, setidaknya kita dapati bahwa yang batasan utama petugas yang memiliki wewenang menarik dan memungut zakat [baca: pajak dan cukai ] secara syar’i adalah mereka yang menjadi kepanjangan tangan Imam / pemerintah. Tanpa syarat ini, maka pungutan itu tidak bisa dikategorikan sebagai pajak atau cukai, melainka risywah (suap) atau pungutan liar (pungli /al-maks).

Di dalam Kitab Asna al-Mathalib Syarah Raudlu al-Thalib (j. 1 h. 395), disampaikan secara lebih rinci, bahwa tugas dan wewenang amil (pajak dan cukai) yang mendapat legalitas syara’ disebabkan akad kelaziman, adalah:

الصِّنْفُ (الثَّالِثُ الْعَامِلُ) وَإِنْ كَانَ غَنِيًّا (وَبَعَثَهُ) لِأَخْذِ الزَّكَوَاتِ (وَاجِبٌ) عَلَى الْإِمَامِ كَمَا مَرَّ بَيَانُهُ فِي بَابِ أَدَاءِ الزَّكَاةِ (وَيَدْخُلُ فِي اسْمِهِ السَّاعِي) وَهُوَ الَّذِي يَبْعَثُهُ الْإِمَامُ لِأَخْذِ الزَّكَوَاتِ (وَالْكَاتِبُ) وَهُوَ مَنْ يَكْتُبُ مَا يُؤْخَذُ وَيُدْفَعُ (وَالْقَاسِمُ وَالْحَاشِرُ) وَهُوَ الَّذِي يَجْمَعُ أَرْبَابَ الْأَمْوَالِ (وَالْعَرِيفُ) وَهُوَ الَّذِي يَعْرِفُ أَرْبَابَ الِاسْتِحْقَاقِ وَهُوَ كَالنَّقِيبِ لِلْقَبِيلَةِ (وَالْحَاسِبُ وَالْحَافِظُ) لِلْأَمْوَالِ وَالْجُنْدِيُّ وَالْجَابِي

“Asnaf ketiga adalah amil, kendati ia seorang yang kaya, yang diutus untuk memungut zakat [baca: pajak] secara wajib oleh Imam sebagaimana keterangan terdahulu dalam bab menunaikan zakat. Sebagai petugas yang diangkat, maka ia bisa dikategorikan sebagai al-sa’i, yaitu pihak pemungut zakat, al-katib, yaitu petugas pencatat zakat yang dipungut dan disalurkan, al-qasim (pembagi), al-hasyir yaitu petugas yang mengidentifikasi para pemilik harta, al-‘arif yaitu pihak yang mengidentifikasi para mustahiq (wilyah penyaluran), perannya layaknya al-naqib li al-qabilah (penggali informasi di masyarakat), al-hasib (penghitung) dan al-hafidh (penjaga) harta zakat [pajak] untuk militer, dan al-jabi (penyeleksi besaran zakat [pajak].”

Berdasarkan penjelasan ibarat ini, maka tugas dan wewenang petugas bea dan cukai ada 8, yang harus dilaksanakannya selaku kepanjangan tangan pemerintah dan menegakkan keadilan di dalamnya. Satu hal yang perlu dicatat adalah, karena tugas petugas pajak adalah selaku qadli, maka dia tidak boleh menerima hadiah, atau pemberian dari orang lain yang menjad wilayah tugasnya. Wallahu a’lam bi al-shawab.

2 KOMENTAR

  1. Pantesan dari dulu di saudi kagak ada pajak sekarang masya Allah malah naik 3xlipat karena tak ada keberekahan x. الله أعلم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here