Hukum Anak Hasil Zina Menjadi Muadzin

0
94

BincangSyariah.ComDalam sebuah daerah, pernah ada seorang anak yang tidak diperbolehkan untuk mengumandangkan adzan. Alasannya karena dia adalah anak hasil zina. Padahal secara kualitas suara, dia layak untuk menjadi muadzin. Sebenarnya, bagaimana hukum anak hasil zina menjadi muadzin dalam Islam? (Baca: Apakah Anak Hasil Zina Bisa Disebut Anak Yatim?)

Menurut kebanyakan para ulama, anak hasil zina hukumnya boleh menjadi muadzin. Tidak ada larangan bagi anak hasil zina untuk menjadi muadzin dalam Islam. Selama ia mampu dan layak menjadi muadzin, seperti suaranya bagus dan akhlaknya baik, maka ia boleh menjadi muadzin.

Di antara ulama yang mengatakan dengan tegas kebolehan anak hasil zina menjadi muadzin, juga imam shalat berjemaah, adalah Sayidah Aisyah. Beliau mengatakan bahwa anak hasil zina tidak bisa dihukum atas perbuatan dosa orang lain, termasuk orang tuanya. Selama dia bertakwa dan taat terhadap perintah Allah, maka dia akan menjadi orang terhormat di sisi Allah.

Begitu juga jika dia mampu dan layak untuk menjadi muadzin, maka dia boleh menjadi muadzin. Dia harus dinilai dari kualitas dirinya, bukan dari perbuatan dosa orang tuanya. Dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah disebutkan sebagai berikut;

وَقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: لَيْسَ عَلَيْهِ مِنْ وِزْرِ أَبَوَيْهِ شَيْءٌ، وَقَدْ قَال اللَّهُ تَعَالَى:وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَقَال تَعَالَى إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sayidah Aisyah berkata; Tidak ada baginya (anak hasil zina) dosa atas perbuatan dosa kedua orang tuanya. Allah telah berfirman; Seseorang tidak menanggung dosa orang lain. Dan Allah juga berfirman; Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling takwa.

Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah, anak hasil zina boleh menjadi muadzin. Hanya saja, menurut ulama Hanafiyah, yang lain lebih utama dibanding anak hasil zina. Hal ini karena adzan merupakan perbuatan mulia sehingga sebaikanya diberikan kepada orang yang mulia dan pilihan.

Baca Juga :  Bolehkah Mengumandangkan Azan di Luar Waktu Shalat? Ini Penjelasannya

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

يَرَى الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ أَنَّهُ يَجُوزُ اتِّخَاذُ وَلَدِ الزِّنَى مُؤَذِّنًا، فَقَدْ نَصَّ الْحَنَفِيَّةُ عَلَى أَنَّهُ يَجُوزُ أَذَانُ وَلَدِ الزِّنَى، لِحُصُول الْمَقْصُودِ بِهِ وَهُوَ الإْعْلاَنُ لَكِنَّ غَيْرَهُ أَوْلَى، لأِنَّ الْغَالِبَ عَلَيْهِ الْجَهْل، وَلأِنَّ الأْذَانَ ذِكْرٌ مُعَظَّمٌ فَيُخْتَارُ لَهُ مَنْ يَكُونُ مُحْتَرَمًا فِي النَّاسِ مُتَبَرَّكًا بِه لِحَدِيثِ: لِيُؤَذِّنَ لَكُمْ خِيَارُكُمْ وَلِيَؤُمَّكُمْ قُرَّاؤُكُمْ

Ulama Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa boleh menjadikan anak hasil zina sebagai muadzin. Ulama Hanafiyah telah menegaskan kebolehan anak hasil zina mengumandangkan adzan karena tujuan adzan, yaitu memberitahu, bisa dicapai. Akan tetapi selain anak hasil zina lebih utama karena umumnya anak hasil zina bodoh. Juga karena adzan merupakan dzikir yang agung sehingga perlu diberikan pada orang yang dimuliakan oleh masyarakat dan bisa diambil berkahnya, berdasarkan hadis; Hendaknya adzan pada kalian orang-orang pilihan di antara kalian, dan mengimami pada kalian orang-orang yang pandai membaca Al-Quran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here