Hubungan Antara Nikmat dan Niqmat

0
555

BincangSyariah.Com – Nikmat dan niqmat sekilas terlihat sama, letak perbedaannya hanya pada satu huruf saja. Namun makna dari keduanya sangatlah berlawanan. Jika nikmat digunakan untuk keadaan yang baik dan menunjukkan pada kepuasan atau sesuatu yang menyenangkan hati, maka niqmat adalah antonimnya. Niqmat adalah ancaman atau sikap menentang disertai kemarahan. Layaknya Allah akan menentang perbuatan dosa dan maksiat, lantas Allah memberikan adzab yang pedih. Seperti itulah yang didefinisakan oleh Syaikh Al Manawi

النقمة عقوبة المجرم مبالغة

Niqmat ialah sanksi siksa yang berat sebagai akibat dari melanggar aturan atau tidak mematuhi perintah

Meskipun di antara keduanya memiliki makna yang sangat bertentangan, namun antara  nikmat dan niqmat memiliki keterkaitan. Niqmat bisa dijatuhkan sebab oleh nikmat. Bagaimana bisa nikmat membawa dampak buruk pada  niqmat? Yatiu ketika seseorang sudah dianugerahkan nikmat oleh Allah, melainkan ia tidak menggunakannya dengan sebaik mungkin, atau bahkan melakukan penyelewengan perbuatannya sendiri.

Allah menurunkan berbagai nikmat kepada hamba-Nya agar dapat merasakan kenyamanan dan kemudahan serta memperkokoh pondasi keimananya, bukan untuk disalahgunaka dalam maksiat kepada-Nya. Atau bukan juga untuk merugikan orang lain. Nikmat yang seperti itulah yang bisa mendatangkan niqmat, sebuah niqmat yang hadir sebab kesalahannya sendiri. Dalam QS Al Anfal disebutkan:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۙ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

Keterkaitan antara nikmat dan niqmat tersebut bisa menjadi bagi siapa yang tidak bisa menjaga nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah dalam hidupnya. Namun jika kita bisa memaksimalkan dayaguna dan kebermanfaatan nikmat Allah untuk orang lain dan untuk diri sendiri, maka nikmat tetaplah menjadi nikmat. Tidak akan berubah menjadi niqmat yang menakutkan itu.

Baca Juga :  Doa Mohon Tambahan Nikmat

Untuk bisa menjaga konsistensi nikmat Allah, tentunya kita harus pandai-pandai bersyukur. Orang yang bersyukur tentu akan mengerti akan dibawa kemana arah nikmat tersebut. Tidak akan diselewengkan dan tidak merugikan orang lain tentunya. Semua nikmat Allah untuk kebaikan sebagai wujud syukur kepada Allah. dengan begitu, nikmat akan melahirkan sikap dan perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada orang lain. Dengan cara begitu, niqmat tidak akan hadir dalam berbagai nikmat kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here