Hubungan antara Ilmu dan Akhlak

0
1709

BincangSyariah.com – Tidak semua orang berilmu itu berakhlak, begitu juga tidak semua orang berakhlak pasti berilmu. Ilmu dan akhlak adalah dua entitas yang berbeda walaupun tetap memiliki hubungan yang sangat erat. Jika diibaratkan pada manusia, maka ilmu adalah laki-laki sementara akhlak adalah wanita. Ilmu adalah Bapak dan akhlak Ibunya. (Baca: Ini Akhlak Mulia Nabi Muhammad yang Disebutkan dalam Kitab Taurat)

Dalam keseharian, sering kita menyaksikan orang awam, mereka tidak berilmu dan tidak berpendidikan tapi memiliki akhlak yang sangat baik. Mereka sangat tawadhu, sopan dan rendah hati. Orang-orang dengan tipe ini, memiliki tiga kemungkinan. 

Pertama, mereka mendapatkan didikan secara langsung dari kedua orang tua dan lingkungan sekitarnya. Didikan itu dapat berupa nasihat ketika melakukan kesalahan dan juga teladan dalam keseharian. Hal-hal baik yang dilakukan oleh orang tua dan lingkungannya telah pula mengaktifkan aspek psikomotoriknya berupa peniruan-peniuran yang kemudian menjadi sebuah kebiasaan yang alami. Karenanya, terbentuklah karakter tawadhu, rendah hati  dan pengagungan terhadap norma-norma kesopanan yang berlaku.

Kedua, mereka memang terlahir sebagai orang baik. Apakah ada orang yang terlahir sebagai orang baik dalam arti sejak lahir memang sudah baik? Menurut teori genetika, kedua orang tua yang berkulit putih sangat mungkin (hampir pasti) memiliki keturunan berkulit putih. Bila kedua orang tuanya baik, sangat mungkin (hampir pasti) akan mewariskan sifat yang baik bagi anak-anaknya dengan asumsi tidak ada hal-hal lain yang mempengaruhi sifat anak tersebut.

Dalam kenyataan, sering kita bertemu dengan orang berkarakter sabar, lembut, penyayang dan perhatian. Padahal, secara ilmu agama dia pas-pasan. Pendidikan umum bahkan tidak sampai sarjana. Tapi kenapa mereka bisa sebaik dan sesopan itu? Salah satu faktornya adalah karena mereka memang terlahir membawa sifat baik kedua orang tuanya yang diwariskan melalui gen di dalam tubuhnya.

Baca Juga :  Idul Fitri berarti Kembali Kepada Kebahagiaan Sejati

Ketiga, mereka menyadari keawamannya. Oleh karenanya, mereka cenderung menganggap orang lain lebih pintar, lebih alim dan berilmu. Dalam memandang orang lain, yang menjadi ukurannya adalah dirinya sendiri yang dianggap tidak tau apa-apa. Dari situ timbul sifat rendah hati. Tidak pernah menonjolkan diri diatas orang lain. Lebih banyak mendengar daripada berbicara karena menganggap pendapat orang lain lebih bagus karena keluar dari orang-orang yang dianggapnya lebih pintar.

Kebiasaan mereka yang menempatkan dirinya selalu di bawah orang lain pada akhirnya membentuk budi pekerti yang baik (akhlak). Hanya saja, akhlak ini terkadang bersumber dari semacam sifat tidak percaya diri bersosialisasi dengan orang lain. Namun demikian, merasa dirinya memiliki lebih banyak kekurangan dibanding orang lain tetaplah merupakan satu sifat yang baik yang perlu dilestarikan dan dikembangkan.

Sebagaimana kita sering menyaksikan orang awam dengan akhlak yang mengagumkan, kita juga sering bertemu orang-orang berilmu yang tak berakhlak. Perilaku mereka tidak mencerminkan seseorang yang pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Mereka berbicara dimana-mana, menjual dalil dan teori padahal kehidupan mereka jauh dari apa yang mereka ucapkan. Terhadap orang seperti ini Allah memperingatkan terhadap murka-Nya “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3).

Mereka tidak memiliki kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama karena orientasi mereka hanya kepentingan pribadi dan keluarganya, bersikap kasar terhadap orang lain kecuali yang dianggap dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingannya, merasa paling benar, paling berilmu, paling layak, dan lain sebagainya. Perasaan semacam ini telah mengekalkan mereka dalam kehinaan sambil terus merasa sebagai orang baik yang patut diteladani.

Baca Juga :  Non-Muslim Tak Perlu Dipanggil Kafir, Ini Alasannya

Inilah bid’ah mengerikan yang menimpa orang berilmu hal mana telah diperingatkan oleh seorang ulama bernama Sufyan Ats Tsauri rahimahullah. Beliau mengatakan “Bid’ah lebih disenangi oleh iblis daripada maksiat karena pelaku maksiat akan bertaubat darinya sedangkan pelaku bid’ah tidak akan bertaubat darinya.” (Majmu’ Fatawa :11/472). Ya, orang berilmu yang memiliki sifat-sifat seperti diatas, tidak menyadari kekeliruan mereka. Bahkan mereka memandang hal itu sebagai sesuatu yang benar.

Selain itu, ada orang berilmu yang kurang berakhlak karena faktor lupa. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan :

الإنْسَانُ مَحَلُّ الْخَطَأ وَالنِّسْيَانِ

Manusia itu tempatnya salah dan lupa

Oleh karena itu, tidak peduli siapapun pasti pernah melakukan kesalahan akibat sifat lupa yang melekat pada diri manusia. Sebagaimana sabda Nabi Saw :

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Setiap anak Adam mempunyai kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah bertaubat”. (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah).

Dalam sejarahnya, Rasulullah Saw. pernah ditegur oleh Allah Swt karena sikap beliau terhadap Abdullah bin Ummi Maktum. Dilatarbelakangi keinginan yang sangat kuat untuk mengislamkan Utbah bin Rabi’ah, Amr bin Hisyam atau lebih dikenal dengan Abu Jahal, dan Walid bin Mughirah (ayah Khalid bin Walid). Pada suatu hari, Rasulullah mengadakan pertemuan dengan mereka. Rasulullah mengajak mereka memeluk agama islam. Ketika pertemuan sedang berlangsung, datanglah Abdullah Bin Ummi Maktum hendak belajar wahyu terbaru yang diturunkan oleh Allah.

Melihat Abdullah bin Ummi Maktum, beliau justru menunjukkan perasaan kurang senang dengan kedatangan sahabatnya tersebut karena dianggap akan mengganggu pertemuan beliau dengan pemuka-pemuka kafir quraisy. Sebab itu, Rasulullah memalingkan wajahnya dari Abdullah bin Ummi Maktum. Atas kejadian itu, maka turunlah surat abasa yang  merupakan teguran sekaligus pemberitahuan dari Allah bahwa memalingkan muka dan bermuka masam terhadap orang lain adalah tindakan yang tidak sejalan dengan tujuan diutusnya Rasulullah sendiri yaitu menyempurnakan akhlak yang mulia.

Baca Juga :  Benarkah Berulangnya Maksiat Melemahkan Hasrat Kebaikan?

Teguran Allah terhadap Rasulullah Saw sebenarnya agar kita, umatnya benar-benar memerhatikan masalah akhlak dan kesopanan dalam setiap sendi kehidupan kita. Allah ingin kita berfikir, kalau Rasulullah saja mendapat teguran seperti itu, bahkan sampai diabadikan di dalam al-qur’an maka bagaimana dengan kita yang hampir setiap hari berlaku tidak sopan terhadap sesama?

Dari uraian diatas, kita dapat menarik benang merah bahwa ilmu tidak selalu berbanding lurus dengan akhlak. Artinya, orang yang berilmu tidak secara otomatis berakhlak. Demikian pula orang yang berakhlak tidak secara otomatis dia pasti berilmu. Kesadaran ini pada gilirannya akan membuat orang berilmu lebih berdaya upaya mewujudkan akhlak yang mulia, baik pada dirinya sendiri maupun bagi orang lain di sekitarnya. Senada dengan ahli ilmu, orang yang sudah berakhlak tidak akan tertipu dengan hiasan akhlaknya. Dia akan terus berusaha menuntut ilmu dan menghilangkan bentuk stagnasi pemikiran pada diri dan lingkungan sekitarnya. Wallohu a’lam bisshowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here