BincangSyariah.Com – Fenomena Homoseksual dalam beberapa hari terakhir ini sempat menjadi trending topik dan hangat diperbincangkan. Setidaknya topik tersebut menarik untuk menjadi pembahasan, tidak hanya dipandang dalam segi hukum positif atau konvensiaonal saja, namun juga cukup menarik bila dibaca dari sudut pandang fikih sebagai instrumen pendekatan yang menjadi domain kajian fukaha kekinian untuk semakin memperkaya khazanah literasi keislaman.

Bila kita lihat sejarah keislaman maka banyak orang yang mengidentikkan homoseksual dengan kisah kaum Tsamud yang merupakan kaum yang ada masa Nabi Luth. Kaum Nabi Luth diazab Tuhan akibat mereka melegalkan tindakan yang abnormal  yakni berupa sodomi yang belakangan ini dikenal dengan nama anal seks.

Dalam literatur fikih, anal seks dikategorikan sebagai zina dalam hukum Islam. Ulama mengkategorikan zina tersebut tergantung status pelakunya. Apabila seorang suami melakukan anal seks terhadap istrinya, atau seorang pria melakukan anal seks terhadap pria lain yang keduanya sama-sama belum menikah, maka itu termasuk zina ghair muhshan (bukan zina muhsan). Namun hal itu tetap termasuk dosa besar. Apabila pelakunya sudah menikah dan melakukannya bukan dengan pasangannya (istrinya) maka itu termasuk zina muhsan. Oleh karena itu, ulama empat mazhab sepakat atas keharaman perbuatan tersebut berdasarkan Alquran (Baca: Apakah Anal Seks Termasuk Zina?). Allah berfirman:

“Dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (ingatlah) tatkala Dia berkata kepada mereka: “mengapa kamu melakukan perbuatan Fahisyah (mejijikkan) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kamu?  Sesungguhnya kamu telah mendatangi lelaki untuk melepasakan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malahan kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 80-81). 

Selain itu disebutkan dalam hadis mutawatir yang di antaranya diriwayatkan Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: “Allah Azza wa jalla tidak akan melihat lelaki ‘yang mendatangi’  perempuan dalam duburnya” (HR. An-Nasa’i). Hadis ini secara kaidah Ushul Fikih menunjukkan hukum haram meski yang disodomi adalah perempuan bahkan istri sendiri. Lebih dari itu dalam keharamannya (qiyas aulawi), apabila ada seorang lelaki melakukan seks anal terhadap lelaki lain.

Baca Juga :  Fikih Ekonomi (3): Kepemilikan Harta dan Pemanfaatannya

Dalam sebagian literatur fikih klasik tak jarang terkait perilaku homoseksual (Liwath) dikhususkan dalam satu bab, hal ini tidak lain untuk menunjukkan bahwa masalah ini cukup mendapat perhatian dalam diskursus keagamaan lebih spesifiknya fikih. Kitab Matn Abi Syuja’ secara ekstrinsik menyebutkan bahwa liwath dan men-sodomi binatang itu sama hukumnya dengan zina (haram), dan barangsiapa ‘mendatangi’ pada anggota selain farji (kelamin wanita) berhak untuk di-ta’zir.

Sebuah hadis secara tersurat menyebutkan dalam riwayat Sunan Kubro li an-Nasa’i bahwa Rasulullah melaknat orang yang berbuat kriminal seperti kaum luth dengan bersumpah sebanyak tiga kali. Ulama fikih pun tak ketinggalan berkomentar, Imam nawawi dikutip dalam al-fiqh ‘ala madzahib al-arba’ah menyebutkan kehinaan perbuatan homoseksual lebih hina dari apapun dan tidak patut dilakukan oleh manusia yang berakal, pelakunya layak mendapat siksaan teramat pedih di hari kelak.

Meski demikian, ulama empat mazhab berbeda pendapat mengenai sanksi yang harus diberikan terhadap pelaku homseksual atau (liwath). Mayoritas ulama berpendapat bahwa pelaku liwath yang bukan pada istrinya itu termasuk zina muhsan. Misalnya, ada seorang lelaki yang sudah menikah melakukan seks anal dengan wanita lain yang bukan istrinya atau pria lain yang bukan istrinya itu dalam hukum Islam mendapatkan hukum rajam. Namun demikian, pendapat mazhab Hanafi pelaku liwath tidak dapat dikategorikan sebagai zina, karena yang namanya zina itu hubungan seksual melalui jalur vagina, apalagi hadis terkait homoseksual ini tergolog hadis ahad. Oleh karena itu, Mazhab Hanafi berpendapat bahwa pelakunya cukup di-ta’zir tergantung keputusan hakim, bisa dengan hukum penjara ataupun lainnya. Inilah pendapat yang lebih ringan dan hati-hati.

Namun demikian, permasalahan kemudian akan timbul jika hukum semacam di atas diterapkan di negara ini. Dalam perspektif lain dari kubu reformis, progresif atau bahkan liberal melakukan reinterpretasi terhadap kisah kaum luth yang dijadikan titik tolak hukum fikih pada umumnya. Selain itu, mereka beranggapan bahwa negara tidak berhak masuk dalam ranah individu-individu seseorang terkait homoseksual dan semisalnya.

Baca Juga :  Pengkhianatan Anak Bangsa pada Negaranya: al-Maidah 51

Walaupun demikian, semoga uraian sedikit ini setidaknya menjadi titik ihtiyath (kehati-hatian) akan pemikiran yang cendereung lepas dan dapat meragukan hukum yang sudah di sampaikan ulama terdahulu. Allahu al-musta’an, Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here