Hoax Penganiayaan dan Peringkat Kebohongan

2
877

BincangSyariah.Com – Setelah memicu geger dan ketegangan karena mengaku menjadi korban penganiayaan, RS akhirnya mengakui semua itu kebohongan belaka. Segala hal terkait hoax penganiayaan adalah karangannya sendiri. Gampang ditebak. Kegegeran lanjutan segera menyusul dengan konstalasi berbeda, dalam bentuk tradisi khas netizen Indonesia; menggubah peristiwa konyol menjadi karnaval humor yang dipadati penyebaran beragam meme dan kalimat jenaka.

Apa masalah kelar sampai di situ? Perkara RS dengan hukum itu biar menjadi urusannya pribadi. Segala berita simpang siur mungkin sudah menjadi jelas. Tapi tentang efek sosial yang ditimbulkan, lengkap dengan segala keributan yang sudah terjadi, itu lain soal.

Kasus RS dan hoax penganiaayan tersebut menggambarkan sifat dasar komunikasi. Sekali terjadi ia tidak bisa ditarik lagi.

Kita bisa tak sengaja memecahkan gelas di rumah dan dengan mudah menggantinya dengan gelas baru. Lain perkara jika kita memecahkannya sambil melotot kepada pasangan. Sepuluh lusin gelas pengganti pun belum bisa mengganti dampaknya. Bahkan selesai bermaafan, peristiwa itu tetap mengendap di benak masing-masing. Sebab contoh kedua mengandung tindakan komunikasi. Kita berusaha menyampaikan pesan tertentu lewat perilaku melotot.

Demikian pula dalam kasus RS. Klarifikasi dan permintaan maaf sudah disampaikan. Tapi itu tidak bisa menghapus segala peristiwa yang terlanjur mewarnai hoax penganiayaan tersebut. Mulai dari sebaran desas-desus, aksi berbantahan yang dibumbui kata-kata kasar, sampai pernyataan para politikus yang terlanjur tendensius. Itu cuma sebagian contoh.

Peringkat kebohongan

Barangkali semua orang pernah berbohong dalam derajat tertentu. Secara umum kebohongan itu perilaku yang salah. Tapi tanpa bermaksud membenarkan perilaku bohong, masing-masing kebohongan bisa punya peringkat yang berbeda berdasar dampak sosial yang ditimbulkan.

Baca Juga :  Tiga Kebohongan yang Ditolerir dalam Hadis Nabi

Melakukan dengan terpaksa demi alasan keselamatan biasanya dianggap jenis kebohongan yang sewaktu-waktu bisa diperlukan. Melakukan kebohongan ringan dan sementara untuk tujuan bercanda mungkin bisa dimaklumi sebagai perbuatan wajar. Tapi jika sampai mencelakai orang lain, kebohongan macam ini bisa menjebloskan anda dalam kasus kriminalitas. Ini menunjukkan bahwa perilaku bohong punya konteks dan dampak sosialnya masing-masing.

Kebohongan, dilakukan oleh warga biasa seperti saya atau oleh pejabat publik, sama salahnya. Tapi efek sosialnya bisa berbeda. Pejabat publik berurusan dengan orang banyak. Ia punya tanggung jawab dan hak lebih besar ketimbang saya. Konsekuensinya, dampak sosial kebohongannya pun lebih besar.

Begitu juga dalam kasus RS. Ia tokoh publik yang perilakunya disorot media. Karena itu tanggung jawabnya juga lebih besar dari orang kebanyakan. Sebab perilakunya bisa berdampak pada hajat hidup orang banyak. Belum lagi faktor keterlibatannya dalam aktivitas politik yang tengah memanas jelang Pemilu 2019, yang membuat kebohongannya mustahil bisa dilepaskan dari urusan publik. Karenanya konsekuensi yang ia tanggung pun tidak kecil.

Kita berharap kasus RS ini menjadi pelajaran bagi para pejabat publik dan politikus yang ucapan dan tindak-tanduknya bisa mempengaruhi hajat hidup banyak orang. Terutama para politikus asal jeplak, yang kita tahu populasinya di Indonesia bukan cuma satu atau dua orang. Sekali mereka asal buka mulut, bisa saja ada pihak tak bersalah yang kena celaka.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here