Hindari Menunda Pekerjaan, Nasihat Imam Ibnu Ataillah untuk Memaksimalkan Waktu

0
1399

BincangSyariah.Com – Mewabahnya covid 19 (corona virus deseas 19) di Indonesia telah mendesak pemerintah mengeluarkan kebijakan physical distancing. Dilansir dari tirto.id (23/3), Presiden Jokowi telah menghimbau seluruh masyarakat untuk menjaga jarak fisik dengan orang lain agar dapat memutuskan mata rantai penyebaran virus ini. Sebagai konsekuensinya, masyarakat harus tinggal dirumah dan hanya boleh keluar jika ada kepentingan mendesak. Persoalan yang kemudian timbul adalah surutnya produktifitas karena terjadi anomali rutinitas yang serba mendadak. Lantas, bagaimana agar tetap semangat produktif di rumah? Berikut ini nasihat Ibnu Ataillah untuk memaksimalkan waktu.

Seringkali kita menunda pekerjaan yang sudah kita rencanakan sebelumnya dan berdalih “nanti, masih ada waktu, momennya tidak tepat, bad mood, dan lain sebagainya”. Apalagi, saat dihadapkan dengan pagebluk virus korona ini, yang membuat kita meninggalkan rutinitas di luar dan mengerjakan tugas di dalam rumah. Tak jarang orang yang menghabiskan waktu di situasi seperti ini untuk rebahan belaka, sampai membuatnya lalai terhadap pekerjaan yang harusnya ia selesaikan. Ibnu ‘Ata’illah As-Sakandari mengatakan bahwa sikap menunda-nunda merupakan tanda ketidakmatangan jiwa, dan seyogianya dihindari oleh manusia. Ungkapan tersebut merupakan kalam hikmah ke-18 yang ia tulis dalam al-Hikam:

إحالتك الأعمال على وجود الفراغ من رعونات النفس

Menunda-nunda pekerjaan hingga kau menemukan waktu luang

adalah indikator jiwa yang belum matang.

Saat menjelaskan kalam hikmah ke-18 itu, Jasser ‘Auda dalam bukunya, a Journey to God: Reflections on the Hikam of Ibn Ataillah, menguraikan solusi dari Ibnu ‘Atha’illah agar tidak menunda pekerjaan. Ada dua solusi yang ditawarkan, yaitu dengan membuat skala prioritas dan efisiensi waktu. Ini dikupas ‘Auda dengan nuansa logika ushul fikihnya yang akan dijelentrehkan di bawah ini.

Baca Juga :  Apakah Meninggalkan Pekerjaan Termasuk Bagian dari Tawakal pada Allah?

Buat list skala prioritas dan efisiensi waktu untuk mengerjakan semuanya

Bagi ‘Auda, Tuntasnya pekerjaan bukan soal ada tidaknya kesempatan, tetapi tentang bagaimana kita menyusun prioritas. Tingkat urgensitas suatu pekerjaan menjadi kunci untuk menentukan prioritas. Misalnya, dahulukan mengerjakan deadline dari kantor atau tugas presentasi sebelum bermain gadget dan ngumpul bareng keluarga. Dalam hukum Islam, contoh seperti ini sama dengan fiqh awlawiyyah (fikih prioritas).

Secara lebih khusus, contoh fikih prioritas adalah ketika anda memiliki beberapa pekerjaan dan belum menunaikan salat, sedangkan waktu salat yang tersisa tinggal 5 menit, maka yang harus anda dahulukan adalah salat, karena merupakan ibadah wajib dan waktunya hampir habis. Tetapi, bila akan terjadi masalah darurat saat anda salat, maka yang harus anda dahulukan adalah mengatasi masalah tersebut. Seperti contoh, ada anak yang akan jatuh dari tangga. Demikianlah, persoalan yang menyangkut dengan hak adami (hak manusia) lebih dikedepankan daripada yang berhubungan dengan hak Allah SWT, dalam sistem fikih prioritas.

Pertimbangan skala prioritas bukan berarti  boleh mengesampingkan pekerjaan yang memiliki prioritas rendah. Selagi pekerjaan itu positif, kita harus memaksimalkan waktu agar semua bisa dilakukan. Jangan sampai spaneng menyelesaikan prioritias utama hingga menunda-nunda pada kewajiban lainnya, apalagi bila yang ditunda itu ibadah. Ibnu Ataillah menyatakan, menunda kegiatan positif merupakan bentuk kecerobohan manusia, dan ceroboh adalah bagian dari kebodohan.

Ibnu Athaillah menjelaskan, setidaknya ada tiga alasan orang yang gemar menunda kegiatan positif masuk kategori bodoh. Pertama, karena dia tidak menyeimbangkan amal duniawi dan ukhrawi. Kedua, tidak komitmen dengan tekadnya, sehingga ia meremehkan waktu. Ketiga, dia menunda pekerjaan dengan menunggu waktu luang untuk melakukan sesuatu.

Baca Juga :  Membendung Gerakan Pembidahan ala Salafi dengan Konsep Mizan Kubra

Konotasi negatif terhadap sikap menunda-nunda juga terdapat pada QS. Al-Mukminun: 99-100, saat Allah memberi informasi atas penyesalan orang kafir karena menunda amal saleh, dengan memohon kepada Allah untuk mengembalikannya ke dunia agar mereka bisa melakukannya:

حتى إذا جاء أحدهم الموت قال رب ارجعون ﴿٩٩﴾ لعلي أعمل صالحا فيما تركت كلا إنها كلمة هو قائلها ومن ورائهم برزخ إلى يوم يبعثون ﴿١٠٠

(demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkan saja.” Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.

Menunda pekerjaan adalah tindakan maksiat, dan tidak bisa diterima. Orang yang menunda-nunda pada akhirnya akan berujung pada penyesalan karena kerjaan jadi numpuk dan tidak bisa menyelesaikan dengan maksimal. Karena itu, di kondisi yang mengharuskan kita tinggal di rumah ini jangan sering diisi dengan kegiatan yang kontra produktif, hingga mengesampingkan pekerjaan dan mengedepankan rebahan. Ini sekedar pindah ruang, bukan libur panjang. Kurangi kegiatan yang tak menguntungkan, susun skala prioritas berdasarkan urgensitas, dan atur waktu seefisien mungkin agar tuntas.

Wallahu a’lam []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here