Hikmah Puasa: Kesalehan Sosial

0
211

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah,” kemudian mereka tetap konsisten, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS Al-Ahqâf [46]: 13)

 

Sebagaimana dinyatakan dalam kitab suci Al-Quran, perintah puasa diwajibkan pada saat bersamaan de­ngan datangnya bulan Ramadan dalam penanggalan Hijriah yang berbunyi, … Karena itu, barang siapa di antara ka­mu hadir (di negara tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hen­­daklah ia berpuasa pada bulan itu … (QS Al-Baqarah [2]: 185).

Bulan Ramadan, sebagaimana diklaim oleh Al-Quran, me­mi­liki keistimewaan dibandingkan dengan bulan-bulan la­in, di antaranya, Allah Swt. telah memilih bulan Ramadan sebagai bulan diturun­kannya kitab suci Al-Quran sebagai­ma­na yang berbunyi, bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya di­turunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manu­sia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembe­da (antara yang hak dan yang batil) … (QS Al-Baqarah [2]: 185).

Oleh karena itulah, bulan Ramadan sangat positif, se­cara kondisional, untuk dipilih sebagai bulan diperintahkan­nya ibadah puasa, yang tujuannya adalah mencapai derajat ke­takwaan—yang intinya adalah melahirkan kesadaran akan kehadiran Allah Swt. sebagai pengalaman ruhaniah se­­se­orang. Kesadaran tersebut kemu­dian menjadikan orang da­pat menahan diri atau mengendalikan diri dari kejatuhan moral dan spiritual.

Adapun keistimewaan bulan Ramadan yang lain adalah dipilih sebagai bulan yang di dalamnya diturunkan sebuah ma­lam istimewa, yakni yang populer dengan sebutan malam kepastian atau laylat-u ’l-qadr. Malam kepastian itu dikatakan dalam Al-Quran sebagai malam yang memiliki nilai lebih baik daripada seribu bulan beribadah. Seperti dalam Al-Qur­­an disebutkan, Malam laylat-u ’l-qadr itu lebih baik dari­pada seribu bulan (QS Al-Qadr [97]: 3).

Pemahaman nilai seribu bulan di situ, tentunya, berkait­an dengan suasana kondusif bulan puasa yang dapat me­num­­buhkan kepekaan dan kemudian membuat ruhani sa­ngat sugestif atau mudah menerima rangsangan dengan peng­alaman ketuha­nan. Dan pengalaman ruhaniah sema­cam itulah yang dimaksudkan dengan nilainya lebih baik daripada seribu bulan atau delapan puluh tahun, sama de­ngan harapan hidup manusia (life expectancy) di sebuah ne­gara berpendapatan perkapita yang sangat tinggi.

Baca Juga :  Belajar Tauhid; Apakah Sifat Mustahil Bagi Para Nabi itu?

Kalau diperhatikan secara sepintas, ibadah puasa berke­san berat dan menyusahkan: harus menahan makan dan mi­num, serta hubungan seks sejak fajar terbit hingga mata­hari terbenam, yang keseluruhannya adalah kebutuhan da­sar manusia. Namun, kalau kita bandingkan dengan ibadah lain dalam Islam, seperti ibadah haji, umpamanya, sebenar­nya juga sama saja.

Apalagi melakukan ibadah haji pada zaman dahulu ka­la, ketika belum ditemukan kapal mesin. Dengan demikian, menu­nai­kan ibadah haji benar-benar merupakan perjuang­an yang sangat hebat. Dan, inilah barangkali alasannya, ge­lar haji kemudian begitu berarti—dicantumkan di depan na­ma, bagi bangsa Indonesia, khususnya. Padahal, di ne­gara-ne­gara lain, apalagi di Arab, gelar haji hampir tidak ada.

Ibadah haji sesungguhnya hanyalah ritual berupa kun­jung­an wisata ke monumen-monumen Allah Swt.—dalam idi­om Al-Quran dinamakan sya‘âir, bentuk jamak syi‘âr, yang memiliki arti sama dengan monumen. Lewat wisata ke monu­men-monumen Allah Swt. tersebut, orang beriman dituntut untuk dapat mempelajari, menarik pelajaran sejarah perju­ang­an para nabi dan rasul Allah Swt. dalam berjuang mene­gak­kan kalimat atau agama Allah Swt.

Sekali lagi, perlu kiranya diingat, hakikat ibadah dalam Islam, di antaranya ibadah puasa, bukanlah untuk meme­nuhi kepen­tingan Allah Swt. sama sekali, melainkan demi me­menuhi kepentin­gan manu­sia sendiri. Dengan begitu, Allah Swt. mustahil bermaksud menyu­sah­kan hamba-Nya. Ibadah pua­sa, dari pesan-pesan yang terkan­dung di dalamnya, justru meru­pa­kan perwujudan sebuah karu­n­ia dan kasih sayang Allah Swt. dalam rangka meningkatkan ke­pe­kaan ruhaniah—salah satu di­me­nsi manusia yang sangat pen­ting.

Selama menjalankan ibadah puasa secara benar, tidak saja da­­­­lam pengertian benar dari ka­ca­mata fiqhiyyah atau lahiriah, se­seorang diharapkan akan memi­liki ruhaniah yang sangat sugestif. Dengan demikian, dapat dilihat bah­wa orang yang berpuasa pa­da hakikatnya sedang menja­la­n­kan latihan atau olah-ruha­niah, spirit­ual excercise, sehingga dirinya merasa dekat secara ru­ha­niah de­­­­­ngan Allah Swt. Dan sebagai im­plikasinya, dia akan se­lalu me­ra­sa diawasi, diperhati­kan, dan dipedulikan oleh Allah Swt. karena merasakan sebuah ke­de­katan dengan Allah Swt.

Baca Juga :  Sabda Nabi Tentang Perumpamaan Shalat Lima Waktu

Dan sikap yang demikian itu—dekat secara ruhaniah de­ngan Allah Swt.—menjadi ciri orang yang takwa, sebagai­mana dalam Al-Quran dinyatakan, Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami Allah,” kemudian mereka tetap ber­istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tiada (pula) berdu­ka cita (QS Al-Ahqaf [46]: 13).

Pada bulan Ramadan, bertepatan dengan turunnya lay­lat-u ’l-qadr, disebutkan bahwa para malaikat datang, tu­run ke bumi untuk menolong kita—malaikat merupakan gam­bar­an makhluk ruhani, very fine creature, makhluk yang sa­ngat halus atau makhluk kegaiban. Kehadiran malaikat ke muka bumi ini, tentu saja, tidak dapat dibuktikan secara em­pirik atau rasional ilmiah, karena ini merupa­kan sebuah pengalaman ruhaniah. Yang demikian itu, hanya akan dapat dibuktikan lewat pengalaman ruhaniah sendiri.

Jadi, dengan suasana bulan Ramadan yang sedemikian rupa, ibadah puasa benar-benar akan memiliki dampak yang positif sekali bagi pengembangan dan peningkatan kua­litas ruhaniah seseorang, apabila ia dapat dan mampu me­nangkap makna dan tujuan puasa. Adapun tujuan intrin­sik ibadah puasa, yakni dimensi puasa yang paling sublim, adalah untuk mencapai derajat ketakwaan yang bersifat sa­ngat pribadi atau personal, dan tujuan konsekuensial, dam­pak ikutan, berupa implikasi sosial atau amal kemanusiaan.

Sekali lagi, karena ibadah puasa memiliki nilai yang sangat positif bagi pengembangan kepribadian seseorang, yakni mencipta­kan manusia takwa atau sosok pribadi yang ti­dak membutuhkan pengawasan dari siapa pun, karena ada­­nya kesadaran kehadiran Tuhan. Dengan sendirinya pri­badi orang berpuasa sangat identik dengan sosok kepribadi­an manusia yang jadi tujuan pembangunan pemerintah In­do­nesia.

Dengan asumsi seperti itu, sebenarnya boleh saja ibadah puasa didukung oleh perangkat, yaitu law enforcement oleh pe­mer­intah, khususnya kepada warga negara yang mengaku sebagai Muslim atau beragama Islam. Di sini, fungsi peme­rin­tah adalah pelopor dan pendorong untuk dijalankannya iba­dah puasa oleh para penganut agama Islam. Namun, ju­ga perlu dipahami bersama, karena negara kita ini bukan­lah negara agama, di dalamnya terdapat multi-agama, maka per­lu dikembangkan semangat bertoleransi.

Baca Juga :  Puasa ٌRamadan Melatih Kepekaan Sosial

Toleransi dalam arti sesungguhnya adalah menunjuk­kan sikap pengertian. Dengan sendirinya, sejalan dengan se­ma­ngat bertoler­ansi, selama bulan puasa, orang yang ber­agama lain hendaknya dapat menunjukkan sikap mendu­kung tercapainya ibadah puasa dengan baik. Bukan kita ke­mu­dian harus menuntut mereka (orang-orang non-Mus­lim) untuk bersikap toleran.

Kembali menyinggung masalah law enforcement, sepan­jang sejarah agama-agama, kiranya dapat diketahui bahwa sebuah agama akan tegak bila didukung oleh negara seba­gai lembaga politik atau kekuasaan tertinggi. Atau bisa juga kalau didukung oleh para elite politik sehingga akan mudah di­ikuti oleh masyarakat luas.

Pada batasan ini kita dapat melihat dari sejarah per­kem­ban­gan agama-agama bahwa agama Buddha dapat ber­kembang pesat melalui Siddhartha Gautama-nya, seorang pu­tra mahkota kerajaan India, Kristen dengan Konstantin­nya, seorang raja atau kaisar Romawi atau dengan kekua­saan politik Vatikannya. Sebagaimana dalam sebuah pepa­tah yang cukup populer dikatakan, “Culture follow power”.

Nabi kita, Muhammad saw. telah mencontohkan ke­pada kita semua, dengan berdoa meminta kepada Allah Swt. agar Umar bin Khaththab dapat diberi hidayah dan masuk Islam. Dan ternyata betul, perkembangan Islam menjadi sa­ngat cepat setelah Umar bin Khaththab masuk Islam. Dari si­tu terlihat bahwa hubungan penanaman dan pembudaya­an nilai-nilai keagamaan akan cepat apabila melewati elite po­litik. Mereka semuanya, kalau diibaratkan dengan zaman sekarang, identik dengan sebutan hubungan cybernetic, yak­ni adanya tingkat bagian yang paling menentukan untuk me­merintah.[]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here