Hikmah Puasa: Kebijaksanaan dalam Introspeksi Diri

0
440

Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka jahanam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

(QS Al-Taubah [9]: 109)

 

Tujuan puasa dalam jangka panjang adalah menjadi­kan takwa sebagai asas dan pandangan hidup yang benar, dan sebaliknya, bahwa apa pun asas dan pan­dang­an hidup selain takwa dinyatakan secara jelas dan tegas oleh kitab suci Al-Quran sebagai landasan dan pandangan hi­dup yang salah. Perlu diingatkan kembali bahwa ketakwa­an yang bersifat batiniah itu, kemudian juga harus diwujud­kan dalam bentuk moral dan budi peker­ti mulia. Lewat pen­ca­paian tujuan perintah berpua­sa, yaitu takwa, orang ber­iman akan dengan sendirinya dapat melepaskan diri dari kekangan dimensi kekinian dan kemudian mampu melaku­kan introspeksi diri.

Kata “introspeksi diri” (ihtisâb)—seperti dikutip dalam hadis Rasulullah Saw. yang menganjurkan orang berpuasa ba­nyak melakukan kegiatan introspeksi diri atau mawas diri sebagai syarat mencapai tujuan ibadah puasa—berarti am­pun­an. Hadis terse­but berbunyi, “Barang siapa berpuasa pe­nuh dengan keimanan dan introspeksi diri, maka diampuni se­gala dosa yang telah lalu” (HR Bukhari Muslim).

Namun agaknya kata ihtisâb akan lebih tepat kalau di­ter­je­mahkan dengan self-examination atau melakukan korek­si diri. Koreksi diri adalah tindakan yang sangat sulit dilaku­kan, khu­susnya oleh mereka yang tidak memiliki sikap jujur dan rendah hati. Berkaitan dengan itu, ungkapan atau pepa­tah yang berbunyi, “Katakanlah yang benar itu walau pahit rasanya,” sebenarnya pekerjaan tersebut belum terlalu berat ji­ka dibandingkan dengan melakukan koreksi diri. Itu ka­rena biasanya orang akan lebih mudah melakukan kritik dan menilai kesalahan orang lain daripada mengoreksi diri­nya.

Kemauan melakukan koreksi atau kritik terhadap ke­sa­lahan diri adalah pekerjaan yang amat sulit. Akan tetapi, ini­lah haki­kat akhlak mulia sebagaimana yang dimaksud­kan oleh hadis Nabi di atas tadi. Di situlah pentingnya amal­an puasa harus diikuti oleh tindakan ihtisâb agar orang ber­iman dapat memiliki akhlak mulia.

Kalau seseorang tidak mampu melakukan koreksi dan kritik diri, yang di dalamnya dibutuhkan ketulusan dan keju­jur­an hati, maka yang akan terjadi adalah munculnya sikap sombong, selalu merasa dirinya benar, atau, bahkan paling fatal, mengganggap dirinya paling benar. Sikap semacam itu mirip dengan ungkapan Melayu yang sangat populer di ma­­syarakat kita yang berbunyi, “Kuman di seberang lautan je­las terlihat, sedangkan gajah di pelupuk mata tak terlihat.”

Dalam kitab suci Al-Quran juga disebutkan bahwa si­kap som­bong atau tidak mau melakukan koreksi diri akan membawa kehancur­an, yang berbunyi, Dan jika Kami (Allah) hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami (Allah) pe­rin­tah­kan kepada mereka yang hidup mewah di negeri itu (supaya me­naati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya per­ka­t­a­an (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (QS Al-Isrâ’ [17]: 16).

Baca Juga :  Media Sosial yang Ramah

Dalam ayat ini disebutkan bahwa orang yang bersikap dur­­haka, atau dalam bahasa Arab diistilahkan dengan orang fâsiq, adalah orang yang tidak mau menerima kebenaran dan menutup hatinya sehingga hatinya gelap. Dengan demi­kian, kata fâsiq dapat diar­tikan sebagai orang yang tidak mau mengikuti kebenaran, termasuk yang datang dari da­lam dirinya. Hati orang fâsiq gelap sehingga ia tidak lagi mam­pu membedakan yang benar dan yang salah. Di sini kemudi­an orang fâsiq sering diidentikkan dengan orang yang tidak mau mengikuti atau peduli pada aturan atau hukum.

Hati yang tertutup adalah hati yang gelap. Dalam baha­sa Arab disebut hati yang zhulmânî, lawan hati nûrânî yang asal katanya nûr, berarti cahaya atau terang, yakni hati yang se­lalu mengajak kepada kebaikan. Sekali lagi, kalau sese­orang atau bangsa sudah dihinggapi penyakit fâsiq, sesuai de­ngan janji Allah Swt., orang atau bangsa tersebut pasti akan dihancurkan atau dibinasakan hingga rata dengan bu­mi, sebagaimana difirmankan dalam Al-Quran, Kemudian Ka­mi berpesan kepada keduanya, “Pergilah kamu berdua ke­pa­da kaum yang mendustakan ayat-ayat kami,” maka Kami bi­na­sa­kan mereka sehancur-hancurnya (QS Al-Furqân [25]: 36).

Peringatan yang demikian itu telah dibuktikan sendiri oleh umat Islam pada saat kejayaan Islam di Bagdad, Irak. Pa­da saat itu, umat Islam menjadi pusat peradaban dunia de­ngan kemegahan kota Bagdad sebagai pusatnya yang di­pe­nuhi oleh gedung-gedung yang megah dan mewah. Bah­kan menurut sebuah informasi dari liter­atur sejarah yang ada di universitas Princeton, Amerika, pada saat Bagdad men­­jadi kota metropolis, pajak yang dikumpulkan peme­rin­tah Bagdad banyaknya sama dengan kekayaan negara bagian Philadelphia. Akan tetapi, karena mereka kemudian men­jadi orang-orang fâsiq, hawa nafsunya sudah tidak lagi dikendalikan dan hati mereka sudah gelap, tertutup, serta mereka hidup bermewah-mewahan, akhirnya mereka dibi­na­sa­kan dan dihancurkan sehancur-hancurnya oleh bangsa Mongol, bahkan sisa-sisa batu merahnya pun tak tersisa.

Yang demikian itu benar-benar sesuai dengan janji Allah Swt. tadi. Gejala yang demikian juga menjadi sunnatullah, hukum alam, bahwa setiap orang atau bangsa yang sudah tidak lagi menjunjung tinggi mo­ral dan akhlak, ia akan meng­alami kejatuhan dan kehan­cur­an.

Baca Juga :  Empat Macam Kewajiban bagi Orang yang Tidak Puasa di Bulan Ramadhan

Sejarahwan terkenal, Gib­bon, pun menceritakan hal yang sama dalam bukunya, The De­cline and the Fall of Roman Empire. Disebut­kan bahwa kerajaan Ro­mawi yang berbentuk imperium yang begitu besar dan ditakuti bangsa-bangsa lain pada zaman­nya hancur dan binasa karena dipimpin oleh orang-orang fasik, orang yang tidak lagi mau meme­duli­kan aturan atau akhlak. Para raja dan pejabatnya sudah tidak me­miliki moral dan akhlak lagi. Me­reka hidup berme­gah-megah dan hanya mementingkan ke­pen­tingan dirinya. Mereka pun akhirnya hancur dan binasa.

Pengertian akhlak (akhlâq ja­mak dari khulq), sebenarnya me­­­miliki kaitan erat dengan mak­­­na penciptaan (khalq), yakni bah­wa manusia pada awal mulanya di­cip­takan Allah Swt. dalam kondisi bersih dan suci. Manusia juga dikaruniai kepekaan batin atau ruhani, berupa dorong­an halus untuk selalu mencintai kebajikan, serta ke­mampu­an membedakan yang benar dan yang salah, se­perti dinyata­kan dalam Al-Quran, … tetaplah atas fitrah Allah yang mencip­ta­kan manusia menurut fitrah itu … (QS Al-Rûm [30]: 30).

Namun perlu diingat, dalam perjalanannya fitrah ter­sebut dikotori oleh sikap-sikap yang mendahulukan bisikan dan dorongan hawa nafsu sehingga hati nurani sebagai sum­ber kekuatan yang membimbing kepada kebajikan menjadi gelap. Dan, di situlah yang dimaksud dengan “bahwa se­sung­guhnya Allah Swt. tidak memberi petunjuk-Nya kepada mereka yang zalim atau hatinya menjadi gelap dan tertutup,” seperti dinyatakan dalam Al-Quran … dan Allah tidak mem­beri petunjuk kepada orang-orang yang zalim (QS Al-Baqarah [2]: 258).

Berkaitan dengan problem menjaga dan memelihara fi­trah atau sumber akhlak, posisi orangtua sebagai peran­ta­ra budaya, culture broker, memiliki peran yang sangat pen­ting, sebagaimana disebut­kan dalam hadis Rasulullah Saw. yang sering kita dengar, “Setiap anak yang lahir, dilahirkan da­­lam kesuciannya, dan kedua orang­tuanyalah yang akan meng­ubahnya, apakah ia akan menjadikannya orang Majusi atau Nasrani.”

Fitrah dapat berarti kesucian, yang hakikat kesucian itu sendiri adalah moral atau budi pekerti yang baik. Jadi, sebenarn­ya hal-hal yang baik itulah yang sesuai dengan fitrah manusia. Namun, seperti diungkapkan sebelumnya bahwa bersamaan dengan perjalanan sang waktu, akhirnya manu­sia mengalami penyimpangan-penyimpangan dari hati nura­ni—juga sering disebut dlamîr, hati kecil, atau fu’âd.

Ibadah puasa, seperti halnya ibadah-ibadah lain dalam Islam, memiliki dimensi intrinsik, yakni dimensi vertikal yang intinya adalah sebagai ritual yang bersifat sangat pribadi, pri­vate, dan hanya dengan Allah Swt. Sehubungan dengan itu, perintah shalat diawali dengan takbîrat-u ’l-ihrâm, berarti melakukan pemutusan diri dari hal-hal yang tidak berkaitan dengan Allah Swt.—sebuah simbolisasi dimensi vertikal—kemudian harus diakhiri dengan mengucapkan salam, ber­arti berbuat baik, beramal saleh kepada manusia.

Baca Juga :  Zakat Sarana bagi Penyucian Diri

Ibadah puasa pun memiliki dimensi yang sama dengan iba­dah shalat, yakni dimensi konsekuensial, berupa pengem­bang­an rasa empati kepada orang yang berada dalam kesu­sah­an. Anjuran mau peduli dan membantu fakir-miskin, di antaranya dengan menge­luarkan zakat fitrah dan mal. Pen­ting­nya dimensi konsekuensial tersebut, kemudian diwujud­kan dalam bentuk anjuran melakukan amalan-amalan sosial (social work) yang pahalanya akan dilipat­gandakan. Hal yang demikian itu, juga dianjurkan lewat memberikan makanan untuk berbuka puasa, yang pahalanya sangat besar. Amalan-amal­an tersebut seluruhnya akan dapat membantu mening­kat­kan derajat atau kualitas dimensi vertikal sebuah ibadah.

Untuk dapat mencapai tujuan perintah puasa yang se­sung­guhn­ya, baik dari dimensi vertikal maupun konsekuen­sial, orang beri­man dianjurkan melakukan jihad, yakni usa­ha secara sungguh-sungguh. Adapun kata jihad mengan­dung pengertian yang lebih banyak menonjolkan pada usa­ha secara sungguh-sungguh dimensi fisikal atau jasmaniah. Kemudian, ia juga harus melakukan ijti­had, yakni melaku­kan usaha secara sungguh-sungguh dengan menggu­nakan pikiran atau intelektual. Kata ijtihad kemudian banyak dipa­hami sebagai usaha secara sungguh-sungguh yang berkaitan dengan pemikiran atau intelektual. Selanjutnya, orang ber­iman juga harus melakukan mujâhadah, yang berarti usaha se­cara sung­guh-sungguh dengan segenap kekuatan ruhani­ah­nya.

Ketiga kata tersebut dengan variasi pengertiannya, ji­had, ijtihad, dan mujâhadah, berasal dari akar kata yang sa­ma, yakni jahada.

Dengan berpuasa secara baik dan benar, dengan sen­diri­nya, orang beriman pada saat datang hari Idul Fitri akan menyandang predikat fitri yang artinya ia kembali kepada ke­­sucian atau kebersihan jiwa, atau hati nurani, atau yang alamiah—yang menur­ut alamiahnya, by nature, manusia men­­cintai kebajikan dan kebe­naran. Setelah setahun hati nurani tertutup oleh kepentingan diri, vested interest, kepicik­an hati, kesempitan diri, dengan menjalankan ibadah puasa secara benar—tidak hanya menahan makan dan minum ser­ta semua yang dapat membatalkan puasa seperti dalam pe­mahaman fiqih formal—juga mampu mengendalikan dari godaan dan dorongan hawa nafsu, maka hati nurani akan men­jadi baik kembali. Kembali memiliki kepekaan ruhani terhadap aturan moral atau akh­lak.

Meminjam idiom, ungkapan, sastrawan terkenal Dante, bulan puasa dianalogikan sebagai purgatorio atau usaha pe­nyucian karena manusia telah berbuat dosa dan kesalah­an yang menimbulkan kesusahan secara spiritual akibat pe­lang­garan terhadap hati nuraninya. Manusia kemudian jatuh ke dalam inferno. Dan dengan menjalankan puasa secara ba­ik dan benar, manusia akan menjadi bahagia kembali atau masuk ke alam paradiso secara spiritual, karena kembali ke kesucian. Dan inilah hakikat moral atau akhlak mulia se­bagai refleksi ketakwaan.[]



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here