Hikmah Puasa Disebut sebagai Bulan Meringankan Penderitaan Orang Lain

0
831

BincangSyariah.Com – Penulis dalam tulisan sebelumnya, “Penjelasan Mengapa Bulan Ramadan adalah bulan kedermawanan”, menyebutkan salah satu alasannya adalah orang yang berpuasa itu meninggalkan makanan dan minumannya, tulus karena Allah. Mengapa demikian ?

Seperti dijelaskan Ibn Rajab al-Hanbali dalam karyanya Lathaif al-Ma’aarif, orang yang berpuasa itu meninggalkan makanan dan minuman padahal sebenarnya ia sangat berhajat terhadap kedua hal tersebut. Lalu, ketika tiba waktunya berbuka, awalnya kita sudah terlatih untuk tidak menganggap makanan dan minuman itu sebagai kebutuhan mutlak, kemudian tergoda kembali untuk melahapnya lagi sebanyak-banyaknya, padahal sebelumnya ada syariat puasa sebagai media latihan.

Disinilah kesunahan memberi makan orang berpuasa menjadi muncul. Agar rasa egoisme mencintai makanan yang berlebihan itu dirubah menjadi rasa syukur kepada Allah, karena bisa menikmati makanan tersebut. Dari sinilah kemudian keutamaan atau hikmah berpuasa muncul, yaitu meringankan penderitaan orang Allah. Itu kenapa puasa kemudian disebut sebagai Syarh al-Muwaaasah. Al-Muwaasah itu memiliki makna meringankan bebannya.

Itu kenapa, ada hikmah di kalangan ulama terdahulu, ketika ditanya, “apa hikmah berpuasa?” jawabannya adalah, “agar yang berkecukupan merasa nikmatnya santapan orang yang dalam kondisi kelaparan, sehingga ia akhirnya memikirkan penderitaan orang yang tidak punya.

Dikisahkan, ulama terdahulu itu banyak yang berpuasa namun saat berbuka dia mendahulukan orang lain dan tidak jarang berbuka namun kondisinya masih lapar. Selain kisah tersebut, berikut ini kisah-kisah teladan dari para Sahabat, Tabi’in, dan Ulama tentang bagaimana mereka memaknai puasa sebagai bentuk meringankan penderitaan orang lain,

  1. Abdullah bin Umar

Abdullah bin‘Umar, salah seorang sahabat Nabi Saw., juga dikisahkan seringkali kalau mau berbuka, inginya bersama orang yang tidak punya. Jika satu ketika keluarganya menahannya untuk keluar, ia pun tidak lagi makan di malam harinya. Lalu ketika ada yang meminta makanan berbukannya, ia pun mengambil bagian yang harusnya ia makan lalu memberikannya, dan ketika kembali kerumah keluarganya sudah memakan seluruh makanannya. Ia pun berpuasa di pagi hari tanpa makan apa-apa.

  1. Ahmad bin Hanbal
Baca Juga :  Zakatnya Anggota Tubuh Menurut Imam Al-Ghazali

Imam Ahmad pernah saat punya makanan untuk berbuka, ia sudah menyiapkan dua potong roti. Lalu, ada yang meminta-minta, lalu ia memberikannya. Imam Ahmad pun tidak makan sampai berpuasa kembali di esok paginya.

  1. Abdullah bin Mubarak

Al-Imam Abdullah bin Mubarak ketika berpuasa sunnah, tetap menyenangkan sahabat-sahabatnya dengan memberi mereka aneka macam makanan bahkan makanan manis, dan ia tetap berpuasa.

 

Demikian perilaku para sahabat dan ulama terdahulu. Sejatinya begitulah ajaran Nabi Saw. yang mendorong kepada cinta dan kasih sayang. Itu kenapa Nabi Saw. disebut-sebut sebagai sosok yang melihat umatnya dari kacamata kasih (yanzhuru al-ummah bi ‘ayn ar-rahmah).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here