Hikmah Pagi: Ujian Cinta kepada Allah

0
905

BincangSyariah.Com – Salah seorang bertanya kepada Dzaanun, siapa yang pantas untuk aku jadikan seorang sahabat?

Beliau menjawab, “temanilah yang ketika kamu sakit ia menyembuhkanmu, ketika engkau melakukan dosa, ia menerima tobatmu, ketika engkau meminta ia memberimu, dan ketika engkau meminta pertolongan ia menolongmu”.

Adakah sahabat lain setelah engkau menjadikan Allah sebagai sahabat? Jika kamu sujud beritau Dia tentang urusanmu, karena Dia Maha Mengetahui baik, yang terang – terangan maupun yang tersembunyi, yang tidak didengar oleh orang di sekitarmu, karena cinta itu mengandung rahasia, kirimkan surat di waktu sahur, surat yang tintanya air mata, kertasnya pipi, dan posnya adalah penerimaan.

Sebagian orang memahami kalau agama itu kumpulan dari perintah dan larangan, hukum halal dan haram. Mereka lupa bahwa cinta kepada Allah dan rasul-Nya itu melebihi dari segala-galanya.

Mencintai itu pokok permasalahan, jika tidak ada rasa cinta dalam semua ibadah dan ketaataan, tidak akan dilakuan orang Muslim.

Jika engkau mengakui mencintai Allah, maka jadikanlah perasaan cinta itu tampak dalam perilakumu, tata perkataanmu, dan gerak–gerik tingkah lakumu. Kalau tidak, maka engkau bukanlah termasuk orang yang mencintai-Nya.

Diriwayatkan ada seorang dalam perjalanan, tiba–tiba ia melihat seorang perempuan yang baik dan cantik, maka orang ini berkata “Saya jatuh cinta padamu”, “jika perkataanmu memang benar. Saya juga mencintaimu, tapi saya mempunyai saudari yang lebih baik dan lebih cantik ia sekarang di belakangmu, maka silahkan engkau mau pilih yang mana?” ujar perempuan tersebut.

Lalu menolehlah laki –laki ini ke belakang, perempuan tadi menampar wajahnya, dan berkata: “jauhilah diriku wahai pendusta! engkau mengaku sangat mencintaiku tapi engkau melihat yang lain?! Engkau mengaku kalau engkau mabuk cinta denganku, baru saya mengujimu rupanya engkau pendusta,
maka laki laki itupun menangis, kepalanya tersungkur ke tanah, dan berkata “saya mengaku mencintai makhluk, baru aku berpaling darinya aku mendapatkan tamparan di mukaku (luka hatiku).

Baca Juga :  Hakikat Pasrah yang Salah

Berapa kali kami mengaku mencintai Allah kemudian kami berpaling dari-Nya, dan sibuk dengan yang lain, maka aku mendapatkan tamparan di hati tapi aku tidak merasakan.

Apakah kami telah sampai derajat yang disampaikan Allah dalam firman-Nya,

كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. (QS. Muthafifin 14). (Lihat: Sahirul Layaly Fi Riyadlil Jannah, Hal. 236-237).

Kita lihat berapa banyak yang mengaku mencintai Allah, kemudian berpaling darinya, lalai dalam salat berjamaahnya, tilawah Alquran dan lain sebagainya.

Semoga Allah menjaga kita dan rida terhadap kita semuanya. Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here