Pentingnya Mempunyai Karya (Belajar dari Imam Malik bin Anas)

0
1292

BincangSyariah.Com – Sebuah estafet keilmuan memang tidak cukup hanya sekedar menyampaikan dengan berdiskusi, berceramah dan lain sebagainya. Karena setiap manusia diberikan anugerah oleh Allah berbeda-beda dan mempunyai kelebihan yang berbeda pula. Namun apabila menginginkan usia yang panjang serta banyak dikenang adalah dengan menorehkan sebuah karya, apapun bentuknya terlebih adalah sebuah “buku atau kitab”. Maka para ulama setiap masa pasti mempunyai karya yang senantiasa dikenang pada generasi berikutnya, untuk memudahkan estafet mata rantai keilmuan dimasa yang akan datang. Selain itu jariyahnya akan terus mengalir selama buku itu menjadi sebuah rujukan.

Sebut saja Imam Malik (W. 179 H), sosok yang disebut sebagai Imam Dar al-Hijrah (Imam Tempat Hijrah/Kota Madinah), dengan karyanya al-Muwattha’. Kata al-Muwattha’ sendiri berarti terbentang, mudah juga berarti kesepakatan. Nama itulah yang mencerminkan isi kitab al-Muwattha’, yaitu mempermudah mengambil makna fikih, ilmu, dan makna dari hadis-hadis. Bahkan sebagian ulama memposisikan al-Muwattha’ di atas Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Meski yang lain, menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa as-Shahihayn (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) lebih unggul sebab pada kitab Muwattho’ terdapat hadits-hadits “Mursal”.

Rombongan Amirul Mukminin Abu Ja’far Al-Manshur (W. 158 H) suatu hari berjumpa dengan Imam Malik dan menyatakan, “Saya ingin kitab al-Muwattha’ ini disalin dan dicetak banyak untuk dibagikan ke berbagai penjuru kota umat islam. Kemudian saya perintahkan untuk mengamalkan isinya dan membuang yang lain yang dibuat-buat. Karena menurut saya pondasi ilmu adalah riwayat dan ilmu penduduk Madinah.”

Diperintah seperti itu, Imam Malik menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, Janganlah engkau lakukan hal tersebut! Karena banyak sekali periwayatan dari Rasulullah yang dinukil mereka (yang tidak tinggal di Madinah). Banyak periwayatan yang mereka riwayatkan, karena setiap kaum mengambil ilmu yang mereka bawa dan mengamalkan apa yang mereka riwayatkan, dan mereka juga mengamalkan apa yang menjadi perbedaan para sahabat, sehingga mengambil hal tersebut sangat sulit. Maka biarkan mereka mengamalkan apa yang sudah mereka jalankan.”

Al-Manshur kemudian mengatakan: “Andai saja engkau setuju wahai Imam, tentu hal tersebut akan kami lakukan.” (Lihat: Siyar A’lamin Nubala’, Jilid: 8/79-80).

Baca Juga :  Sa’ad bin 'Ubadah: Kaya Raya, Loyalis Nabi Muhammad, Menolak Baiat pada Abu Bakar

Hal ini bukan tanpa alasan, karena Imam Malik pernah mengatakan: Saya pernah meminta pendapat dan menunjukkan kitab saya ini kepada 70 para ahli fiqh Madinah, dan semuanya menyepakatinya maka kami beri nama “Muwaththo’”. Dan yang lebih menarik, beliau terus mengoreksi karya beliau sampai 40 tahun bahkan sampai beliau hendak meninggal dunia. (Lihat: Tanwirul Hawaliik, h. 10)

Bahkan pujian Imam Bukhari (W. 256 H) kepada kitab al-Muwattha’: “Sanad-sanad paling shohih (kredible) semuanya adalah dari “Malik” dari “Nafi’” dari “Ibn Umar” dan semua sanad tersebut paling banyak terdapat pada kitab al-Muwattha’.”

Dan yang sangat masyhur yang paling banyak meriwayatkan dari kitab al-Muwaththo’ ini adalah ‘Ali Ibn Ziyad at-Tunisi al-Abbasy (W. 183 H), salah satu ulama besar di Maroko dan ahli fiqh di sana. Beliau merupakan rujukan utama dalam bidang fiqh”. (Lihat: Hilyatul Auliya’, j. 9 h. 63)

Maka wajar bukan hanya Sudan, Madinah, Al-Jazair dan Tunis tapi juga menyebar di Maroko maka tak heran sampai sekarang masih banyak pembesar Madzhab Malik di Maroko. Semoga suatu hari bisa sowan dan menimbah ilmu disana Aamien.

Sebagai wawasan, kitab yang dinamai al-Muwattha’ tidak hanya ditulis oleh Imam Malik, ada juga al-Muwattha’ karya Ibn Abi Dzi’b (109 H), al-Muwattha’ karya Ibrahim bin Yahya al-Aslami (184 H), al-Muwattha’ karya Ibn Wahb (197 H), dan lain-lain.

Maka al-Muwattha’ sampai sekarang tetap bersinar dan menjadi rujukan utama dalam bidang hadits apalagi rujukan dalam Madzhab Maliki.

Semoga kita terus semangat berkarya paling tidak sebagai bentuk moroja’ah (mengulang) apa yang sudah kita dapatkan, tidak harus tulisan berat. Namun tulisan ringan dan mudah diamalkan serta yang paling penting bermanfaat luas bagi umat.

Baca Juga :  Metode Penggalian Hukum Islam Mazhab Maliki

Semoga Allah menjaga kita semuanya Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here