Hikmah Pagi: Menuntut Ilmu Butuh Kesabaran, Tidak Bisa Instan

0
787

BincangSyariah.Com – Terdapat banyak sekali pertanyaan, Ustadz mengaji kitab kuning (kitab berbahasa arab tanpa baris) itu berat dan kami tidak faham?!. Kami selalu menyampaikan: untuk bisa dan memahaminya butuh proses dan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Jangankan kita, Ulama sekelas Imam Abu Hanifah (w. 150 H) saja membutuhkan waktu 40 tahun untuk duduk di majelis ilmu bertalaqqi bersama dengan guru beliau sampai akhir hayat guru beliau, apalagi kita?!

Diceritakan dalam salah satu kitab yang cukup menarik (Sanaatiir, yang membahas berbagai kisah tentang para penuntut ilmu yang akhirnya berhasil dan menjadi ulama besar dizamannya).

Salah satu kisah menarik adalah Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dimana beliau menuntut ilmu dan mulazamah dengan para guru beliau selama 5 tahun lamanaya dan tidak belajar apapun walau hanya satu huruf.

Suatu hari beliau mendatangi gurunya, beliau bertanya, “saya tidak mengetahui apapun selama 5 tahun di sini”. Gurunya menjawab, “benar, maka ambillah tali ini dan sekalian tongkatnya; kamu cukup menggembala kambing saja”. Karena kelihatannya kamu memang tidak cocok untuk mendalami ilmu lebih cocok menjadi pengembala saja. Kamu sudah menuntut ilmu selama lima tahun, akan tetapi tidak mendapatkan apapun bahkan satu huruf pun tidak.

Dengan penuh rasa pilu dan sedih, pergilah Ibn Hajar. Tatkala melewati sebuah sumur melihat banyak orang sibuk mengeluarkan air dari sumur tersebut. Saat itu Ibn Hajar melihat kejadian yang cukup mencengangkang, bahwa sebuah tali bisa menghancurkan sebuah batu. Maka beliau tercengang kemudian berkata, tali bisa menghancurkan batu, sedangkan tali terbuat dari kapas, mana mungkin bisa menghancurkan batu yang keras.

Beliau merenung panjang: eemm ternyata dengan kesungguhan dan ketekunan, jika terus-menerus dilakukan maka tali itu bisa menghancurkan batu yang keras. Maka kunci untuk mendapatkan ilmu adalah istiqomah dan sungguh-sungguh sehingga bisa menundukkannya.

Baca Juga :  Doa Setelah Belajar Ala Pesantren

Maka berkat keistiqomaan beliau dan ketekunan walau di lima tahun pertama tidak mendapatkan apapun bahkan satu huruf saja tidak. Namun Allah mudahkan beliau dengan dibukakan pintu hatinya untuk menerima ilmu dari Allah. Yang kemudian beliau menjadi seorang Imam dan Hafidz dalam bidang hadits yang menjadi salah satu rujukan utama.

Beliau adalah pengarang kitab populer Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Dikisahkan kalau ulama mengatakan, siapa yang dirumahnya terdapat kitab Fathul Bari, maka seakan-akan nabi berada di rumah mereka, karena semua ilmu pengetahuan ada di dalam kitab Fathul Bari.

Dalam kitab Fathul Bari kita akan disuguhkan ilmu pengetahuan yang luar biasa mulai dari awal sampai akhir kitab Fathul Bari. Dari mana beliau mendapatkan semua ini, beliau dapatkan dari keistiqomahan dan kesungguhan. (as-Sanaathir oleh Syekbeh Musa Musthofa, h. 7-8)

Maka menuntut ilmu butuh kesabaran, keistiqamahan tidak bisa instan dan langsung jadi. Harus mengetahui adab-adabnya dan runtutan dari mana kita mulai belajar sehingga pengetahuan yang diperoleh bisa komprehensip dan maksimal. Maka jangan mudah putus asa ketika menuntut ilmu, jika sekarang belum faham terus saja mengikuti, duduk dan istiqomah yakinlah suatu saat Allah akan futuhkan hati kita untuk menerima cahaya ilmu-Nya.

Semoga Allah menjaga kita semuanya dan semoga kita senantiasa istiqomah dalam mencari ilmu dan mengamalkannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here