Hikmah Pagi: Malu Mendatangkan Kebaikan

0
1386

BincangSyariah.Com – Malu merupakan bagian dari cabang keimanan, sebagaimana Ka’ab mengatakan: malulah kepada Allah ketika dalam kesendirian sebgaimana malu kepada manusia saat melakukan keburukan secara terang-terangan.

الحياء من الإيمان، والإيمان في الجنة، والبذا من الجفاء، والجفاء في النار

Malu adalah bagian dari keimanan dan keimanan tempatnya di surga, perkataan yang keji (kotor) adalah bagian dari sifat kasar dan sifat kasar itu tempatnya di neraka. (H.R. Tirmidzi lihat dalam Bayan Musykilul Atsar, Jilid: 8/234).

Malu kepada Allah adalah tatkala ia mentaatinya dan tidak bermaksiat terhadapnya.

Diceritakan tatkala ada seorang gadis yang cantik, ada rasa berdebar dalam hati Nabi Yusuf As. Wanita itu menutup wajahnya dan bersembunyi dibelakang pintu. Kemudian nabi Yusuf bertanya? Apa yang anda lakukan? Gadis tadi menjawab, “saya malu kepada Allah”. Kemudian nabi Yusuf mengatakan, “saya lebih malu dari pada Anda kepada Allah.”

Dan boleh tidak malu dalam tiga kondisi, karena di kondisi ini justru tidak terjadi malu mendatangkan kebaikan,

1. Saat menuntut ilmu (jangan malu untuk bertanya jika tidak bertanya maka tidak akan mendapatkan ilmu selamanya),

2. Ketika sedang sakit (jangan malu mengatakan sakit kepada sesama),

3. Mempunyai saudara yang kurang mampu (berkata apa adanya ini adalah saudara saya yang kurang mampu). (Lihat: Sahirul Layali Fi Riyadlil Jannah, Hal. 186-187).

Semoga Allah senantiasa menjaga kita semuanya baik dalam sepi maupun keramaian . Aamiin Allahumma Aamiin.

Baca Juga :  Risalah Terbuka untuk Mualaf yang Suka Menjelek-Jelekkan Agama Lamanya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here