Hikmah Pagi: Keutamaan Memaafkan

3
1552

BincangSyariah.Com – Imam Ahmad Ibn Hanbal (W. 241 H), ketika beliau dalam kondisi sakaratul maut, beliau mendengar teriakan seseorang di depan rumahnya. Rupaya ada seorang laki – laki yang sudah tua renta menangis seperti tangisan perempuan, ia berkata : “saya adalah salah satu diantara orang yang pernah menyiksamu ketika masa ujian terberatmu (yaitu mengatakan Al-Quran itu makhluk) pada masa kekhalifaan al-Mu’tashim, sekarang saya datang menghadapmu memohon maaf dan ampunan darimu”.

Imam Ahmad pun mendo’akan agar orang ini diampuni oleh Allah atas segala perbuatanya yang pernah menyiksanya selama bertahun tahun. Sampai-sampai anaknya bertanya, “wahai ayah mengapa engkau memohonkan ampunan bagi orang yang telah menyiksamu dengan siksaan yang cukup pedih?”

Imam Ahmad menjawab, “apa manfaat yang akan ayah dapatkan dari saudaramu yang terkena azab?“ Apakah kamu tidak mengetahui firman Allah “barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah”. (QS. as-Syura: 40). Tidaklah kamu ketahui jika datang hari kiamat, kemudian datanglah umat manusia kehadapan Allah dan ketika itu di panggil: “berdirilah siapa yang pahalanya atas tanggungan Allah”. Maka, tidak akan ada yang berdiri kecuali orang yang telah memaafkan di dunia. Dan saya mengharap salah satu diantara orang yang mendapat pahala atas tanggunganAllah tersebut”.

Seorang Hakim berkata: “kelezatan memaafkan itu lebih baik daripada kelezatan membalas dendam, karena kelezatan memaafkan itu akan berujung pada kebaikan, sedangkan kelezatan balas dendam itu berujung pada penyesalan.

Salah seorang berkata: siapa yang tidak menerima taubat maka besarlah kesalahanya, barang siapa tidak berbuat baik kepada orang yang bertaubat buruklah perilakunya.

Jika ada orang datang meminta maaf atas perilakunya terhadapmu atau karena kesalahanya yang ia perbuat maka maafkanlah, ampunilah ia di dunia ini sebelum di akhirat kelak. Ingatlah firman Allah: “Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahala atas tanggungan Allah”.

Salah seorang berkata: me

Baca Juga :  Hadis Tentang Jagalah Lima Perkara Sebelum Lima Perkara

Imam syafi’i (W. 204 H) berkata:

لَمَّا عَفَوْتُ وَلَمْ أَحْقِدْ عَلىَ أَحَدٍ *** أَرِحْتُ نَفْسِي مِنْ هـمِّ العَـدَاوَات

Kala mema’afkan saya (berupayaa untuk) tidak iri pada siapa pun *** saya tenangkan jiwa saya dari keinginan bermusuhan. (Lihat: Sahirul Layali Fi Riyadlil Jannah, Hal: 284-284).

Semoga Allah senantiasa menjaga kita semuanya dan nanti dikumpulkan dengan orang-orang shalih Aamien Allahumma Aamien.

3 KOMENTAR

  1. Seseorang pernah membuat saya sangat sakit hati, waktu itu saya ingin mbalasnya, beruntung Allah masih melindungi saya sehingga saya tidak membalas orang tetsebut, sekarang saya mencoba melupakan apa yang ia perbuat, tapi rasa sakit itu masih sangat terasa.
    Untuk menghindari rasa kesal pada orang tersebut apakah benar jika saya sebisa mungkin menghindar jika harus berkumpul dengan orang tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here