Hikmah Pagi: Ketika Uwais al-Qarni (W. 37 H) Mengenali Orang yang Belum Pernah Ditemui

0
515

BincangSyariah.Com – Suatu hari, Haram Ibn Hayyan al-‘Azdy pernah cerita kalau ia sedang ke kota Kufah. Tujuannya tidak lain adalah untuk bertemu Uwais al-Qarni. Ia berusaha mencarinya dan bertanya tentang beliau. Akhirnya, beliau menemukan Uwais al-Qarni sedang duduk seorang diri di sungai Efrat di siang hari. Beliau sedang mencuci pakaian dan mengambil air wudlu.

Saya mengenalinya berdasarkan ciri-ciri yang disampaikan orang-orang tentang beliau. Beliau adalah seorang laki-laki yang kepalanya botak, tambun yang berkulit coklat, berjengggot tebal, memakai kain dan sorban dari wol, yang menarik wajahnya menjengkelkan dan menakutkan. Haram kemudian mengucapkan salam kepadanya, kemudian beliau menjawab salamnya, lalu berkata: ‘semoga Allah memanjangkan umur anda’.

Haram kemudian mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan beliau, namun beliau menolaknya. Kemudian Haram berdoa: “semoga Allah juga memanjangkan umur anda. Senang rasanya berjumpa dengan engkau, Kyai Uwais! Bagaimana kondisimu? Semoga Allah senantiasa menyanyangi engkau.

Hati Haram sangat tesentuh melihat kondisi beliau sampai air mata tak terbendung lagi. Begitupun beliau juga ikut menangis. Kemudian berdoa: “semoga Allah juga menyayangi sampean.”

Haram Ibn Hayyan! Bagaimana kabarmu? Uwais bertanya, “siapa yang memberitahu engkau tentang diriku.”

Haram mengatakan, Allah

Beliau berkata, Tiada Tuhan Selain Allah dan membacakan firman Allah,
Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhu. (Q.S. al-Isra’: 108).

Beliau sangat kaget ketika beliau mengenali saya dan menyebut nama saya. Padahal demi Allah, kata Haram Ibn hayyan, ia belum pernah melihat beliau dan begitupun sebaliknya.

Kemudian Haram bertanya kepada beliau, dari mana anda kenal nama saya juga nama ayah saya? Padahal kita belum pernah berjumpa sebelumnya.”

Uwais menjawab,
Telah diberitahukan kepada saya oleh Allah Yang Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal. (Q.S. at-Tahrim: 3).

Baca Juga :  Hukum Transaksi Jual Beli dengan Mesin, Apakah Boleh?

Ruhku mengenal ruhmu dan mereka saling bicara. Sesungguhnya ruh memiliki jiwanya sendiri sebagaimana makhluq hidup. Sesungguhnya orang beriman saling mengenal antara yang satu dengan yang lainnya. Mereka saling mencintai dengan ruh ilahi.

Singkat cerita Uwais berdoa, Duhai Tuhan sesungguhnya orang ini menganggap dirinya mencintai saya karena-Mu. Dia mengunjungiku karena-Mu. Ya Allah, buatlah saya mengenal wajahnya di surga. Selama dia di dunia, jagalah dia di mana pun dia berada. Jadikan ia ridho walaupun hanya mendapatkan bagian sedikit dari dunia. Mudahkanlah baginya mendapatkan sesuatu yang Engkau berikan di dunia ini. Jadikan ia orang yang selalu mensyukuri nikmat-Mu dan berikan balasan kebaikan terhadap apa yang ia perbuat kepada saya.

Setelah berdoa Uwais mengatakan, “saya sudah menitipkanmu kepada Allah. Semoga Allah menjagamu dan memberimu kasih sayang. Dan setelah hari ini kamu tidak akan bertemu lagi dengan saya. Saya tidak suka ketenaran saya lebih suka sendirian, maka jangan cari saya lagi. Ketahuilah engkau sudah dihati walaupun saya tidak melihatmu. Ingatlah saya dalam do’amu, dan sayapun akan selalu mengingatmu dan mendoakanmu.

Uwais pun menangis ketika meninggalkan kami begitupun Haram bin Hayyan. Keduanya sama-sama terisak-isak. Sejak pertemuan ini Haram tidak pernah menjumpai Uwais. Begitulah sosok Uwais yang misterius sang penghuni langit. (Lihat: ‘Uqoolaul Majaaniin, Hal. 96-98).

Nantikan kisah berikutnya, semoga Allah menjaga kita semuanya Aamien Allahumma Aamien.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here