Hikmah Pagi: Air Mata yang Dirindukan Langit

0
1262

BincangSyariah.Com – Hikmah Pagi yang sempat menghilang, sebenarnya tidak menghilang; namun sedang menyelesaikan beberapa tulisan al-hamdulillah beberapa buku sudah terbit dan tersebar, in syaa’a Allah Hikmah Pagi akan berupaya hadir sebagai makanan ringan untuk nutrisi hati.

Hari berganti hari bahkan tahun berganti tahun tak pernah terdetak dalam jiwa kita untuk tersentuh mengeluarkan tetesan air mata karena Allah. Namun terkadang air mata itu tumpah karena semangat ruhani dan keimanan yang membara. Ya Rabb, apa gerangan yang membuat hati kami susah menangis karena-Mu, Apa karena mengguritanya maksiat yang kami lakukan? Atau apakah karena dosa-dosa yang tidak pernah kami renungkan?

Suatu hari Abu Bakar melintasi sebuah jalan, melihat seorang laki-laki menangis terseduh-seduh. Abu Bakar bertanya, “Kenapa engkau menangis?” Mereka menjawab: “Kami menangis karena sangat takut kepada Allah.” Abu Bakar mengelus dada dan mengatakan, “demikianlah kami susah untuk menangis karena kerasnya hati kami.”

Salah seorang sahabat mengatakan, “kalau Abu Bakar saja mengatakan seperti itu; bagaimana dengan kami?!”

Meneteskan air mata itu bagaikan air hujan yang tumpah membasahi bumi yang memberikan kehidupan baru yang menumbuhkan banyak kehidupan, bagaikan kehidupan yang menumbuhkan untuk berupaya istiqamah di jalan Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah,

لَيْسَ شَيءٌ أَحَبَّ إِلى اللَّه تعالى من قَطْرَتَين . وأَثَرَيْنِ : قَطْرَةُ دُمُوعٍ من خَشيَةِ اللَّه وَقَطرَةُ دَمٍ تُهرَاقُ في سَبِيلِ اللَّه تعالى ، وأما الأثران فأثر في سبيل الله تعـالى وَأَثَرٌ في فَرِيضَةٍ منْ فَرَائِضِ اللَّه تعالى.

“Tiada sesuatupun yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala daripada dua tetesan dan dua atsar (bekas kebaikan). Dua tetesan itu ialah tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang dialirkan di jalan Allah. Adapun dua bekas (dua bekas kebaikan) yaitu bekas luka di jalan Allah dan bekas dalam mengerjakan kewajiban dari beberapa kewajiban kepada Allah Ta’ala (seperti bekas wudlu dan lain-lain). (H.R. Imam Tirmidzi dalam sunannya, Jilid: 4/190).

Baca Juga :  Apakah Mualaf Wajib Mengqadha’ Ibadah Terdahulu?

Imam Dhahhak Ibn Muzaahim, apabila hari telah sore beliau menangis. Kemudian beliau ditanya, “Apa yang membuat Tuan Guru menangis?” Beliau menjawab, “saya tidak tahu amal apa saja hari ini yang saya lakukan.”

Ibn Munkadir mengusap wajahnya dan jenggotnya dari aliran air matanya, sambil beliau mengatakan: “telah sampai kepadaku bahwa api neraka tak akan dapat menyentuh tempat di mana air mata saya mengalir.”

Orang-orang shaleh tidak pernah menangis hanya karena kehilangan dunia. Namun mereka akan menangis kala ingat akan dosa-dosa dan kesalahan mereka. Mereka menangis karena berfikir panjang apa nanti yang akan di pertanggung jawakan dihadapan Allah? Mereka menangis karena takut akan azab-Nya dan tertolak amalnya. Mereka menangis tatkala kematian menjemput namun mereka tidak ada persiapan apa-apa! (Lihat: ‘Indamaa Yahluu al-Masaa’, h. 192-193).

Ya Allah kami manusia yang penuh dengan dosa dan bergelimang dengan kesalahan, mampukan kami untuk senantiasa menangis karena takut kepada-Mu. Jadikan kami orang yang senantiasa mampu istiqamah di jalan-Mu dan mampu untuk senantiasa menebarkan kebaikan di bumi-Mu.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita semuanya Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here