Hikmah Perintah Menyusui Bayi dalam Islam

0
348

BincangSyariah.Com – Ajaran Islam tentang menyusui bayi pada hakikatnya merupakan bentuk nafkah yang seharusnya diberikan oleh seorang ayah kepada bayi. Karena ibu menjadi perantara tersampaikannya nafkah seorang ayah kepada bayi, maka ayah wajib memberikan makanan yang baik dan bergizi kepada ibu sang bayi. Bahkan ketika kedua orang tua bayi itu sudah cerai sekali pun, seorang ayah dituntut untuk memberikan upah kepada ibu yang masih menyusui bayi itu. (Baca: Kisah Nabi Saw. Begitu Menghormati Perempuan yang Menyusuinya)

Allah Swt. berfirman dalam surah Ath-Thalaq [65] ayat 6:

أَسۡكِنُوهُنَّ مِنۡ حَیۡثُ سَكَنتُم مِّن وُجۡدِكُمۡ وَلَا تُضَاۤرُّوهُنَّ لِتُضَیِّقُوا۟ عَلَیۡهِنَّۚ وَإِن كُنَّ أُو۟لَـٰتِ حَمۡلࣲ فَأَنفِقُوا۟ عَلَیۡهِنَّ حَتَّىٰ یَضَعۡنَ حَمۡلَهُنَّۚ فَإِنۡ أَرۡضَعۡنَ لَكُمۡ فَـَٔاتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَأۡتَمِرُوا۟ بَیۡنَكُم بِمَعۡرُوفࣲۖ وَإِن تَعَاسَرۡتُمۡ فَسَتُرۡضِعُ لَهُۥۤ أُخۡرَىٰ

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kalian bertempat tinggal menurut kemampuan kaluan, dan janganlah kalian menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya sampai mereka melahirkan, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu maka berikanlah imbalannya kepada mereka; dan musyawarahkanlah di antara kalian (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kalian menemui kesulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.” [Q.S. Ath-Thalaq (65): 6]

Terkait kurun waktu menyusui sendiri, Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Baqarah [2] ayat 233,

وَٱلۡوَا⁠لِدَاتُ یُرۡضِعۡنَ أَوۡلَـٰدَهُنَّ حَوۡلَیۡنِ كَامِلَیۡنِۖ لِمَنۡ أَرَادَ أَن یُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَۚ

“Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna.” [Q.S. Al-Baqarah (2): 233]

Terlepas dari pembahasan hukum menyusui bayi maupun durasi maksimal anak menerima ASI, penggalan ayat di atas merupakan dalil-dalil yang biasa dikutip dan dijadikan landasan atas disyariatkannya menyusui bayi. Diperintahkannya seorang hamba untuk melakukan kegiatan tertentu bukanlah tanpa maksud, pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya, sebagaimana disebutkan oleh para ahli ilmu.

Baca Juga :  Butuh Tambahan Pemasukan, Bolehkah Menjual ASI?

Menukil pernyataan Syekh Ali ash-Shabuni dalam kitab Rawai’ul Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam Minal Qur’an, bahwasanya tidak ada makanan yang lebih baik bagi seorang bayi selain ASI. Uraian beliau itu juga didukung dengan kesepakatan para ahli medis bahwa ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi.

Karena anak terbentuk dari darah ibu tatkala masih dalam rahim, maka setelah anak itu lahir, darah itu berubah menjadi air susu, yang dengan cara itu bayi memperoleh makanan yang baik. Oleh karenanya, tidak ada yang lebih sesuai dan cocok bagi bayi selain ASI itu sendiri. Di sinilah letak hikmah dari digalakkannya para ibu untuk menyusui bayi menurut Syekh Ali ash-Shabuni.

Hampir senada dengan pernyataan di atas, Syekh Ali al-Jurjawi juga menyebutkan hikmah dari proses menyusui, dalam kitabnya yang berjudul Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuhu. Menurut beliau, terdapat hikmah yang sangat besar di balik pensyariatan menyusui bagi seorang ibu kepada anaknya. Hikmah itu pun ada yang kembali pada ibu sendiri, maupun kembali pada bayinya.

Hikmah yang kembali kepada ibu yang menyusui ialah dapat meminimalisir kemungkinan untuk hamil lagi tak selang lama setelah melahirkan. Selain itu, dengan menyusui, juga dapat bermanfaat untuk memperbaiki organ-organ reproduksi seorang ibu setelah melahirkan.

Sedangkan hikmah secara umum yang kembali kepada anak ialah bahwasanya gizi yang terkandung dalam air susu ibu (ASI) merupakan sumber gizi terbaik bagi bayi yang baru lahir. Bahkan susu formula khusus bayi sekali pun tak dapat menyamai gizi yang terkandung dalam ASI. Oleh karenanya, manfaat ASI dapat dilihat secara langsung dari perkembangan anak ketika ia masih dalam masa menyusui.

Dalam Tafsir Mafatih al-Ghaib atau Tafsir al-Kabir, Syekh Fakhruddin ar-Razi menyebutkan bahwasanya pendidikan anak yang menerima makanan berupa ASI secara sempurna, umumnya lebih baik ketimbang yang lainnya. Alasan yang dikemukakan beliau ialah, karena kasih sayang ibu kepada anaknya, terutama pada masa menyusui, merupakan kasih sayang paling sempurna yang dimiliki oleh manusia. Adapun salah satu wujud kasih sayang seorang ibu kepada anaknya ketika masa menyusui ialah dengan menyusuinya.

Baca Juga :  Kisah Nabi Saw. Begitu Menghormati Perempuan yang Menyusuinya

Tidak bisa dipungkiri bahwa ketika bayi itu masih dalam masa menyusui, terdapat pola hubungan yang sangat indah. Baik hubungan antara suami dengan istrinya, maupun hubungan orang tua dengan anaknya.

Ketika seorang ibu menyusui sang bayi, ayah mencukupi kebutuhan ibu itu dengan menafkahinya secara baik. Kemudian ketika seorang anak yang masih bayi membutuhkan perlindungan, ibu senantiasa berada di sampingnya serta mendekapnya dengan penuh kasih sayang. Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here