Hikmah Mengapa Riba Haram dalam Islam

1
165

BincangSyariah.Com – Riba merupakan sebuah transaksi yang haram dilakukan oleh siapa saja, orang yang terlibat di dalamnya pun dapat disebut sebagai pelaku dosa besar. Memang tidak semua bentuk riba dapat serta merta dikategorikan sebagai dosa besar. Riba termasuk dosa besar ialah transaksi yang di dalamnya terdapat unsur penambahan yang menyekik (ziyadah), semisal riba fadhli dan riba qardhi. (Baca: Ini Kumpulan Artikel Mengenai Mana Transaksi Riba dan Tidak Riba)

Uraian di atas didasarkan pada penuturan Syekh Sulaiman bin Umar Al-Ujaili dalam kitab Hasyiyatul Jamal. Beliau mendasarkannya pada hadis Nabi Saw.;

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

Rasulullah Saw. melaknat pemakan riba, penyetor riba, pencatat transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (H.R. Muslim).

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 275;

ٱلَّذِینَ یَأۡكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟ لَا یَقُومُونَ إِلَّا كَمَا یَقُومُ ٱلَّذِی یَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ذَ ٰ⁠لِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوۤا۟ إِنَّمَا ٱلۡبَیۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰا۟ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَیۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ۚ فَمَن جَاۤءَهُۥ مَوۡعِظَةࣱ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ وَأَمۡرُهُۥۤ إِلَى ٱللَّهِۖ وَمَنۡ عَادَ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِیهَا خَـٰلِدُونَ

Alladzina ya’kulur riba la yaqumuna illa kama yaqumul ladzu yatakhabbatuhusy syaithanu minal mass, dzalika biannahum qalu innamal bai’u mitslur riba. Wa ahallallahul bai’a wa harramar riba. Fa man ja’ahu mau’idzatun min rabbihi fantaha falahu ma salafa ilallah, wa man ‘ada fa ulaika ashabun nar, hum fiha khalidun.

Artinya:

Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. [Q.S. Al-Baqarah (2) 275]

Baca Juga :  Jimak di Siang Ramadan dalam Keadaan Lupa, Apakah Wajib Membayar Kafarat?

Hukum haram dalam riba sebenarnya bersifat dogmatis (ta’abbudi), yang tidak perlu dibangun atas motif-motif rasional. Artinya, terkait keharaman riba, kita cukup mengikutinya tanpa perlu penjabaran mengapa, serta tanpa perlu kritik menyertainya. Meski demikian, banyak ulama yang mencoba menguak berbagai hikmah dari diharamkannya riba. Seperti yang dilakukan oleh oleh Syekh Ali Ahmad Al-Jurjawi dalam kitab Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuhu.

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi juga pernah menyebutkan bahwa peraturan Islam yang begitu ketat menyangkut riba, sebenarnya terkandung maksud untuk menjaga kemaslahatan manusia itu sendiri. Baik kemaslahatan menyangkut akhlak secara individu, kemaslahatan dalam hubungan sosial masyarakat, maupun kemaslahatan perekonomian secara luas.

Pernyataan tersebut sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Ali Ash-Shabuni dalam kitab Rawai’ul Bayan fi Tafsiril Ayatil Ahkami min Al-Qur’an. Menyangkut kemaslahatan individu, beliau menegaskan bahwa bahaya riba adalah dapat memantik sikap egois pelakunya. Kemudian kemaslahatan sosial, beliau menegaskan bahwa riba dapat menjadi penyebab permusuhan dan hilangnya rasa kasih sayang. Sedangkan dalam hal ekonomi, oleh beliau, riba dianggap dapat menjadikan manusia berkelas-kelas dengan alasan ekonomi, yaitu si kaya dan si miskin.

Ketika menafsirkan surah Al-Baqarah ayat 275, Imam Fakhruddin Ar-Razi juga menyebutkan beberapa hikmah dari diharamkannya riba. Di antaranya ialah, sebagai berikut:

Pertama, transaksi riba itu berkonsekuensi pada pengambilan harta orang lain tanpa adanya ganti. Misalnya seseorang menjajakan uang miliknya sebesar satu juta, tetapi diganti sebesar dua juta, maka ia mendapatkan tambahan satu juta itu tanpa memberikan ganti apa pun.

Pantas saja apabila riba diharamkan, karena harta seseorang itu berkaitan erat dengan kebutuhannya, yang di dalamnya terkandung juga kehormatan si pemiliknya. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad Saw.;

Baca Juga :  Bagaimana Sufi Memaknai Umur Kehidupan?

حُرمَةِ مَالِ المُؤمِنِ كَحُرمَةِ دَمِهِ

“Kehormatan harta orang mukmin itu seperti kehormatan darahnya.” (H.R. Ahmad)

Kedua, karena dengan bergantung pada riba, akan menghalanginya untuk bekerja dan menjalankan usaha. Jika si pelaku riba telah merasakan bertambahnya harta dengan menjalankan riba, maka akan berdampak pada sikapnya yang meremenkan persoalan bekerja, dan mungkin saja menjadikannya tak siap menanggung risiko usaha. Apabila hal ini terjadi secara banyak, maka akan semakin banyak pula terputusnya kebermanfaatan bagi orang lain.

Ketiga, langgengnya riba juga dapat menjadi sebab terputusnya kebaikan antarsesama, yaitu yang salah satunya caranya ialah melalui cara pinjam-meminjam. Jika meminjamkan uang dengan mengharap lebihnya kembali, maka akan memutus rasa ikhlas, belas kasih, dan kebaikan. Berbeda halnya dengan sistem hutang yang kembalinya sama dengan yang dipinjamkan, akan tumbuhlah rasa ikhlas untuk tolong menolong antar sesama.

Keempat, diperbolehkannya riba sama halnya dengan membuka peluang bagi orang kaya untuk mengeruk harta tambahan dari orang miskin, yang notabene lebih lemah darinya. Karena sebagaimana dimaklumi bahwa pinjaman itu lazimnya terjadi dari orang miskin terhadap yang lebih kaya.

Perilaku demikian itu sudah barang tentu menyalahi asas kasih sayang Allah Swt. Karena melakukan riba itu sama halnya dengan melakukan pemerasan terhadap orang yang lebih lemah. Apabila terjadi, akibatnya terdapat ketimbangan kelas sosial dan ekonomi. Yang kuat akan semakin kuat, sedangkan yang lemah akan semakin lemah karena sengaja dilemahkan. Puncaknya, adalah ketika perilaku tersebut menimbulkan rasa dengki dan sakit hati. Wallahu a’lam bis shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here