Hikmah Mengapa Perjudian Haram dalam Islam

0
832

BincangSyariah.Com – Melalui surah Al-Maidah ayat 90,  seluruh orang-orang yang beriman diimbau untuk menjauhi minuman keras (al-khamr), perjudian (al-maisir), berkurban untuk berhala (al-anshab), dan mengundi nasib dengan anak panah atau yang lainnya (al-azlam). Perbuatan itulah yang kemudian disebut sebagai perbuatan keji, bahkan tak tanggung-tanggung, disebut termasuk perbuatan setan. (Baca: Dalil Keharaman Minuman Keras dalam Al-Qur’an dan Hadis)

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِنَّمَا ٱلۡخَمۡرُ وَٱلۡمَیۡسِرُ وَٱلۡأَنصَابُ وَٱلۡأَزۡلَـٰمُ رِجۡسࣱ مِّنۡ عَمَلِ ٱلشَّیۡطَـٰنِ فَٱجۡتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” [Q.S. Al-Ma’idah (5): 90]

Syekh Fakhrudin ar-Razi dalam Tafsir Mafatih al-Ghaib menyebutkan bahwa al-maisir itu sebagaimana al-khamr, yang mana keduanya dapat menjadi penyebab saling membenci dan menyulut permusuhan di antara para pelakunya.

Pemahaman tersebut beliau dasarkan pada ayat selanjutnya, yakni surah Al-Maidah ayat 91;

إِنَّمَا یُرِیدُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ أَن یُوقِعَ بَیۡنَكُمُ ٱلۡعَدَ ٰ⁠وَةَ وَٱلۡبَغۡضَاۤءَ فِی ٱلۡخَمۡرِ وَٱلۡمَیۡسِرِ وَیَصُدَّكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَعَنِ ٱلصَّلَوٰةِۖ فَهَلۡ أَنتُم مُّنتَهُونَ

“Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” [Q.S. Al-Ma’idah (5): 91]

Sejatinya terdapat banyak sekali hikmah dari diharamkannya perjudian. Misalnya sebagaimana disebutkan oleh Syekh Ali Ahmad al-Jurjawi, salah seorang pengajar di Universitas Al-Azhar Cairo, dalam bukunya yang berjudul Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuhu.

Pertama, manusia diberikan kemampuan oleh Allah untuk menempuh jalan bekerja dan membanting tulang supaya dapat memperoleh sebagian dari kenikmatan dunia dan kenyamanan hidup. Tidak dapat dipungkiri bahwa untuk dapat menjalankan pekerjaannya, setiap orang membutuhkan kerjasama satu dengan yang lainnya. Maka dari itu, dibutuhkanlah adanya hubungan sosial dalam masyarakat. Sedangkan perjudian itu bukanlah upaya mendatangkan penghasilan dengan cara hubungan pekerjaan, melainkan bersifat dugaan, prasangka, bahkan khayalan yang belum jelas datangnya.

Baca Juga :  Investasi Emas dalam Perspektif Hukum Islam

Kedua, orang yang melakukan perjudian itu sedang berada dalam dua peluang, yakni menang dan kalah. Jika menang maka ia akan semakin tamak dalam memperoleh harta, sedangkan jika kalah ia akan kembali melakukan perjudian dengan tujuan dapat menarik kembali hartanya yang telah lenyap dan dapat menutup kerugiannya. Apabila perilaku demikian itu terus terjadi, orang-orang akan sibuk melakukan perjudian, bahkan bisa jadi meninggalkan kewajibannya untuk bekerja.

Ketiga, penjudi satu akan menjadi musuh dari penjudi lainnya. Sehingga pelaku judi akan berharap supaya musuhnya dapat kalah dan tersungkur dalam perjudian. Inilah awal mula sebab terjadinya perilaku saling mencelakai di antara para penjudi, hanya karena kalah dalam perjudian.

Keempat, apabila pelaku judi adalah orang kaya, sedangkan dalam judi ia menerima kekalahan, maka ia berpeluang untuk jatuh dalam dua kondisi, yaitu kondisi di mana ia seketika berubah menjadi miskin, atau kondisi di mana ia menjadi frustasi dan kehilangan akal sehatnya. Adapun bukti dari dua kondisi tersebut bisa kita jumpai di mana-mana.

Kelima, tak jarang dari para pelaku judi ialah orang yang memiliki pekerjaan dan biasa memperoleh upah yang dapat diketahui, sebagaimana pekerja lainnya. Jika memiliki keluarga, maka ia memiliki kewajiban memberi nafkah dan mencukupi kebutuhan keluarga. Kemudian apabila upah yang ia terima digunakan untuk berjudi, dan sialnya ia merasakan kekalahan, maka keluarganya terancam ditelantarkan karena tidak dapat terpenuhi kebutuhannya. Hal ini dapat menjadi penyebab runtuhnya bangunan rumah tangga.

Keenam, seseorang yang terlanjur menyukai kegiatan judi, maka ia akan terus berusaha supaya memiliki dana yang cukup untuk berjudi. Jika dalam kondisi kalah dan tak punya modal lagi, bisa jadi ia menghalalkan segala cara supaya dapat memperoleh modal itu, bahkan dengan berbagai cara yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Oleh karenanya, menjadi bertumpuk-tumpuklah perilakunya yang melanggar syariat.

Baca Juga :  Hukum Menggunakan Pengeras Suara Masjid untuk Pengumuman

Yang disebutkan di atas adalah berbagai hikmah dan alasan yang dapat dipahami manusia dari diharamkannya perjudian dalam Islam. Dengan wasilah memahaminya, semoga Allah senantiasa memberikan kita kekuatan supaya dapat terhindar dari perilaku yang jelas-jelas melanggar syariat. Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here