Hikmah Haram Menikahi Mahram Senasab

0
499

BincangSyariah.Com – Memang sangat tepat apabila dikatakan bahwa menikahi mahram senasab merupakan hal yang telah dilarang dalam syariat Islam. Larangan menikahi mahram senasab ini disebutkan dalam surah An-Nisa’ [4] ayat 23. Oleh karenanya, aturan tersebut tentu tidak bisa ditawar lagi oleh siapa pun. (Baca: Hukum Anak Tiri Menikahi Ibu Tiri, Apakah Boleh?)

حُرِّمَتۡ عَلَیۡكُمۡ أُمَّهَـٰتُكُمۡ وَبَنَاتُكُمۡ وَأَخَو⁠تُكُمۡ وَعَمَّـٰتُكُمۡ وَخَـٰلَـٰتُكُمۡ وَبَنَاتُ ٱلۡأَخِ وَبَنَاتُ ٱلۡأُخۡتِ

“Diharamkan atas kalian (menikahi) ibu-ibu kalian, anak-anak perempuan kalian, saudara-saudara perempuan kalian, saudara-saudara perempuan dari ayah kalian (bibi), saudara-saudara perempuan dari ibu kalian (bibi), anak-anak perempuan dari saudara laki-laki kalian (keponakan), anak-anak perempuan dari saudara perempuan kalian (keponakan), ...” [Q.S. An-Nisa’ (4): 23]

Tetapi juga perlu diketahui bahwa selain alasan syariat, secara fitrahnya, tabiat manusia secara umum juga belum tentu mudah menerima andai pun perilaku tersebut dilegalkan. Apabila dicerna baik-baik, hal itulah yang bisa juga menjadi pembeda antara perilaku manusia dengan perilaku hewan, yang mungkin saja mengawini ibu atau saudaranya sendiri.

Hikmah haram menikahi mahram senasab juga telah diulas dalam kitab Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuhu, karangan Syekh Ali al-Jurjawi. Beliau merupakan pengajar di Universitas Al-Azhar Mesir. Alasan yang dikemukakan beliau antara lain;

Pertama, seseorang cenderung malu untuk melakukan–atau sekadar–menyebutkan hal-hal yang berbau eksotis dengan kerabat dekatnya, terlebih yang berkaitan dengan persetubuhan. Meninjau sisi yang lebih dalam, diakui atau tidak, dalam pernikahan sejatinya terdapat perilaku yang menurunkan martabat perempuan, yaitu dengan menjadikannya sebagai alas maupun selimut bagi laki-laki.

Kedua, menjaga keturunan dari bahaya. Syahwat dua orang senasab cendereng lemah, disebabkan adanya rasa malu yang ada sejak awal. Apabila syahwat di antara keduanya melemah, maka kecil kemungkinan untuk memperoleh keturunan. Andai pun memiliki keturunan, anak mereka memiliki potensi besar untuk terkena gangguan tertentu, sebagaimana yang diungkapkan oleh para ahli kesehatan.

Baca Juga :  Benarkah Mencaci Maki Orang Musyrik Bagian dari Jihad?

Ketiga, menghilangkan bahaya pada diri mereka sendiri. Setiap orang tentu akan mengalami masa sulit dan terhimpit, sedangkan yang biasanya paling sigap menolong ialah saudara terdekatnya. Apabila saudara yang semestinya menolong itu menjadi istrinya, yang sama-sama sedang kesulitan bersamanya, maka mereka pun akan mengalami kesulitan untuk memperoleh bantuan.

Menimbang kehormatan perempuan itu sendiri, Syekh Ali al-Jurjawi juga menuturkan mengapa seorang lelaki tidak diperkenankan menikahi perempuan yang berstatus sebagai ibu, saudara kandung, bibi, maupun keponakan.

Pertama, seorang anak tidak diperbolehkan menikahi ibunya. Karena sebagaimana diketahui bahwasanya ibu adalah orang yang melahirkan, maka ibu berstatus sebagai pangkal, asal atau bagian utuh. Sedangkan anak adalah yang dilahirkan, maka berstatus sebagai cabang atau ranting.

Sehingga, sangat tidak patut apabila cabang atau ranting menghinakan induk yang telah bersusah payah menanggung kehamilan dan mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya.

Kedua, seorang ayah tidak diperbolehkan menikahi anak perempuannya. Seorang anak merupakan belahan dari keutuhan orang tuanya. Ungkapan tersebut berdasar pada hadis Nabi Muhammad Saw, yang menyebutkan bahwa Sayyidah Fatimah merupakan belahan dari beliau, sebagaimana disebutkan dalam kitab Sahih al-Bukhari. Sangat aneh apabila seorang manusia menghinakan belahannya sendiri.

Ketiga, menikahi saudara kandung. Saudara itu layaknya dirinya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa menghinakan dirinya sendiri, jika seburuk-buruk manusia ialah yang menzalimi dirinya sendiri.

Selanjutnya, untuk paman dan bibi itu sebagimana posisi ayah dan ibu, sehingga perlu dihormati dan dijaga kehormatannya. Begitu juga dengan keponakan, yang dikiaskan dengan posisi orang tuanya, yang tidak lain adalah saudara sendiri.

Selain berbagai hikmah yang disebutkan di atas, tentu masih ada hikmah tersembunyi lainnya. Setelah mengetahui berbagai hikmahnya, betapa luar biasanya Allah yang telah memberikan rambu-rambu kepada hamba-Nya, supaya terhindar dari segala hal yang merugikan diri hamba itu sendiri. Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here