Hikmah Diturunkannya Islam di Jazirah Arab Menurut al-Buthi

0
87

BincangSyariah.com – Islam turun pertama kali di Jazirah Arab, bersamaan dengan lahirnya baginda Nabi Muhammad Saw di Makkah. Jika kita telaah, sebenarnya saat itu ada banyak peradaban di muka bumi yang mungkin lebih maju ketimbang Arab. Lalu mengapa Jazirah Arab yang dipilih ?

Syekh Ramadhan al-Buthi dalam bukunya Fiqh as-Sirah, menjelaskan ada hikmah atau rahasia dibalik terpilihnya Jazirah Arab sebagai lokasi awal kemunculan Islam. Namun sebelum masuk ke hikmah, kita perlu tau lebih dulu bagaimana karakter dan letak geografis bangsa Arab dan umat lainnya sebelum kedatangan Islam.

Secara ringkas, di masa pra Islam, dunia di kuasai oleh dua negeri adidaya, Persia dan Romawi. Keduanya sama sama bangsa superior yang bergiliran memimpin dunia, dengan cakupan wilayah kekuasaan yang sangat luas. Kemudian diikuti oleh peradaban lebih kecil lainnya seperti Yunani dan India.

Peradaban Persia

Persia terkenal akan penemuan – penemuan legendaris. Hal ini karena mereka sudah mengenal budaya intelektual. Dampaknya, perdebatan antara pemahaman filsafat dan agama tidak dapat terelakan.

Kendati maju dalam bidang ilmu pengetahuan, moral bangsa Persia mengalami kemerosotan. Dalam salah satu ajaran mereka, semua orang bisa memiliki apa yang dimiliki orang lain. Misalnya, orang yang kuat boleh menjarah orang lemah dan halal merampas benda-benda mereka termasuk wanita.

Puncaknya, mereka membolehkan pernikahan lelaki dengan ibunya, anak perempuannya atau saudara perempuannya. Sebagai contoh, Yezdegerd II raja Persia di abad 5 M menikahi putrinya sendiri.

Dalam pandangan umat lain, pernikahan sedarah ini sangat terlarang dan termasuk dalam kategori penyimpangan dahsyat terhadap fitrah manusia. Sehingga, Persia dinilai telah mengalami suatu kebobrokan moral.

Peradaban Romawi

Romawi tidak jauh berbeda dari Persia. Meski kekuasaan mereka mengangkangi beberapa benua, namun perseteruan teologi antar sekte – sekte Nasrani membuat mereka saling bertikai. Misalnya, antara aliran Ortodoks dengan Gereja Timur. Atau antara Nasrani Roma dengan Nasrani Syam dan Mesir.

Baca Juga :  Hukum Menggoreng Ikan dalam Keadaan Masih Hidup

Dari segi moralitas, Romawi juga mengalami kemerosotan. Para raja dan kalangan kelas atas hidup bergelimangan harta. Mereka berfoya – foya menghambur – hamburkan uang. Sementara rakyat kecil diperas, seakan kemiskinan mereka bersifat abadi. Apalagi, biaya pajak yang harus mereka tanggung jauh lebih besar dibanding kalangan lainnya.

Peradaban Yunani dan India

Yunani meski terkenal sebagai maestro filsafat, ternyata tengah dirundung badai takhayul dan khurafat. Perdebatan panjang diantara mereka kerap kali tidak menghasilkan manfaat apa-apa.

India menyumbangkan banyak penemuan berharga untuk dunia. Namun mereka terjangkit degradasi moral akibat kerusakan di sektor agama, akhlak dan sosial masyarakat.

Sekiranya perlu diketahui, penyebab kemunduran ini diakibatkan peradaban maju yang mereka bangun hanya didasari oleh nilai materil. Sehingga tidak ada perhatian atau kepedulian terhadap sisi rohani manusia.

Peradaban Arab Jahiliyah

Berbeda dengan Jazirah Arab, mereka masih memegang teguh nilai – nilai kemuliaan. Fitrah manusia mereka terbilang alami sebab belum tercampur hal – hal luar. Sebagaimana tabiat mereka cenderung bergerak pada perilaku – perilaku terpuji, seperti menepati janji, berani, menjaga harga diri dan sederhana.

Hanya saja mereka hidup di masa kebodohan, sehingga tabiat baik ini tidak dapat disalurkan sebagaimana mestinya. Misalnya, untuk mempertahankan harga diri dan kesederhanaan mereka tega membunuh anak – anak mereka sendiri. Untuk menunjukkan keberanian mereka sering terlibat perang berdarah – darah.

Karena menetap di padang pasir tandus, bangsa Arab Jahiliah hidup terasingkan dari gemerlap peradaban maju. Wilayah mereka bebas, tidak terjajah peradaban lain. Dengan demikian, mereka terhidar dari huru hara kepelikan yang mendera negara – negara maju.

Mereka hidup dalam kesederhanaan, belum mengenal gelimang harta dan kemewahan dunia. Cara berfikir mereka masih sangat simpel karena belum terpengaruh filsafat Yunani. Oleh karena itu, mereka pun terlepas dari bayang bayang khurafat dan tahayyul. Hal ini mempertegas bahwa fitrah alami manusia mereka masih terjaga.

Baca Juga :  Ini Beda Sedekah, Hadiah, dan Hibah

Hikmah Diturunkannya Islam di Jazirah Arab

Selanjutnya Al Buthi menjelaskan, sesungguhnya hikmah diturunkannya Islam di Jazirah Arab adalah kemudahan masyarakat menerima ajaran tersebut. Sebagai contoh, Jazirah Arab notabene wilayah buta huruf. Sebagian besar dari mereka tidak dapat membaca dan menulis. Rasulullah pun demikian tidak dapat membaca dan menulis.

Dengan begitu, ketika Al Qur’an disampaikan oleh Rasulullah kepada mereka, mereka akan percaya dan yakin bahwa Al Qur’an memang turun dari Allah, bukan karangan Nabi Muhammad, Saw. Contoh lainnya, bangsa Arab belum terpengaruh dogma dogma agama dan kerumitan filsafat sehingga lebih mudah menerima ajaran Islam.

Namun perlu digarisbawahi, bukan berarti umat lain yang sudah banyak terkontaminasi dan memiliki tingkat kompleksitasnya yang lebih tinggi sulit untuk menerima dakwah Islam. Karena kebanggaan atau keras kepala mereka terhadap pendapat yang mereka anggap benar.

Sementara orang – orang Arab masih lugu, mereka tidak mengingkari kebodohan sehingga akan lebih mudah ditundukan. Bukan begitu. Sejatinya, sebagimana penurutan Syekh Al Buthi, analisa ini ditujukan kepada dia yang memiliki kemampuan dan energi terbatas, sehingga membedakan mana yang mudah dan mana yang susah.

Andaikata Allah mau menjadikan Persia, Roma atau India sebagai tonggak dakwah Islam, maka sudah tentu Allah akan menyediakan kemudahan dan cara – cara tertentu sehingga syiar Islam akan tetap sukses seperti di Jazirah Arab. Ini tidak menjadi halangan, sebab kuasa Allah tidak ada batasnya.

Selain itu hikmah lainnya adalah Jazirah Arab dimuliakan dengan keberadaan Baitullah. Baitullah merupakan muara seruan ajaran agama tauhid yang diperkenalkan oleh nabi Ibrahim dengan agama hanifnya. Rasullullah sendiri masih keturunan Nabi Ibrahim.

Lalu dari sisi geografis, Jazirah Arab terletak di tengah – tengah bangsa lain. Sehingga pergerakan syiar akan lebih mudah tersebar. Ini dibuktikan oleh Khulafa ar-Rasyidin yang mampu memperluas wilayah Islam dengan begitu pesat hanya dalam kurun waktu singkat.

Baca Juga :  Dialog Lintas Agama Bersama Habib Umar

Hikmah lainnya adalah bahasa Arab sebagai bahasa yang dipakai untuk menafsirkan Kalamullah memiliki keistimewaan – keistimewaan yang sukar ditemui dalam bahasa – bahasa lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here