Hikmah Disyariatkannya Akad Salam

0
474

BincangSyariah.Com – Prinsip muamalah, khususnya transaksi niaga dalam islam ialah saling kerelaan. Artinya, ketika ada dua pihak atau lebih melakukan perniagaan, jangan sampai ada salah satu pihak yang kemudian merasa dirugikan. Untuk menghindari ketidakrelaan tersebut, syariat Islam membuat beberapa ketentuan. Diantaranya ialah mengharamkan transaksi jual beli barang yang tidak ada atau tidak dimiliki oleh pihak penjual. Contohnya ialah: Islam mengharamkan menjual burung yang ada di angkasa yang belum berada pada penguasaan seorang penjual.

Ketentuan semacam itu dibuat untuk menghindarkamn unsur ghurur dalam transaksi. Ghurur yang dimaksud disini ialah potensi penipuan dan tindakan merugikan salah satu pihak dalam transaksi.

Dalam praktiknya, penjualan barang yang belum ada dan belum dimiliki oleh manusia tidak seluruhnya diharamkan. Ada beberapa kemungkinan bahwa hal tersebut bisa diperbolehkan dengan berbagai ketentuan. Sebagaimana terjadi pada akad pesanan atau yang biasa disebut dengan akad salam. Akad ini diperbolehkan karena desakan kebutuhan manusia, dimana para pelaku usaha, pemilik perkebunan dan lainnya banyak sekali yang membutuhkan modal baik untuk menyediakan ongkos produksi, penyediaan alat produksi, atau membayar upah pekerja yang menjaga perkebunannya ataupun yang menjadi karyawan di perusahaannya. Sementara di sisi lain, ia tidak mesti mendapatkan investor ataupun pihak pemberi hutang modal tanpa bunga yang berpotensi riba.

Karena desakan kebutuhan tersebut, syariat Islam membuka peluang kehalalan akad salam dimana pada akad tersebut ada pembayaran uang muka yang memungkinkan pihak produsen untuk menjalankan roda usahanya.

Dari sisi lain, terkadang pihak produsen juga ragu-ragu untuk memproduksi sebuah komoditas karena belum tentu kedepannya ia akan mendapatkan konsumen yang membeli barang hasil produksinya. Dengan dibukanya kemungkinan melakukan akad salam, akan memberikan kejelasan kepada pihak produsen dalam berproduksi karena sudah pasti ada pihak pembeli yang menunggu keberadaan barang yang akan diproduksi.

Baca Juga :  Kajian Alquran: Dhomir dan Penafsiran Al Quran

Sebaliknya, pihak pembeli pun menjadi tidak kebingungan untuk mendapatkan barang yang sesuai dengan spesifikasi yang ia inginkan karena pada akad salam, ia akan leluasa menentukan spesifikasi barang yang ia harapkan.

Karena diawali dengan kronologi semacam itu, maka sudah selayaknya akad salam dibatasi dengan berbagai ketentuan dan persyaratan seperti kejelasan spesifikasi barang yang diinginkan oleh pihak pembeli, kesepakatan harga, kejelasan durasi waktu yang dibutuhkan sampai barang bisa disediakan, kejelasan tempat serah terima barang, dan hal-hal lainnya. Sekali lagi, semua itu berada dalam koridor prinsip muamalah dalam syariat Islam yang mengedepankan keuntungan untuk semua pihak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here