Hikmah Diciptakan Akal dan Hawa Nafsu pada Manusia

5
10104

BincangSyariah.Com – Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang dibekali akal untuk berpikir, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan semua anggota badan lainnya. Jika dalam hati seseorang telah terbesit sebuah keinginan untuk mengerjakan sesuatu walaupun pada jalan yang salah, maka secara otomatis akal lah nantinya yang akan membuat rancangan, bagaimana rencana ini bisa terlaksana.

Dalam sebuah hadis diriwayatkan;

أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْعَقْلُ فَقَالَ لَهُ : أَقْبِلْ فَأَقْبَلَ . ثُمَّ قَالَ لَهُ : أَدْبِرْ فَأَدْبَرَ . فَقَالَ : وَعِزَّتِي مَا خَلَقْت خَلْقًا أَكْرَمَ عَلَيَّ مِنْك فَبِك آخُذُ وَبِك أُعْطِي (رواه الأصبهاني)

“Makhluk pertama yang diciptakan Allah adalah akal. Allah selanjutnya berkata kepada akal, Mendekatlah! Dan akalpun mendekat. Selanjutnya Allah berkata, kembalilah dan akalpun kembali. Akhirnya Allah berkata, Demi kekuasaan dan kemuliaan-Ku, aku tidak menciptakan satu ciptaan pun yang lebih aku cintai daripada engkau. Dengan engkaulah Aku mengambil, dan dengan engkaulah Aku memberi.” (HR Al-Ashbihany)

Hadis ini menunjukkan hubungan antara akal dengan hukum-hukum ilahi atau syariat. Hubungan keduanya serupa dengan jiwa dan tubuh serta saling ketergantungan antar keduanya. Kemudian yang perlu disadari bahwa semua kehidupan manusia pada dasarnya adalah sebuah kegiatan yang didasarkan pada akal dan pemahaman.

Di dalam ukuran-ukuran ini kesadaran manusia terwujud. Manusia harus menyadari bahwa sebagai makhluk yang berbicara dan berpikir ia memiliki dua kekuatan, ilmu pengetahuan dan perbuatan. Setiap kekuatan ini memiliki taraf-taraf kesempurnaan dan ketidaksempurnaannya masing-masing.

Taraf yang paling sempurna adalah apa yang disebut sebagai akal yang mampu mempersepsi sesuatu dan akal ini berkenaan dengan pencapaian ilmu pengetahuan yang mungkin dipelajari. Akal ini juga berkenaan dengan ilmu pengetahuan tentang jalan yang benar, jalan yang mengantarkan manusia untuk mencapai ilmu-ilmu ini tanpa sedikitpun keraguan atau kebingungan sehubungan dengan kepastiannya dan ketidakpastiannya, terhindar dari kekeliruan dan kesesatan nalar.

Baca Juga :  Semoga Mendapat Lailatul Qodar, Ini Delapan Amalan Sunah Menurut para Ulama

Di samping diciptakannya akal dalam diri manusia, Tuhan juga menciptakan apa yang disebut dengan dengan nafsu. Yaitu kecondongan jiwa kepada perkara-perkara yang selaras dengan kehendaknya. Allah menciptakan malaikat dengan menyertakan akal tanpa hawa nafsu. Dan menciptakan binatang dengan menyertakan hawa nafsu tanpa akal.

Sedangkan Allah menciptakan manusia dengan menyertakan akal dan hawa nafsu sekaligus. Maka barang siapa yang ilmunya (akal) menguasai hawa nafsu maka dia lebih baik dari malaikat dan barang siapa yang hawa nafsunya mengalahkan ilmunya maka dia lebih buruk dari binatang.

Allah swt berfirman;

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapatkan petunjuk dari Allah sedikitpun.” (Al-Qashash: 50)

Jika malaikat senantiasa taat itu karena mereka diciptakan tanpa disertai hawa nafsu yang menentangnya, tetapi manusia yang dititahkan disertai hawa nafsu lalu dia mampu menundukkan nafsu dengan ilmunya maka dia manusia istimewa. Demikian pula halnya,  menjadi kewajaran jika binatang hanya makan dan menuruti syahwatnya karena memang mereka diciptakan tanpa diberi akal.

5 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Dalam KBBI akal sehat atau pikiran sehat adalah akal budi. Akal tanpa budi adalah akal saja bukan akal sehat. Akal barulah bisa disebut “akal sehat” bila akal ada bersama-sama dengan budi. Tidak ada perasaan di dalam akal. Sebab, akal pada dirinya sendiri tidak punya perasaan. Elemen perasaan ada di hati. Akal menjadi tahu apa itu perasaan bila melibatkan hati. Oleh sebab itu, akal tanpa budi memiliki potensi negatif, yakni tipu daya; muslihat; kecerdikan; kelicikan. (Baca: Hikmah Penciptaan Akal dan Hawa Nafsu) […]

  2. Apakah akal disini yg dimaksud Nur Muhamad (kalam), kalau dilihat dari sisi awal penciptaan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here