Hijrah dan Jihad Politis: Syarah Atas Ceramah Prof. Noorhaidi Hasan di Masjid UGM

0
1029

BincangSyariah.Com – Ad-din al-mu‘amalah (agama perilaku) merupakan istilah yang sangat mengemuka di antara kalangan mayoritas umat Islam. Mereka menganggap istilah tersebut sebagai bagian dari esensi keagamaan. Sehingga penting dikampanyekan dan diviralkan dalam kehidupan masyarakat Muslim di seantero dunia. Menurut Syekh Yusuf al-Qaradhawi, meskipun secara teks istilah tersebut bukan merupakan hadis, tetapi secara makna ia sangat sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan hadis (Ri‘ayah al-Bi’ah fi Syari‘ah al-Islam, 2001: 26).

Istilah ad-din al-mu‘amalah ini menghendaki setiap Muslim berperilaku dan berhubungan baik terhadap segala sesuatu, baik kepada Tuhannya, dirinya sendiri, sesama manusia (baik jauh maupun dekat; baik Muslim maupun non Muslim), binatang, tumbuhan, bebatuan, air, udara, maupun makhluk-makhluk lain.

Dengan demikian, melalui istilah ad-din al-mu‘amalah ini, mayoritas umat Islam menegaskan bahwa agama (Islam) bukan semata-mata melaksanakan ritual dan syiar keagamaan, tetapi juga harus menjaga perilaku dan hubungan baik terhadap seluruh makhluk Allah.

Bahkan, menurut Ibn al-Qayyim, agama seluruhnya adalah perilaku baik (budi pekerti). Sehingga kualitas keislaman seseorang ditentukan oleh kualitas perilaku baiknya. Artinya, semakin tinggi kualitas perilaku baik seorang Muslim, maka semakin tinggi pula kualitas keislamannya (hlm. 25-26).

Di sisi lain, Syekh Abdullah bin Bayyah menyebutkan bahwa agama sejatinya adalah kekuatan perdamaian, kasih-sayang, dan keselarasan. Namun, ia terkadang disalahgunakan oleh orang-orang tertentu, baik karena tidak mengerti persoalan agama secara baik maupun memiliki tujuan buruk terhadap agama. Sehingga penyalahgunaan agama tersebut melahirkan perang, huru-hara, dan kehancuran dalam kehidupan manusia (lihat akun Twitter @AlmuwattaCenter, 05/05/2020).

Pentingnya perilaku baik (budi pekerti) ini banyak disebutkan dalam dunia tasawuf. Sebab, perilaku baik kepada seluruh makhluk merupakan salah satu rukun yang harus dipenuhi dalam tasawuf. Dalam hal ini, para ulama tasawuf menyebutkan tasawuf sebagai: “berhubungan secara benar dan baik kepada Pencipta dan berperilaku baik kepada seluruh makhluk (ash-shidq ma‘a al-haq wa al-khuluq ma‘a al-khalq).”

Oleh karena itu, sebagian mereka menganggap tasawuf seluruhnya adalah perilaku baik. Sehingga kualitas tasawuf seseorang ditentukan oleh kualitas perilaku baiknya (Ri‘ayah al-Bi’ah fi Syari‘ah al-Islam, hlm. 25).

Dalam konteks ini, tidak heran apabila Syekh Abdullah bin Bayyah menghendaki keamanan dan kebahagiaan hidup di setiap daerah di berbagai penjuru dunia yang sama-sama dirasakan oleh seluruh umat manusia, baik Muslim maupun non Muslim.

Beliau sama sekali tidak menghendaki keamanan dan kebahagiaan hidup yang hanya dirasakan oleh masyarakat Muslim semata. Sementara masyarakat non Muslim mengalami intimidasi dan penindasan (lihat akun Twitter @WorldofSufis).

Namun demikian, beberapa Muslim radikal seringkali merusak keindahan Islam dan menyempitkan makna Islam hanya kepada pemahaman dan kelompok mereka saja. Sehingga mereka berperilaku baik dan menebarkan kasih-sayang hanya kepada orang-orang yang satu kelompok dan satu paham. Sebab, mereka menganggap kelompok dan paham lain di luar mereka adalah salah.

Oleh karena itu, mereka membid‘ahkan, menyesatkan, dan bahkan memurtadkan dan mengafirkan Muslim lain hanya karena berbeda pemahaman dan praktik keislaman. Bahkan mereka tidak segan-segan memusuhi dan menyerang kelompok lain yang memang memiliki pemahaman dan praktik keislaman berbeda.

Baca Juga :  Mahasiswi al-Azhar Dikeluarkan Gara-gara Dipeluk Tunangannya

Dalam hal ini, kalangan Wahhabi, misalnya, mengeksklusifkan istilah Muslim hanya kepada pemeluk Wahhabisme semata. Adapun kelompok lain di luar mereka dianggap kafir, murtad, dan musyrik. Kenyataan ini sudah lama terjadi, bahkan sejak pertama teologi dan doktrin Wahhabisme dibangun dan diembuskan. Bagaimana dahulu Muhammad ibn Abd al-Wahhab (Pendiri Wahhabi) tidak hanya memurtadkan orang-orang sufi dan Syiah, tetapi belakangan juga memurtadkan setiap Muslim yang tidak setuju dengan pendapatnya dan boleh ditindak (Alexander R. Alexiev, The Wages of Extremism, 2011: 41).

Oleh karena itu, tidak heran apabila negara Wahhabi-Saudi pernah menyerukan jihad melawan semua orang yang dianggap kafir, murtad, dan musyrik, yaitu orang-orang yang memiliki pemahaman berbeda dengan tauhid Wahhabisme (Hamid Algar, Wahhabisme, 2011: 36). Begitu pula dengan para misionaris Wahhabisme yang gencar menyebarkan kebencian terhadap non Muslim dan menolak orang-orang Islam yang tidak sepaham dengan Wahhabisme karena dianggap telah murtad (Yaroslav Trofimov, Kudeta Mekkah, 2011: 315-317).

Selain itu, Muhammad al-Saud yang berhasil memadukan keberanian tentara suku Najd dengan fanatisme doktrin Wahhabisme untuk mengukuhkan kekuasaan dan politiknya di Arab Saudi pernah mempolitisasi istilah ikhwan (saudara).

Dalam hal ini, al-Saud memanfaatkan kaum Badui Najd sebagai pasukan untuk menaklukkan daerah-daerah di Jazirah Arab, termasuk Arab Saudi itu sendiri. Mereka sengaja dididik dengan doktrin Wahhabi yang sangat ketat dan diberi gelar ikhwan. Sehingga istilah ikhwan (saudara) hanya khusus untuk kalangan mereka (Kudeta Mekkah, hlm. 26). Padahal menurut al-Qur’an semua manusia adalah bersaudara meskipun berbeda jenis kelamin, agama, aliran, mazhab, kebangsaan, dan tradisi (M. Quraish Shihab, Corona Ujian Tuhan, 2020: 96).

Oleh karena itu, para ikhwan tersebut membuat identitas sendiri yang berbeda dengan kelompok Muslim lain, seperti memendekkan jubah-jubahnya dan terkadang mengecat janggutnya dengan pacar warna merah. Mereka juga tidak mau menjawab salam Muslim lain yang bukan merupakan anggota ikhwan (Kudeta Mekkah, hlm. 26-27).

Namun, belakangan para ikhwan tersebut membangkang terhadap otoritas Arab Saudi yang dipimpin oleh keturunan-keturunan al-Saud. Pembangkangan ini pada puncaknya melahirkan pemberontakan luar biasa, kudeta Mekah, dan pengambilalihan Masjidil Haram yang dilakukan oleh Juhaiman, seorang pemuda yang lahir dari kalangan ikhwan yang telah dihancurkan oleh otoritas Arab Saudi. Hal ini terjadi karena mereka berseberangan dengan otoritas Arab Saudi yang sudah dianggap melenceng jauh dari perintah Tuhan (Kudeta Mekkah, hlm. 26-29).

Di sisi lain, gerakan Salafi, terutama di Mesir, semakin menampakkan wajah dan cara radikal. Dalam hal ini, Sayyid Qutb, misalnya, menganggap masyarakat Muslim kontemporer sebagai neo-Jahiliyah (Wahhabisme, hlm. 61). Bahkan dia menganggap kafir penguasa yang telah gagal menegakkan syariat Islam dan setiap Muslim yang dianggap tidak menaati syariat Islam. Sehingga jihad (perang) harus ditegakkan kepada setiap Muslim yang tidak menaati syariat Islam, baik penguasa maupun masyarakat Muslim sipil. Sebab, mereka adalah musuh agama karena telah murtad (Noorhadi Hasan, Islam Politik di Dunia Kontemporer, 2012: 78).

Pemikiran Sayyid Qutb kemudian menginspirasi lahirnya kelompok Jama‘ah al-Takfir wa al-Hijrah yang dipimpin oleh Syukri Musthafa. Melalui konsep takfir jama‘i (pengkafiran secara kolektif), Syukri Musthafa menganggap masyarakat sekarang secara umum adalah kafir karena mereka hidup di bawah hukum jahiliah dan tidak mau menegakkan hukum dan kedaulatan Tuhan/hakimiyyah (lihat Inspirasi Jihad Kaum Jihadis, 2017: 216).

Baca Juga :  Bom Bunuh Diri bukan Jihad

Oleh karena itu, tidak heran apabila di Mesir lahir beberapa kelompok Muslim ekstrem (seperti Jama‘ah at-Takfir, Jama‘ah al-Kahfi, dan Jama‘ah al-Hijrah) yang suka mengafirkan dan memurtadkan Muslim lain, baik melalui karya tulis maupun deklarasi secara langsung (Yusuf al-Qaradhawi, Zhahirah al-Guluww fi at-Takfir, 1990: 16-17).

Azyumardi Azra menyebut beberapa gerakan Muslim radikal sebagai “neo-Khawarij”. Dalam praktiknya, mereka menggunakan tiga langkah pokok dalam menjalankan gerakannya, yaitu: takfir (pengkafiran), hijrah, dan jihad. Dalam hal ini, mereka biasanya mengafirkan mayoritas Muslim yang dianggap telah menyimpang dari ajaran Islam dan tidak menjalankan hukum-hukum Allah. Sehingga mereka akan memisahkan diri dari orang-orang yang dianggap kafir dan kemudian melaksanakan jihad (perang) melawan mereka (lihat Reformulasi Ajaran Islam, 2017: 369).

Penjelasan tersebut memberikan pemahaman bahwa term hijrah dan jihad, meminjam istilah Prof. Noorhaidi Hasan, telah bergeser dari hijrah dan jihad spiritual-transendental ke hijrah dan jihad politis.

Dalam hal ini, kalangan Muslim radikal menjauhi dan bahkan menyerang Muslim lain hanya karena tidak sejalan dengan teologi, doktrin, dan kepentingan mereka. Sikap dan perilaku mereka bertalian erat dengan konsep al-wala’ wa al-bara’ yang disalahpahami dan disalahgunakan. Sehingga mereka hanya loyal dan mencintai orang-orang yang satu kelompok dan sepaham dan menjauhi dan membenci Muslim lain yang tidak sepaham.

Syekh ‘Abd al-Fattahal-Yafi‘i mengkritik pemikiran dan sikap ekstrem sebagian Muslim yang menyalahpahami dan menyalahgunakan konsep al-wala’ wa al-bara’ ini. Sehingga mereka membuat orang lain takut kepada Islam, bersikap ekstrem, dan bahkan menumpahkan darah atas dasar al-wala’ wa al-bara’. Kritik ini ditulis secara apik dan mendalam dalam karyanya, Tashhih Mafahim fi al-Wala’ wa al-Bara’.

Menurutnya, konsep al-wala’ wa al-bara’ di antara sesama Muslim yang diajarkan oleh al-Qur’an dan hadis adalah mewajibkan setiap Muslim saling mencintai, menolong, dan mendukung Muslim lain tanpa syarat, baik satu kelompok maupun tidak; baik sepaham maupun tidak; baik sebangsa maupun tidak; baik ahli ibadah, ahli maksiat, maupun ahli bid‘ah.

Oleh karena itu, pemahaman ekstrem sebagian Muslim (atas dasar al-wala’ wa al-bara’) yang mengajarkan harus menjauhi dan membenci Muslim lain yang ahli maksiat atau bid‘ah adalah tidak benar. Sebab, ia bertentangan dengan ketentuan al-Qur’an dan hadis yang mewajibkan setiap Muslim saling mendukung dan mencintai sesama Muslim tanpa syarat. Selain itu, pemahaman untuk meninggalkan (hijrah) dan bersikap keras kepada Muslim lain yang ahli maksiat atau ahli bid‘ah adalah bertentangan dengan hadis-hadis sahih yang menghendaki perilaku dan hubungan baik di antara sesama Muslim.

Lebih lanjut Syekh ‘Abd al-Fattah menegaskan bahwa tidak ada satupun teks keagamaan, baik al-Qur’an maupun hadis, yang mengajarkan setiap Muslim harus membenci dan menjauhi Muslim lain hanya karena ahli maksiat atau bid‘ah. Sebab, meskipun Muslim tertentu ahli maksiat atau bid‘ah, tetapi dalam dadanya masih terpatri indah kalimat agung la ilaha illallah muhammadur rasulullah.

Berbeda apabila seorang Muslim membenci dan menjauhi perbuatan maksiat atau bid‘ah Muslim tertentu, maka perbuatan ini dibenarkan dalam Islam. Artinya, dia membenci dan menjauhi perbuatan maksiat dan bid‘ahnya, bukan kepada entitas orangnya sebagai Muslim (lihat Tashhih Mafahim fi al-Wala’ wa al-Bara’).

Baca Juga :  Hukum Memburu Berkah Melalui Sandal Ulama

Dengan demikian, apa yang salah dengan ceramah Prof. Noorhaidi Hasan, sehingga harus dihapus? Apalagi beliau memang seorang sarjana Muslim yang ahli (pakar) di bidang Salafisme dan radikalisme. Sehingga ceramah tersebut merupakan penjelasan singkat dari beberapa hasil penelitian mendalam yang beliau lakukan sebelumnya. Artinya, kalau kita membaca hasil-hasil penelitian beliau (baik berupa artikel maupun buku), maka kita tidak akan kaget apalagi marah-marah terhadap ceramah beliau.

Menurut saya, memang salah satu tugas beliau adalah menyampaikan (baik berupa karya maupun ceramah) bahaya gerakan Muslim radikal yang tidak jarang menyalahkangunakan dan mempolitisasi ajaran-ajaran Islam untuk mendukung kepentingan mereka.

Hal ini penting diperhatikan karena paham dan perilaku mereka mengancam dan bahkan bisa menghancurkan keindonesiaan, keislaman, dan kemanusiaan yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Bagaimanapun ad-daf‘u awla min ar-raf‘i (menolak adalah lebih utama daripada menghilangkan). Sehingga Muslim milenial Nusantara terhindar dan selamat dari cumbu-rayu dan tipu-daya doktrin-doktrin keislaman kalangan Muslim radikal yang keras dan brutal.

Saya kira tepat apabila Prof. Noorhaidi Hasan mengajak generasi Muslim milenial agar menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk melaksanakan hijrah spiritual-transendental, yaitu: “berpindah dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah kepada hal-hal yang disukai oleh Allah.” Hal ini sejalan dengan ketentuan hadis sahih, yaitu: “orang yang berjihad adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya dalam rangka taat kepada Allah dan orang yang berhijrah adalah orang yang hijrah dari larangan-larangan Allah (Ibn al-Qayyim, Zad al-Ma‘ad fi Hadyi Khair al-‘Ibad, 2009: 331).”

Artinya, hijrah spiritual-transendental menghendaki setiap Muslim meninggalkan sikap dan perilaku buruk (seperti malas belajar dan ibadah, tamak, hedonis, korupsi, ingkar janji, merasa paling benar dan suci sendiri, suka menyesatkan dan mengafirkan orang lain, dan menebar teror, hoaks, dan permusuhan) menuju sikap dan perilaku baik (seperti semangat belajar dan ibadah, menjaga kehormatan, menjaga kerukunan berbangsa dan beragama, rendah hati, menebarkan perdamaian dan kasih-sayang, ikhlas, dan istikamah).

Sementara jihad spiritual-transendental menghendaki setiap Muslim berjuang sekuat tenaga melawan gejolak hawa nafsu yang tanpa lelah mengajak kepada perilaku-perilaku buruk. Menurut Imam Nawawi al-Jawi (Kasyifah as-Saja, hlm. 14-15), jihad melawan hawa nafsu merupakan al-jihad al-akbar (jihad besar). Sedangkan jihad melawan musuh yang menyerang dan menegakkan agama Islam adalah jihad kecil (al-jihad al-ashgar).

Akhirnya, kalau memang benar pihak Masjid Kampus Mardliyyah UGM yang mengundang Prof. Noorhaidi Hasan berceramah dan kemudian pihak masjid pula yang menghapus video ceramah tersebut di laman Masjid Kampus Mardliyyah UGM, maka saya hanya teringat dengan lirik lagu “Kegagalan Cinta” karya H. Rhoma Irama, yaitu: “kau yang memulai kau yang mengakhiri/ kau yang berjanji kau yang mengingkari.” Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here