Hijrah Bukan Sinonim Menikah

2
1536

BincangSyariah.Com – Berbagai tren dan citra keislaman yang mulai fenomenal semenjak film Ayat Ayat Cinta (2008) dan gelombang pasang selebriti hijrah berhasil menjadi magnet gaya hidup bagi kalangan muslim perkotaan, khusunya muda-mudi. Demikian pernyataan Yuswohady dalam bukunya Marketing to Middle Class Muslim.

Maka ketika beberapa idola mereka hijrah kemudian menikah, perbawa tersebut segera mengarus utama, diterjemahkan bahwa hijrah (berubah menjadi baik) dan pernikahan adalah satu paket. Secara de jure memang tidak ditemukan diktumnya, tapi secara de facto, menjamurnya seminar/kajian pra-nikah dan suara kegalauan kawan-kawan hijrah di lini masa (penulis) memberikan pondasi tesis tersebut.

Seringkali surat an-Nur ayat 26 dikutip untuk menyiratkan kekakhawatiran akan kualitas spiritual (calon) pasangan hidup:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).

Perlu digaris tebal, terma hijrah dalam konteks hadis yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab ra. justru mengkritik fenomena yang sedang hits ini dengan redaksi:

… ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة يتزوجها فهجرته إلى ما هاجر إليه

“… Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia atau wanita yang hendak dinikahinya, maka (kualitas) hijrahnya sesuai kemana ia hijrah”

Syaikh Musthafa Dieb al-Bugha dalam al-Wafi menerangkan bahwa sebab sabda Nabi SAW ini (asbab al-wurud) adalah sahabat muharijirn yang spirit berhijrahnya karena ingin menikahi wanita muslimah bernama Ummu Qais.

Tidak disebutkan bagaimana kelanjutan kisah cinta pemuda tersebut, apakah dia berhasil meluluhkan hati Ummu Qais dan istiqomah menjadi muslim yang baik, atau malah sebaliknya. Jadi memang bukan hak siapapun untuk menghakimi hijrah cum menikahnya sesorang, karena boleh jadi asmara tersebut hanya pemantik bagi si pemuda untuk kemudian ikhlas berjuang di jalan Allah.

Baca Juga :  Calon Suami Belum Mampu, Sahkah Menikah Tanpa Mahar?

Namun hemat penulis, teguran Rasulullah dalam hadis ini sangat relevan dengan peristiwa faktual sekarang dan perlu dipertimbangkan, agar dalam berhijrah kita tidak memilih niat yang kurang tepat.

Adapun fakta historis bahwa setibanya di Madinah, Nabi SAW mempersaudarakan kaum muhajirin dan anshar (mu’akhah),  kemudian beberapa di antara sahabat tersebut ada yang menikah, juga tidak bisa sepenuhnya dijadikan landasan dalil “menikah setelah berhijrah”.

Buktinya, Abdurrahman bin ‘Auf menolak tawaran saudaranya untuk membangun rumah tangga dan malah memilih untuk membangun ekonomi dan peradaban Madinah dengan berdagang.

Menurut para ulama, menikah hanya diwajibkan bagi mereka yang memiliki potensi sensualitas-delusional-imajiner (syahwat) tak terbendung. (Baca: Ini Pendapat Empat Mazhab Kapan Menikah Menjadi Wajib) Jadi pilihan itu tetap ada di tangan muhajirun cum tawwabun. Berhijrah tidak melulu harus dibarengi dengan menikah, walaupun realitas sosial kita berkata lain. Wallahua’lam.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here