Hewan yang Haram Dimakan Menurut Ulama 4 Mazhab

0
43

BincangSyariah.Com – Hewan yang haram dimakan karena zatnya (‘ainiyyah) ada dua. Pertama, ada yang disepakati oleh para ulama. Kedua, ada pula yang masih diperselisihkan di antara mereka. Ulama fikih sepakat bahwa daging babi dan darah yang mengalir termasuk hewan yang haram dimakan karena zatnya. (Imam Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, 1415 H., II: 512- 513).

Sementara hewan yang haram dimakan karena zatnya yang masih diperselisihkan oleh para ulama fikih adalah: (1) binatang buas, baik dari jenis burung maupun dari jenis binatang yang berkaki empat; (2) binatang yang memiliki kuku dan jinak, seperti kuda, bagal, dan himar; (3) binatang yang diperintah dibunuh di tanah Haram, seperti gagak, rajawali, kalajengking, tikus, dan anjing yang galak; dan (4) binatang yang menjijikkan, seperti serangga, katak, ketam, dan kura-kura (hlm. 514).

Hukum Memakan Daging Hewan Buas yang Berkaki Empat

Menurut mazhab asy-Syafi‘i, mazhab Hanafi, Imam Asyhab, dan sebagian sahabat Imam Malik, binatang buas yang berkaki empat haram dimakan. Namun, mereka masih berbeda pendapat tentang maksud binatang buas.

Mazhab Hanafi menyebutkan bahwa semua binatang yang memakan daging adalah binatang buas, seperti dubuk (hyena/sejenis anjing hutan), binatang sejenis tikus (yarbu‘), dan kucing. Sedangkan mazhab asy-Syafi‘i menyebutkan bahwa binatang buas yang haram dimakan adalah binatang yang menyerang manusia, seperti singa, macan tutul, dan serigala. Adapun dubuk (hyena) dan rubah adalah halal dimakan (hlm. 514- 515).

Selain itu, jumhur ulama berpendapat bahwa haram memakan monyet dan memanfaatkannya. Begitu pula dengan anjing, di mana menurut kalangan mazhab asy-Syafi‘i, haram memakan anjing dan memanfaatkannya (hlm. 515).

Sementara mazhab Maliki berpendapat bahwa makruh memakan daging binatang buas yang berkaki empat, seperti singa, macan tultul, serigala, beruang, gajah, macan kumbang, garangan, dan kucing (baik jinak maupun liar). Namun, para ulama mazhab Maliki masih berbeda pendapat mengenai monyet dan anjing (Syekh ‘Abdurrahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-‘Arba‘ah, 2011, II: 5).

Menurut pendapat yang muktamad dalam mazhab Maliki, monyet makruh dimakan. Pendapat lain mengatakan haram memakan monyet. Begitu pula dengan anjing. Menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab Maliki, anjing haram dimakan.

Sedangkan menurut pendapat lain, memakan anjing adalah makruh (hlm. 5 & 7). Keterangan berbeda disebutkan oleh Syekh Wahbah az-Zuhaili. Menurutnya, pendapat yang muktamad dalam mazhab Maliki mengatakan bahwa makruh memakan anjing yang jinak (al-Fiqh al-Islamiyy wa Adillatuhu, 1985, III: 508).

Hukum Memakan Daging Hewan Liar yang Tidak Buas

Para ulama mazhab sepakat (ijmak) bahwa binatang ternak (seperti unta, sapi, dan kambing) adalah halal dimakan berdasarkan ayat al-Qur’an (hlm. 509). Menurut Syekh Wahbah az-Zuhaili, binatang liar yang tidak buas adalah halal dimakan, seperti kijang, sapi hutan, dan himar hutan, sebagaimana disebutkan dalam hadis. Begitu pula dengan kelinci dan belalang, di mana umat Islam boleh memakan keduanya berdasarkan sebuah hadis (hlm. 509).

Pendapat senada disampaikan oleh kalangan mazhab Maliki. Menurut mereka, binatang liar yang tidak buas adalah halal dimakan, seperti kijang, himar, binatang sejenis tikus (yarbu‘), tikus bermata kecil pemakan serangga, sejenis kelinci kecil, kelinci, dan landak (hlm. 510).

Dalil Hukum Memakan Daging Hewan Buas yang Berkaki Empat

Perbedaan para ulama mazhab tentang hukum memakan binatang buas tersebut disebabkan oleh perbedaan dalil dan pemahaman terhadap dalil. Dalam hal ini, Allah berfirman: “Katakanlah, “Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi” (al-An‘am (06): 145).

Dengan demikian, ayat tersebut mengajarkan bahwa binatang yang haram dimakan adalah bangkai, darah yang mengalir, dan daging babi. Adapun binatang lain yang tidak disebutkan dalam ayat tersebut adalah halal.

Namun, para ulama yang mengharamkan binatang buas yang berkaki empat adalah berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abi Tsa‘labah al-Khusyani, yaitu: “Rasulullah saw. melarang memakan setiap binatang buas yang memiliki taring. Sesungguhnya binatang buas adalah haram.” Adapun Imam Malik menyebutkan hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yaitu: “memakan setiap binatang buas yang memiliki taring adalah haram” (Bidayah al-Mujtahid, hlm. 515).

Menurut Imam Ibnu Rusyd, apabila ketentuan al-An‘am (06): 145 digabungkan dengan hadis riwayat Abi Tsa‘labah al-Khusyani, maka larangan dalam hadis tersebut bermakna makruh, bukan haram. Artinya, memakan binatang buas yang berkaki empat adalah makruh, bukan haram. Sedangkan hadis riwayat Abu Hurairah tersebut tidak bisa bisa digabungkan dengan al-An‘am (06): 145. Sehingga hadis itu harus dipahami sebagai nasikh (pengganti) terhadap ketentuan al-An‘am (06): 145 (hlm. 515- 516).

Dalam hal ini, sebagian ulama menganggap bahwa “penambahan” merupakan salah satu bentuk naskh (pengganti), di mana al-Qur’an bisa diganti (naskh) dengan hadis yang mutawatir. Dengan kata lain, ketentuan hadis riwayat Abu Hurairah itu menjadi penambah terhadap ketentuan al-An‘am (06): 145 mengenai binatang yang haram dimakan, yaitu: bangkai, darah yang mengalir, daging babi, dan daging binatang buas yang berkaki empat (hlm. 516). 

Hukum Memakan Burung yang Buas

Jumhur ulama sepakat bahwa burung yang buas adalah halal dimakan berdasarkan dalil al-Qur’an. Sementara sebagian ulama menganggap bahwa burung yang buas adalah haram dimakan berdasarkan hadis: “Rasulullah saw. melarang memakan setiap binatang buas yang berkaki empat yang memiliki taring dan setiap burung yang memiliki cakar.

Menurut Imam Ibnu Rusyd, hadis ini tidak disebutkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, tetapi hanya disebutkan oleh Imam Abu Dawud (hlm. 517).

Selain itu, menurut mazhab Maliki, umat Islam boleh (halal) memakan setiap binatang yang suci dan tidak memudaratkan selama binatang itu bukan milik orang lain. Oleh karena itu, umat Islam boleh memakan setiap burung yang bercakar, seperti elang, burung nasar, rajawali, semua jenis gagak, burung hantu, walet, dan sebagainya.

Sedangkan burung hudhud dan kelelawar adalah makruh. Pendapat lain dalam mazhab Maliki menyebutkan bahwa kelelawar adalah haram (Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-‘Arba‘ah, hlm. 5). Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here