Hukum Berkurban dengan Hewan Kurban yang Sedang Hamil?

0
1415

BincangSyariah.Com – Pernah seseorang berkurban dan setelah hewan kurban tersebut disembelih, ternyata baru diketahui bahwa hewan tersebut sedang hamil. Oleh sebab itu, ada sebagian ustadz yang menyarankan agar orang tersebut berkurban dengan hewan lain dengan alasan berkurban dengan hewan hamil tidak boleh. Benarkah demikian?

Dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa ada empat cacat yang membuat hewan tidak boleh dijadikan hewan kurban. Pertama, buta sebelah dan jelas kebutaannya. Kedua, sakit parah. Ketiga, pincang parah. Keempat, sangat kurus hingga tidak punya tulang sumsum. (Baca: Orang yang Bernazar Berkurban, Bolehkah Memakan Dagingnya?)

Adapun mengenai hewan yang sedang hamil, maka para ulama berbeda pendapat. Setidaknya ada dua pendapat ulama dalam masalah ini.

Pertama, berkurban dengan hewan hamil hukumnya tidak sah. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama Syafiiyah. Mereka beralasan bahwa hewan yang sedang hamil tidak layak dijadikan kurban karena kehamilan yang dialami hewan tersebut membuatnya kurus dan mengakibatkan kualitas dagingnya tidak bagus.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Fatawa Al-Ramli berikut;

سُئِلَ هَلْ تُجْزِئُ الْأُضْحِيَّةُ بِالْحَامِلِ أَوْ لَا؟ فَأَجَابَ بِأَنَّهُ لَا تُجْزِئُ التَّضْحِيَةُ بِهَا؛ لِأَنَّ الْحَمْلَ يُهْزِلُهَا؛ وَلِأَنَّ لَحْمَهَا رَدِيء

Imam Al-Ramli pernah ditanya, apakah boleh berkurban dengan hewan hamil atau tidak? Beliau menjawab; Tidak cukup (boleh) berkurban dengan hewan hamil karena kehamilan membuatnya kurus dan mengakibatkan dagingnya jelek atau tidak bagus.

Ini juga disebutkan oleh Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin dalam kitab Busyra Al-Karim berikut;

وَلَا يَجُوْزُ التَّضْحِيَةُ بِحَامِلٍ عَلَى الْمُعْتَمَدِ؛ لِأَنَّ الْحَمْلَ يَنْقُصُ لَحْمُهَا، وَزِيَادَةُ اللَّحْمِ بِالْجَنِيْنِ لَا يَجْبُرُ عَيْباً كَعَرْجَاءَ سَمِيْنَةٍ

Tidak boleh berkurban dengan hewan hamil menurut pendapat ulama yang kuat, karena kehamilan binatang mengurangi dagingnya, sementara bertambahnya daging disebabkan janin tidak dapat menambal kecacatan, sebagaimana hewan pincang yang gemuk.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Jangan Pernah Putus Asa untuk Sebuah Kemuliaan

Kedua, berkurban dengan hewan hamil hukumnya boleh dan sah. Ini adalah pendapat Ibnu Rif’ah. Menurut beliau, meski hewan hamil dagingnya berkurang dan kualitasnya tidak bagus, namun kekurangan itu bisa ditambal dengan janin yang sedang dikandung. Janin tersebut bisa jadi kurban sebagaimana induknya, dan berfungsi untuk menutupi kekurangan daging yang ada pada induknya.

Dengan demikian, berkurban dengan hewan hamil masih diperselisihkan para ulama. Kebanyakan ulama tidak membolehkan, namun sebagian yang lain membolehkan. Oleh karena itu, menurut pendapat pertama, jika hewan kurban yang hamil terlanjur disembelih, maka tetap halal dimakan dan dibagikan sebagai sedekah biasa. Namun menurut pendapat kedua, hewan tersebut tetap berstatus sebagai kurban, bukan sedekah biasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here