Herayati dan Tiga Modal Pentingnya

0
195

BincangSyariah.Com – Salut dan terharu kemarin saya lihat Herayati dan bapaknya di beberapa stasiun televisi. Hera, yang alumni madrasah (Tsanawiyah dan Aliyah) jadi viral karena anak tukang becak dari Cilegon lulus S2 terbaik Jurusan Kimia Fakultas MIPA Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui jalur fast-track (S1 3 setengah tahun dan S2 10 bulan). Saat S1, ia mendapatkan beasiswa bidik-misi (full spp dan biaya hidup) dan S2 beasiswa voucher (gratis SPP saja).

Sekarang Hera diminta menjadi dosen luar biasa di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten pada Fakultas Teknik. Hera ingin mengabdi untuk Banten dan berencana lanjut S3 ke-Eropa setelah minimal 2 tahun menjadi dosen.

Hera memang tidak punya modal “ekonomi” dari orang tuanya. Tapi saya lihat dia punya 3 modal lain yang tak kalah pentingnya.

Pertama, semangat. Terlepas dari keterbatasan ekonomi keluarga, Hera dari kecil tumbuh menjadi anak yang semangat. Selalu optimis dan punya cita-cita. Dia juga bekerja keras untuk mencapainya.

Kadang saya masih lihat anak muda yang pesimis karena keterbatasan-keterbatasannya. Alih-alih semangat, mereka justru seperti menyalahkan keadaan yang kurang kondusif untuk mereka berkembang. Mereka tidak benar-benar serius dan kerja keras untuk mencari alternatif keluar dari situasi sulit. Justru lebih fokus ke hambatannya.

Kedua, Pede dengan latar belakang dan masa lalunya. Hera tidak merasa rendah diri, apalagi malu hanya karena anak tukang becak. Dia juga melihat sisi positif dari latar belakangnya. Meski tidak men-support secara materi, tapi bapaknya memberi kebebasan Hera untuk berkembang dan tak henti mendoakan kesuksesannya.

Satu lagi, Hera melihat masa lalu yang penuh keterbatasan itu secara ikhlas. Beberapa kali menjadi reviewer dan interviewer beasiswa, kadang saya menemukan anak-anak muda yang seperti sakit hati dan ingin balas dendam dengan masa lalunya.

Baca Juga :  Ini Enam Tips Agar Dipermudah Menuju Surga

Dalam essay motivasi dan wawancara kadang saya temukan begini: “Saya ingin sukses bla-bla-bla karena saya ingin menunjukkan pada orang-orang yang dulu menghina dan merendahkan saya bahwa mereka salah-besar.” Oke mungkin saja memang ada trauma masa lalu, tapi motivasi kesuksesan hanya untuk balas dendam kadang membaawa orientasi yang melenceng, meski tidak selalu begitu.

Ketiga, stay humble dan sederhana. Dengan pencapaian yang ada, saya lihat Hera tetap rendah hati dan sederhana. Memang masih harus dilihat lagi kalau dia mendapat kesuksesan lanjutan terutama materi dan status; apakah akan berubah atau tidak.

Kadang saya lihat anak-anak muda, ya suksesnya belum seberapa, tapi jd berubah. Yang dulunya humble jadi arogant. Somse. Yang dulunya sederhana jadi seperti gegar-budaya. Materi dan status-oriented. Ya itu memang hak masing-masing. Atau mungkin itu cara mereka merayakan kesuksesannya. Tapi tetap saja bagi saya kurang sreg.

Mengapa itu terjadi? Dalam beberap kasus yang saya lihat, ini terkait nomor 2 (meski tidak semua begitu). Anak-anak muda yang motivasi suksesnya untuk balas dendam dengan masa lalunya, maka ketika ia sukses kadang jd berubah. Ada yang seperti ingin menyembunyikan masa lalunya. Ada yang panjat-sosial untuk menunjukkan mereka sudah “naik-kelas”. Lebih buruk lagi ada yang jadi melihat-rendah kepada orang-orang yang sebenarnya itu berposisi seperti dia dulu.

Terima kasih Hera. Saya dan semoga kita semua belajar dari dan melalui kamu. Saya berdoa untuk kesuksesan-kesuksesanmu selanjutnya. Tetap semangat, stay humble dan sederhana, serta jangan jadi kacang yang lupa kulitnya, insya Allah.

Semoga manfangat dan berkah. Danke

Tulisan ini dipublikasikan ulang dari Facebook Bapak Suratno Muchaeri untuk edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya tidak patah semangat dalam kondisi apa pun, karena Allah itu mengabulkan permintaan setiap hamba-Nya sesuai husnuzannya pada Allah.

Baca Juga :  Hukum Mengafani Nisan Kuburan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here