Heboh Puisi Neno Warisman, Ini Komentar MUI

1
783

BincangSyariah.Com – Puisi yang dilantunkan oleh Neno Warisman pada malam munajat 212 kemarin, menimbulkan sejumlah kontroversi dan respon beragam. Sebagaimana diketahui, dalam puisinya, Neno Warisman mengambil salah satu hadis Nabi yang berkenaan tentang perang badar. Bagaimana tanggapan MUI mengenai hal tersebut?

Sekretaris Fatwa MUI, Asrarun Ni’am Sholeh, menjelaskan bahwa banyak doa yang puitis baik dari Alquran atau hadis bahkan dari gubahan puisi yang dibuat oleh para ulama. Akan tetapi yang perlu diingat adalah likulli maqamin maqal wa likulli maqalin maqam. Suatu doa tertentu ada yang spesifik tempat tertentu, dan ada tempat tertentu dengan doa tertentu.

Di dalam konteks doa, ada doa yang bersifat umum yang tidak terikat oleh waktu dan tempat tertentu. Bisa jadi tetap puitis, seperti rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qinaa azabannar, ini doa puitis yang berasal dari Alquran dan doa itu bisa diucapkan kapanpun oleh karena itu dikenal sebagai doa sapu jagad.

Akan tetapi ada doa yang dibacakan untuk konteks, ruang dan waktu tertentu. Bisa jadi doanya umum tapi waktu dibacanya khusus, misalnya doa waktu jelang tidur, akan makan, masuk ke wc, dan doa setelah shalat dhuha. Doa itu semua artinya baik tetapi memiliki kekhususan pada waktu tertentu.

Ada juga doa yang waktunya bebas tapi pada tempat tertentu, seperti doa pada saat berada di masjidil haram. Karena itu menjadi penting untuk memahami kapan doa itu dibacakan dan dalam konteks waktu dan ruang apa.

Adapun doa yang disitir Neno Warisman dalam puisinya, jelas Asrarun Ni’am,  dibacakan dalam kontek perang sehingga membacanya pada konteks aman seperti sekarang hasilnya tidak tepat. “Itu Perang dalam posisi awal Islam, dimana pertahanan rasulullah dengan jumlah tentara kecil,” katanya.

Baca Juga :  Cara Tarjih Sanad Riwayat Marfu' dan Mauquf yang Bertentangan

Ketika Rasulullah berdoa dengan doa itu, beliau menghadapi pasukan baju besi berkuda yang hebat dan jumlahnya berkali-kali lipat dari pasukan Rasulullah. Sementara Rasulullah pada waktu itu  baru proses konsolidasi keummatan, karena Islam baru berumur dua tahun. Sehingga beliau berdoa dan bermunajad yang tidak henti-henti dengan harapan jumlah pasukan Islam yang hanya 319 dengan peralatan yang seadanya bisa mengimbangi pasukan Quraish dengan pertolongan Allah Swt.

Dari sisi arti dan sanad, jelas Asrarun Ni’am, hadis itu benar. Tapi kalau disampaikan merujuk pada kepentingan kontekstasi pilpres maka tentu tidak tepat karena doa itu khusus pada situasi perang sedang sekarang Indonesia berada dalam keadaan yang aman. Apalagi di Indonesia, Islam adalah mayoritas.

Karena itu dalam kontekstasi pilpres, doa dalam puisi Nano Warisman tersebut tidaklah tepat. Asrarun Ni’am menekankan bahwa isunya bukan puisi atau tidak puisi, puisi bisa saja menjadi doa dan absah, tapi ini soal konteks.

“Isi doanya tidak salah, saya kira itu gunanya perlu posposionalitas, isi doanya benar berasal dari Rasulullah, hadis shahih riwayat Bukhari dan Muslim. Tapi menjadi bermasalah ketika konteksnya tidak tepat. Sama halnya ada bacaan keagamaan yang bagus dan benar seperti talbiyah, tapi ketika dibaca  bukan di saat manasik itu bukannya salah, tapi tidak tepat karena konteknya berbeda,” jelasnya panjang lebar.

Maka dari itu, lanjut Asrarun Ni’am, dibutuhkan kearifan ketika bermunajat. Sehingga doa yang benar yang berasal dari Rasulullah pun harus disampaikan dengan konteks yang benar, serta cara dan niat yang benar supaya meminimalisir resiko permasalahan yang ditimbulkan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here