Haruskah Melakukan Hubungan Intim Suami-Istri dalam Sepekan? Ini Pendpat Ulama Empat Mazhab

0
3457

BincangSyariah.Com – Hubungan intim suami-istri merupakan salah satu tujuan dari adanya tali pernikahan. Akan tetapi, hubungan intim tidak selamanya berjalan lancar, karena faktor kesibukan atau kelelahan, baik dari sisi suami maupun istri. Adakah batas waktu terkait berapa lama jarak suami-istri harus melakukan hubungan intim? Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. (Baca: Hubungan Intim Itu Sebaiknya Siang atau Malam? Ini yang Rasulullah Lakukan)

Mayoritas ulama mazhab Syafii menyatakan bahwa hubungan intim merupakan hak penuh bagi seorang suami, sehingga tidak diwajibkan baginya melakukan hubungan badan dengan seorang istri. Tentu pendapat ini sangat kaku, dan tidak humanis. Bahkan sebagian ulama Syafii lainnya justru mewajibkan suami untuk melakukan hubungan badan dengan istri sebanyak satu kali selama menjalin tali pernikahan dengan sang istri. Dalam Hawasyi al-Syarwani disampaikan:

وقيل عليه مرة لتقضي شهوتها ويتقرر مهرها

“Konon wajib bagi suami melakukan (hubungan badan) satu kali guna melepaskan syahwat istri dan menetapkan hamar”.

 

Dari perselisihan tersebut al-Ghazali memberikan saran dalam Ihya ‘Ulumiddin :

وينبغي أن يأتيها في كل أربع ليال مرة فهو أعدل إذ عدد النساء أربعة فجاز التأخير إلى هذا الحد

“Suami itu dianjurkan berhubungan intim dengan istri  dalam empat malam sekali. Inilah yang lebih seimbang. Jumlah wanita (yang boleh dinikah) itu empat, maka diperbolehkan mengakhirkan sampai batasan tersebut.”

 

Penyampaian al-Ghazali senada dengan pendapat Khatib al-Syirbini dalam karyanya Mughni al-Muhtaj:

وأولى درجات الواحدة أن لا يخليها كل أربع ليال عن ليلة اعتبارا بمن له أربع زوجات

“Paling utama bagi satu orang istri adalah tidak membiarkanya dalam empat malam sekali, sebab sesuai batas maksimal pasangan baginya (suami) yaitu empat istri”.

 

Al-Ramli dalam Nihayah al-Muhtaj memberikan catatan penting sebagai berikut :

Baca Juga :  Hukum Menceritakan Hubungan Seks Pribadi

فلو علم زناها لو لم يطأ فالقياس وجوب الوطء دفعا لهذه المفسدة

“Bila diduga istri akan terjerumus dalam perzinaan jika suami tidak melakukan hubungan badan denganya, maka wajib melakukan hubungan badan denganya, guna menjauhkanya dari kerusakan ini.”

Sementara itu, dalam mazhab Hanafi diwajibkan melakukan hubungan biologis minimal empat bulan sekali, kecuali ada kerelaan serta tanpa paksaan dari pihak istri, sebagaimana penjelasan dalam karya ulama mazhab Hanafi:

ويجب أن لا يبلغ به مدة الإيلاء إلا برضاها وطيب نفسها به . ا هـ

“Melakukan hubungan badan dalam waktu yang tidak melebihi masa ila’ atau sumpah tidak bersenggama dengan istri (selama empat bulan) itu wajib, kecuali ada kerelaan dan tanpa paksaan dari pihak istri “ (Radd al-Mukhtar, juz.3, vol.202).

Dalam mazhab Hanbali, melakukan hubungan badan diwajibkan dalam empat bulan sekali selama tidak ada udzur (halangan). Dalam Mausu’ah al-Fiqhiyah disampaikan:

وَإِنَّمَا اشْتَرَطَ فِي حَقِّ الْمَرْأَةِ أَنْ يَكُونَ ثُلْثَ سَنَةٍ ؛ لأَِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدَّرَ فِي حَقِّ الْمُولِي ذَلِكَ فَكَذَلِكَ فِي حَقِّ غَيْرِهِ

“Disyaratkan (batas minimal) dalam hak istri sepertiga tahun, dikarenakan Allah memberikan batas waktu tersebut bagi orang yang bersumpah tidak bersenggama dengan istri, maka begitupula selain dia.

Menurut mayoritas ulama Maliki, hubungan intim dengan istri dalam empat malam sekali itu wajib.

لِلْمَالِكِيَّةِ وَهُوَ أَنَّ الْجِمَاعَ وَاجِبٌ عَلَى الرَّجُل لِلْمَرْأَةِ – إلى أن قال – فَإِذَا شَكَتْ قِلَّتَهُ قُضِيَ لَهَا بِلَيْلَةٍ فِي كُل أَرْبَعٍ عَلَى الرَّاجِحِ

“Bagi mazhab Maliki, hubungan intim itu wajib bagi suami untuk istri. Ketika istri mengadu atas sedikitnya hubungan biologis maka diharuskan empat malam sekali menurut pendapat yang kuat (rajih). Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here