Hari Santri Nasional dan Pengakuan Peran Masyarakat Sipil

1
440

BincangSyariah.com – 22 Oktober 1945 terjadi seruan Resolusi Jihad yang dilantangkan KH. Hasyim Asy’ari dan banyak ulama lainnya, untuk mengadang agresi militer pasukan penjajah. Seruan inilah yang memicu perlawanan legendaris arek-arek Suroboyo dan sekitarnya kepada pihak Sekutu di sekitar tanggal 10 November 1945. Syukurlah pemerintah Indonesia sudah mengakui pentingnya momen tersebut secara resmi dengan penetapan Hari Santri Nasional.

Pengakuan negara ini, diresmikan lewat Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani Presiden Joko Widodo, menurut saya sangat penting, bukan cuma buat orang Surabaya, bukan hanya bagi kelompok muslim, tapi buat rakyat sipil Indonesia pada umumnya. Istilah Republik Indonesia pertama kali dicetuskan seorang sipil yang jadi buronan internasional, Tan Malaka lewat buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Ide kesatuan bangsa diperjuangkan dan dideklarasikan oleh pemuda sipil seperti Bung Karno, Bung Hatta dan rekan-rekan seangkatannya. Kemerdekaan ini dipertahankan dengan banyak nyawa dan darah rakyat sipil yang membentuk laskar-laskar perlawanan kepada pihak penjajah, sebelum berdirinya TNI. Selama era mempertahankan kemerdekaan, legitimasi komando perlawanan tertinggi ada di tangan seorang yang berangkat dari latar belakang laskar sipil, Jenderal Soedirman.

Di era Revolusi Nasional Indonesia, sebagaimana terjadi di kalangan masyarakat umum, komunitas kiai dan santri adalah bagian dari masyarakat sipil yang terpanggil untuk berpartisipasi mempertahankan kemerdekaan. Lewat buku Guruku Orang-Orang dari Pesantren, K.H. Saifudin Zuhri menceritakan bagaimana para kiai aktif menggerakan para santrinya mendirikan laskar-laskar perlawanan. Dalam forum-forum pengajian pun para kiai bukan hanya mengajarkan keagamaan secara normatif, tapi juga menyampaikan perintah agama yang mewajibkan umat Islam melawan penjajahan.

Lewat berbagai diorama dan cerita lisan kita kerap mendengar penggambaran heroik perlawanan rakyat Indonesia terhadap pihak penjajah dengan bermodalkan senjata bambu runcing. K.H. Saifudin Zuhri mengafirmasi kebenaran kisah ini dengan mendokumentasikan beberapa cerita yang disaksikannya dengan mata kepala sendiri. Misalnya ketika ia menyaksikan masyarakat berbekal bambu runcing menjejali stasiun Parakan, Temanggung, lantaran kebelet ingin ikut berjuang.

Baca Juga :  Siapakah Orang yang Paling Buruk di Hari Kiamat?

Terselip juga fragmen tentang para pemuda dari laskar Hizbullah dan Sabilillah berbondong-bondong mendatangi Kiai Haji Subeki, ulama yang tinggal di daerah Parakan, memintanya memberkahi bambu runcing masing-masing orang, sebelum berangkat ke medan juang. Dalam sebuah momen, diceritakan Kiai Subeki mencurahkan rasa harunya kepada K.H. Wahid Hasyim yang tengah berkunjung.

“Ya Allah, mengapa begini banyak jadinya orang pada datang kepada saya?” kata Kiai Subeki sambil menangis haru.

“Mereka memerlukan ketabahan hati dan tidak salah niat, kaena itu, mereka memohon doa kepada Bapak sebagai seorang ulama yang patut dimintai berkah dan doanya” jawab Kiai Hasyim.

Robert Cribb dalam buku Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945–1949, juga mencatat nuansa kisah yang kurang lebih senada, jasa masyarakat sipil secara luas dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia menggambarkan berbagai kelompok pemuda, masyarakat dari berbagai pelosok desa, bahkan kelompok begal dan pelacur yang berperan aktif menyumbang jasa lewat beragam cara.

***

Selama puluhan tahun sejak Orde Baru kita dijejali mitos superioritas militer, seolah-olah kelompok militer yang jasanya paling besar buat merdekanya bangsa ini. Tapi sejarah tidak bisa dibungkam terus-terusan. Ia akan berbicara dengan caranya sendiri. Lewat Hari Santri Nasional negara mau tidak mau mengakui peran rakyat sipil. Bukan hanya santi, tapi masyarakat Indonesia secara luas.

Muslim, Protestan, Katolik, Budha, Hindu, Yahudi, agama-agama lokal dan lainnya, semua punya saham pada kemerdekaan. Bugis, Minang, Jawa, Papua, keturunan Tionghoa, Betawi, keturunan Arab, Sunda, Padang dan semua suku bangsa lainnya, sama-sama berkorban buat mempertahankan kemerdekaan. Bukan hanya dalam bentuk perjuangan fisik, tapi kiprah lain seperti pendidikan, intelektual, sastra, kesenian dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Sampai Kapanpun, Santri Zaman Now Tetap Harus Mengedepankan Akhlak

Dengan semangat seperti inilah menurut saya Hari Santri Nasional mesti disambut. Peringatan kiprah dunia santri dalam perjuangan bangsa mesti menjadi pintu pembukaan untuk mengapresiasi peran rakyat sipil secara luas buat bangsa dan negara Indonesia.

Selamat merayakan Hari Santri Nasional.

 

Tulisan ini adalah bagian dari serial menyambut Hari Santri Nasional 22 Oktober 2018



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here