Hari Santri Nasional dan Peran Santri Untuk Kemerdekaan

0
598

BincangSyariah.com – Kenapa ada hari santri ?,  jikapun penting harusnya juga ada hari kiai Nasional. Bukankah hari murid sedunia ada, hari guru seduniapun ada, malah peringatan hari guru Nasional juga ada. Bukankah antara santri dan kiai lebih penting kiainya, coba kalau kiai tidak ada, mau bertanya ke siapa kalau tidak ngerti. Yang lebih membingungkan lagi kenapa hari santri yang jatuh pada hari ini 22 Oktober  ditujukan pada KH. Hasyim Asy’ari, sosok yang sangat jelas merupakan seorang kiai besar di Nusantara.

Kalau ditinjau dari awal penetapan hari santri pada tahun  2015 silam oleh Presiden Jokowi, alasan dipilih tanggal 22 oktober  karena pada saat itu menjadi hari bersejarah bagi Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan merdeka. Menurut Presiden Jokowi kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari semangat jihad para santri.

Alasan mendasar ditetapkan pada tanggal tersebut karena  pada 22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asy’ari mencetuskan Resolusi Jihad sebagai upaya pencegahan pasukan Kolonial Belanda yang ingin mengembalikan kekuatannya di Hindia Belanda.

Paham bahwa posisi Indonesia sudah merdeka, KH. Hasyim Asy’ari lalu menyerukan  pada setiap masyarakat dan kepada seluruh santri-santrinya untuk berjihad membela tanah air dari serbuan penjajah yang ingin kembali menguasai Indonesia melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang sebagian besar merupakan pasukan kerajaan Inggris

“Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardhu ‘ain atau wajib bagi setiap individu.” ujar KH Hasyim Asy’ari.

Seruan jihad yang dikobarkan KH Hasyim Asy’ari membakar semangat juang para santri di kawasan Surabaya dan masyarakat sekitarnya. Terjadilah pertempuran sengit tiga hari berturut-turut (27-29 Oktober 1945) yang mengakibatkan Brigader Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby tewas.  Jenderal Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945. Saat itu mobil yang ditumpanginya terkena ledakan bom dari para pejuang Tanah Air di kawasan Jembatan Merah, Surabaya.

Baca Juga :  Benarkah Hubungan Intim pada Sepuluh Malam Terakhir Ramadan Dilarang?

Tidak terima dengan tewasnya Brigadir Jendral Mallaby oleh “pasukan pemberontak”, kerajaan Inggris sangat marah hingga menjadi penyebab perang bersejarah Indonesia dengan sekutu setelah merdeka pada tanggal 10 November 1945. Ketika itu tidak kurang dari 7000 pasukan Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Bisa kita bayangkan gejolak Nasional pada waktu itu. Dan pasukan yang sangat menonjol ketika itu adalah pasukan para santri pembela NKRI yang tak takut mati.

Jadi kita paham jika dalam peristiwa besar, kita juga akan mengingat orang-orang besar pula yang berpengaruh pada peristiwa besar tersebut. Pada peristiwa itu, orang akan ingat sosok seperti KH. Hasyim As’ari atau mungkin Bung Tomo karena punya peran yang paling terlihat.

Apalagi, dalam pendidikan sejarah di Indonesia, seringkali sebuah peristiwa sejarah selalu diingat pada orang-orang  besarnya. Seperti, peristiwa Serangan Umum 1 Maret, bayangan yang muncul adalah sosok Soeharto atau Hamengku Buwono IX, pada Proklamasi kemerdekaan yang diingat adalah Soekarno atau Bung Hatta. Bahkan pada Hari Pahlawan 10 November sekalipun, sosok yang melekat adalah Bung Tomo.

Maka bisa dibilang Hari Santri merupakan wujud bagaimana sejarah juga bisa dilekatkan pada mereka yang secara individu tidak dikenal oleh banyak orang. Sosok-sosok yang berjuang di Surabaya dan Jawa Timur mendapat tempat yang tidak bisa dipandang remeh dalam upaya bangsa ini meraih kemerdekaan. Dan sosok-sosok itu adalah santri.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here