Hari Ini Haul ke-47, Ini Riwayat Hidup Abah Falak

0
564

BincangSyariah.Com – Mendiang K.H. Tubagus Muhammad Falak (Abah Falak) adalah seorang ulama kharismatik yang lahir di Banten pada tahun 1842 M. Tepatnya, di Pondok Pesantren Sabi, Desa Purbasari Kabupaten Pandeglang Banten. Nama asli beliau sendiri adalah KH. Tubagus Muhammad Falak bin KH. Tubagus Abbas, sedangkan nama kecil beliau adalah Tubagus Muhammad. Gelar Falak itu sendiri diberikan oleh gurunya Syakh Sayyid Affandi Turqi, pada saat beliau mempelajari ilmu khasaf dan atas kepiawaian beliau dalam bidang ilmu falak –perbintangan di Mekkah.

Sejak kecil beliau diasuh oleh ayahanda KH. Tubagus Abbas dan ibundanya Ratu Quraysin. Ayah beliau sendiri adalah keturunan keluarga kesultanan Banten, silsilahnya bersambung hingga Syaikh Syarif Hidayatullah. sedangkan ibunya ratu Quraysin merupakan keturunan dari Sultan Banten.

Abah Falak Menimba Ilmu ke Mekkah

Pada usia 17 tahun, tepatnya tahun 1857 untuk pertama kalinya beliau berangkat ke tanah suci untuk menimba ilmu selama kurang lebih 21 tahun. Beberapa bidang keilmuan yang beliau pelajari dan perdalam hingga ke Timur Tengah antara lain:

Ilmu Tafsir Al-Qur’an (dari Syaikh Nawawi Al-Bantany dan Syaikh Mansur Al-Madany), ilmu Hadits (dari Sayyid Amin Quthbi), ilmu Tasawwuf (dari Sayyid Abdullah Jawawi), ilmu Falak (dari Syaikh Affandi Turki), ilmu Fiqh (dari Sayyid Ahmad Habsy, Sayyid Baarum, Syaikh Abu Zahid dan Syaikh Nawawi Al-Falimbany), ilmu Hikmat (dari Syaikh Umar Bajunaid-Makkah, Syaikh Abdul Karim dan Syaikh Ahmad Jaha-Banten). Beliau juga belajar dengan beberapa ulama besar lainnya antara lain Syaikh Ali Jabra, Syaikh Abdul Fatah Al-Yamany, Syaikh Abdul Rauf Al-Yamany, Sayyid Yahya Al-Yamany, Syaikh Zaini Dahlan-Makkah, dan ulama-ulama besar dari Banten diantaranya, Syaikh Salman, Syaikh Soleh Sonding, Syaikh Sofyan dan Syaikh Sohib Kadu Pinang.

Baca Juga :  Viral Shalat Subuh di GBK Sambil Duduk, Sahkah Shalatnya?

Selama berada di mekkah beliau tinggal bersama Syaikh Abdul Karim. Dari Syaikh Abdul Karim beliau mendapatkan kedalaman ilmu tarikat (thoriqoh) dan tasawuf. Bahkan oleh Syaikh Abdul Karim yang dikenal sebagai seorang Wali Agung dan ulama besar dari tanah Banten yang menetap di Mekah itu, Abah Falak didapuk (dibaiat) hingga mendapat kepercayaan sebagai mursyid (guru besar) Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

Kepulangan Abah Falak ke Tanah Air

Pada tahun 1878 beliau kembali ke tanah air. Sebelum beliau menetap dan mendirikan pesantren di Bogor, beliau sempat tinggal di tempat kelahirannya Pandeglang Banten dan mendapat kepercayaan memimpin Pondok Pesantren Sabi yang ditinggalkan ayahandanya.

Namun, sebagaimana perjalanan para mubaligh pada umumnya, aktivitas dakwah dan tablignya untuk menyebarkan dan menyiarkan Islam tidak terhenti sampai di sana. Sebagai wujud untuk mengembangkan dan mengamalkan ilmunya, sejak tahun itu beliau mulai melancarkan aktivitas dakwah beliau secara estafet. Dimulai dari daerah Pandeglang, Banten hingga sampai ke Pagentongan, Bogor.

Pada tahun 1901 beliau mendirikan sebuah pesantren di Pagentongan, di sana pula beliau kemudian mempersunting seorang istri yang bernama Siti Fatimah. Dan dari Siti Fatimah beliau kemudian dikaruniai seorang putra yang bernama Tubagus Muhammad Thohir atau yang lebih dikenal dengan bapak Aceng. Dan dari Tubagus Muhammad Thohir, lahirlah beberapa orang cucu dan buyut yang sekarang beberapa di antaranya mengabdi di Pesantren Al-Falak dan sekitarnya. Abah Falak bermukim di pagentongan hingga akhir hayatnya.

Abah Falak Kembali ke Hadirat Allah Swt

Abah Falak wafat tahun 1972 diusianya yang ke-130, dan dimakamkan di areal komplek pondok Pesantren Al-Falak yang tidak jauh dari masjid Al-Falak. Beliau meninggal karena sakit ringan. hampir seluruh ulama dan Habaib termasuk masyarakat di tanah air banyak yang ikut mensalatkan dan mengantarkan ke tempat peristirahatannya.

Baca Juga :  Berapakah Usia Anak Kecil Dianjurkan Berpuasa Ramadhan?

Sekarang Pondok Pesantren Al-Falak dikelola oleh cucu-buyut keturunan beliau. Di sekitar Al-Falak, terdapat pula pesantren lain yang masih dalam satu areal berdekatan di antaranya: Al-Falakiyah, Al-Um, Riyadh at-Tafsir dan Raudhot at-Tholibin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here