Hari Baik Memulai Belajar-Mengajar Menurut Ulama Hadis

1
5169

BincangSyariah.Com- Beberapa waktu lalu, ada teman yang menanyakan tentang anjuran memulai belajar pada hari Rabu dan benarkah hadis yang menjelaskan keutamaan memulai belajar pada hari tersebut. Dia mendapatkan keterangan tersebut dari kitab Ta’limul Muta’allim karya Syekh az-Zarnuji.

Saya atau teman-teman santri yang pernah belajar di pesantren salaf, tidak asing dengan anjuran tersebut maupun kitab yang menjadi rujukannya.

Kitab Ta’limul Muta’allim merupakan kitab yang mengajarkan tata-krama belajar ilmu agama. Sumber utama materi kitab tersebut adalah pengalaman para ulama yang sukses menjadi ulama besar dengan kedalaman ilmu yang luar biasa, ilmunya bermanfaat bagi banyak orang, dan berhasil mendidik murid-muridnya menjadi orang yang sukses seperti diri mereka. Terkadang, praktik para ulama itu didasarkan kepada sebuah hadis. Seperti tradisi mengawali belajar pada hari Rabu. Kenapa hari Rabu?

Ternyata, Syekh az-Zarnuji mengamati metode mengajar gurunya, Syekh Burhanuddin al-Marghinani al-Hanafi, pengarang kitab al-Hidayah fi Fiqhil Hanafiyyah. Gurunya selalu memulai mengajar materi baru pada hari Rabu. Menurut sang guru, kebiasaan itu didasarkan kepada hadis Nabi Muhammad saw. yang mengatakan :

 مَا مِنْ شَيْءٍ بُدِئَ بِهِ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ إِلَّا وَقَدْ تَمَّ.

“Tiada pekerjaan yang dimulai pada hari Rabu kecuali pasti akan maksimal/sempurna.”

Dasar lainnya adalah kebiasaan Imam Abu Hanifah (150 H), pendiri mazhab Hanafi, guru yang berhasil dan pedagang sukses. Juga kebiasaan Syekh Abu Yusuf al-Hamdani. Menurut Syekh Abu Yusuf, kebiasaannya itu karena didasari pemikiran bahwa hari Rabu adalah hari diciptakannya cahaya dan hari keberuntungan bagi orang yang beriman.

Demikianlah penjelasan Syekh az-Zarnuji tentang keutamaan dan anjuran memulai belajar pada hari Rabu. Dari penjelasan beliau, kita dapat menyederhanakan bahwa beliau menggunakan kebiasaan para ulama dan juga hadis Nabi Saw. sebagai dasarnya.

Perlu dicatat beberapa hal sebelum kita memasuki uraian lebih dalam. Pertama, Syekh az-Zarnuji berbicara tentang keutamaan. Bukan berbicara tentang halal-haram atau boleh-tidaknya sebuah perbuatan. Kedua, keutamaan dapat berarti kesunahan atau afdhaliyah. Keutamaan dengan demikian berarti anjuran. Dari sini, pertanyaannya adalah bagaimana pandangan para ulama ahli hadis terhadap hadis keutamaan hari Rabu yang menjadi dasar anjuran memulai belajar-mengajar pada hari tersebut?

 

*Kajian Hadis*

Para ahli takhrij hadis sudah mencoba meneliti keberadaan hadis yang digunakan oleh guru Syekh az-Zarnuji. Di antara ulama hadis yang sudah melakukan kajian adalah Syekh Syamsuddin as-Sakhawi (902 H), Syekh Ismail al-Ajluni (1162 H), dan Syekh Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari (1380 H.).

Ahli Takhrij Hadis paling senior yang sudah mengkajinya, Syekh Syamsuddin as-Sakhawi menyatakan dalam kitab al-Maqashidul Hasanah, lam aqif lahu ‘ala ashlin (saya belum menemukan kitab hadis yang menjadi sumbernya).

Redaksi ini cenderung ingin mengatakan bahwa hadis tersebut tidak pernah disebut dalam kitab-kitab hadis. Apakah berarti hadis ini palsu? Sepertinya Syekh as-Sakhawi tidak terlalu gegabah dalam hal ini. Beliau tidak langsung memvonis hadis tersebut palsu hanya karena tidak disebutkan dalam kitab-kitab hadis. Dengan bahasa yang penuh sikap rendah hati, beliau hanya mengatakan “belum menemukan”.

Baca Juga :  Hukum Azan dan Iqamah Sebelum Shalat Sunah?

Setelah tidak menemukan dalam kitab-kitab hadis, as-Sakhawi mencoba mencari sumber hadis dalam selain kitab hadis. Beliau menginformasikan bahwa hadis tersebut disebutkan oleh Burhanul Islam, pengarang kitab Ta’limul Muta’allim yang meriwayatkan dari gurunya al-Marghinani, pengarang kitab al-Hidayah, sebuah kitab fikih rujukan dalam mazhab Hanafi. Al-Marghinani meriwayatkan secara hafalan dengan sanad lengkap dari Syekh al-Qiwam Ahmad bin Abdur Rasyid.

Sekalipun ditemukan sumber/kitab yang menyebutkan hadis, namun masalahnya penyebutan tidak disertai sanad yang lengkap. Hal ini menyisakan masalah. Karena, tanpa sebuah sanad atau ketika hanya ada sanad namun terpotong, hadis harus dihukumi daif. As-Sakhawi ternyata tidak terburu-buru menghukumi daif, munqati’ atau mu’allaq. Sampai di sini, as-Sakhawi belum menjatuhkan vonis.

Berikutnya, as-Sakhawi mencoba melakukan penilaian terhadap kandungan (matan hadis). Beliau menelaah dengan cara membandingkan dengan hadis lain yang berhubungan dengan hari Rabu. Terdapat dua riwayat hadis yang bekaitan dengan hari Rabu.

Pertama, sebuah hadis marfu’ riwayat sahabat Jabir, “Yaumul arbi’a yaumu nahsin mustamirrin” [Hari Rabu adalah hari penuh kesialan selamanya].” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam at-Thabarani dalam al-Ausath.

Kedua, hadis riwayat sahabat Ibnu Abbas yang menyatakan, “Innahu la akhdza wa la ‘atha’a” [hari Rabu tidak ada penghukuman dan penganugerahan]”.

Menurut as-Sakhawi, kedua hadis yang menyinggung hari Rabu adalah daif. Baik yang menyatakan keburukan maupun kenetralan hari Rabu. Kedaifan hadis tentang keburukan dan kenetralan hari Rabu tidak dapat digunakan menafikan kandungan hadis keutamaan hari Rabu. Sampai paragraf ini, as-Sakhawi belum juga menjatuhkan vonis palsu kepada hadis keutamaan hari Rabu.

Di bagian akhir paragraf pembahasan, as-Sakhawi mengutip pernyataan dari sumber yang disamarkan dengan ungkapan “sebagian orang saleh yang pernah ditemuinya” yang menyatakan, “syakat al-arbi’a ilallahi subhanah tasya’uman nas biha fa manahaha annahu ma ubtudi’a bi syai’in fiha illa tamma” [hari Rabu mengadu kepada Allah Swt bahwa umat manusia menganggapnya membawa keburukan. Lalu Allah menganugerahi hari Rabu keistimewaan bahwa pekerjaan yang dimulai pada hari Rabu pasti akan maksimal/sempurna].”

Dengan mengutip statemen “sebagian orang saleh”, seakan as-Sakhawi hendak menegaskan bahwa hadis keutamaan hari Rabu telah dikonfirmasi dengan informasi dari “sebagian orang saleh”. Ini menarik karena as-Sakhawi melakukan kritik matan dengan pendekatan “kasyaf”. As-Sakhawi tidak menafikan kebenaran keutamaan hari Rabu. Bahkan beliau cenderung membenarkan kandungan hadis keutamaan hari Rabu. Seorang ahli hadis sekelas as-Sakhawi menerima pernyataan “orang saleh” sebagai alat konfirmasi. Bagaimana pun ini merupakan metode kritik matan yang unik ketika kritik matan konvensional gagal memberikan penjelasan.

Dua ratus tahun kemudian, Syekh Ismail al-Ajluni (1162 H) mengkaji hadis keutamaan hari Rabu dalam karyanya Kasyful Khafa’ Wa Muzilul Ilbas. Dalam kajian, Syekh al-Ajluni memulai dengan mengutip paragraf kitab al-Maqashidul Hasanah karya as-Sakhawi (902 H). Lalu beliau mengutip pendapat Mulla Ali al-Qari al-Hanafi dan Ibnu Hajar al-Asqalani as-Syafi’i. Syekh Mulla Ali al-Qari (1014 H.) mengomentari hadis tentang keburukan hari Rabu riwayat sahabat Jabir, “Yaumul arbi’a yaumu nahsin mustamirrin” [Hari Rabu adalah hari penuh keburukan abadi].”

Baca Juga :  Hukum Menjadikan Al-Qur’an Sebagai Alat Mencari Duniawi

Menurut beliau, hadis ini berarti keburukan abadi bagi orang-orang kafir. Dari sini, kemudian beliau mengembangkan pemikiran lain dengan menggunakan pola logika terbalik, yaitu bahwa hari Rabu akan menjadi hari keberuntungan abadi bagi orang-orang baik [sa’dun mustaqirrun ‘alal abrar]. Lalu Syekh Ali al-Qari menginformasikan bahwa imam-imam mazhab Hanafi terutama pengarang kitab al-Hidayah menjadikan hadis keutamaan hari Rabu sebagai dasar bagi kebiasaan mereka memulai mengajar agama.

Sedangkan menurut al-Asqalani (852 H), mengutip statemen “sebagian orang saleh yang pernah ditemuinya” mirip dengan statemen “sebagian orang saleh”-nya as-Sakhawi. Bahwa hari Rabu mengadu kepada Allah jika umat manusia menganggapnya sebagai pembawa keburukan, lalu Allah memberi keistimewaan segala pekerjaan yang dimulai hari Rabu akan sempurna/maksimal. Ini, terlepas dari dugaan pengutipan yang salah, menguatkan metode penerimaan hadis yang dikembangkan as-Sakhawi sebelumnya. Selain bahwa menunjukkan Syekh Ismail al-Ajluni cenderung menerima hadis keutamaan hari Rabu, seperti pendapat pendahulunya, Syekh as-Sakhawi.

Syekh Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari (1380 H), dua ratus tahun setelah Syekh al-Ajluni (1162 H.) atau empat ratus tahun setelah as-Sakhawi (902 H.), melakukan kajian terhadap hadis keutamaan hari Rabu. Beliau menuangkan kajiannya dalam kitab al-Mudawi Li ‘Ilalil Jami’ as-Shaghir wa Syarhail Munawi (Obat untuk Penyakit Jami’ Shaghir dan Syarahnya al-Munawi). Dalam pembahasan tentang hadis :

آخرُ أربعاءَ في الشهر يومُ نَحْسٍ مستمرٍّ.

“Hari Rabu akhir tiap bulan adalah keburukan abadi”

Dalam kajian sanad, seluruh jalur periwayatan hadis “keburukan hari Rabu” dinyatakan lemah (daif). Hadis ini juga bertentangan dengan hadis tentang keutamaan hari Rabu. Para ulama sering membandingkan keduanya. Mengutip al-Hulaimi dalam kitab Syua’bul Iman, arti hari Rabu penuh keburukan abadi adalah hanya untuk orang-orang yang suka berbuat kerusakan seperti orang-orang kafir. Bukan untuk orang yang senang berbuat baik (al-mushlihun) seperti orang-orang mukmin. Pemahaman ini diperoleh al-Hulaimi karena mengamati hadis lain yang menceritakan bahwa Nabi Saw pernah berdoa pada hari Senin, Selasa, dan baru dikabulkan pada hari Rabu. Lalu sahabat Jabir, perawi hadis tersebut, ketika tertimpa kesulitan, dia berdoa pada hari Rabu. Kesulitan yang dialami sahabat Jabir adalah karena dia menjadi korban (mazhlum). Karenanya, hadis tentang hari Rabu kesialan abadi hanyalah ditujukan untuk orang zalim, kafir, dan pembuat kerusakan. Tidak bagi orang-orang yang beriman.

Lalu, seperti al-Ajluni pendahulunya, Syekh Ahmad al-Ghumari mengutip secara lengkap pendapat as-Sakhawi. Mengikuti ungkapan as-Sakhawi, Syekh Ahmad al-Ghumari menilai hadis keutamaan hari Rabu dengan wa huwa haditsun la ashla lahu (ia adalah hadis yang tidak ada sumbernya sama sekali). Ungkapan ini lebih tegas dibanding ungkapan as-Sakhawi, lam aqif lahu ‘ala ashlin (saya belum menemukan sumbernya).

Beliau juga menyinggung tentang pengarang kitab al-Hidayah yang menggunakan hadis tersebut sebagai dasar untuk memulai praktik mengajar ilmu agama. Syekh Ahmad al-Ghumari juga menambahkah informasi bahwa banyak ulama yang berusaha keras agar dapat memulai pengajaran pada hari Rabu. Menurut beliau, lebih baik bukan hadis tersebut yang dijadikan dasar. Tapi hadis lain tentang keutamaan hari Rabu. Yaitu innallaha khalaqa an-nura yaumal arbi’a (Allah menciptakan cahaya pada hari Rabu). Menurut beliau, hadis ini sahih dan maknanya bersesuaian dengan konteks menyebarkan/mengembangkan ilmu melalui metode pengajaran. Ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah diciptakan pada hari Rabu. Dengan dimulai pada hari Rabu, diharapkan Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam Alquran.

Baca Juga :  Mengenal Kitab "Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah": Kitab Ilmu Hadis Bagi Pemula

 

Para Ulama Tidak Membuang Hadis Daif, Justru Mencari Penguatnya

Seperti sedikit disinggung dalam ulasan di atas, hadis tentang keutamaan hari Rabu semuanya lemah (daif). Namun demikian, para ulama pengkaji hadis tersebut tidak langsung memvonis hadisnya palsu atau maudhu’. Mereka tidak lantas membuangnya begitu saja. Mereka masih menerimanya dan menggunakannya sebagai dasar dalam beramal. Seperti anjuran memulai belajar pada hari Rabu. Hal ini dapat dilihat dari sikap yang diambil oleh Syekh as-Sakhawi (902 H.), al-Ajluni (1162 H.), dan Ahmad al-Ghumari (1380 H.) yang berupaya memberikan tafsir atas maksud hadis keutamaan hari Rabu. Ketiganya seolah menerima anjuran dan praktik memulai belajar pada hari Rabu yang dilakukan oleh para ulama mazhab Hanafi.

Benar bahwa hadis keutamaan hari Rabu tidak ada dalam kitab-kitab hadis terpopuler. Namun bukan lantas langsung divonis palsu atau maudhu’.

Praktik ketiga ulama ahli takhrij hadis justru mencarikan hadis lain yang semakna guna menguatkan keutamaan hari Rabu. Baik menggunakan “informasi dari orang saleh” maupun menggunakan hadis lain yang dinilai sahih.

Sampai di sini, ternyata, pernyataan Syekh Abu Yusuf al-Hamdani yang dikutip oleh Syekh az-Zarnuji tentang penciptaan cahaya pada hari Rabu dan hari Rabu adalah keberuntungan bagi orang mukmin adalah bersumber dari hadis. Pernyataan Syekh Abu Yusuf al-Hamdani dikutip az-Zarnuji untuk menguatkan dalil sebelumnya tentang kebiasaan Syekh Burhanuddin dan Abu Hanifah, serta hadis keutamaan hari Rabu.

 

Hari Rabu, Hari Baik Memulai Belajar

Sampai di sini, kita mendapatkan ulasan mengenai dasar pemilihan hari Rabu. Yaitu sebuah hadis yang tidak bisa dikatakan kuat (sahih), bahkan para ulama menyebutnya la ashla lahu (tidak ada kitabnya). Namun, hadis keutamaan hari Rabu tidak ditinggalkan begitu saja. Ia tetap dapat digunakan sebagai dasar terutama dalam masalah keutamaan (fadha’ilul a’mal). Bukan masalah halal-haram. Rasulullah Saw mengatakan :

 مَا مِنْ شَيْءٍ بُدِئَ بِهِ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ إِلَّا وَقَدْ تَمَّ.

“Tiada pekerjaan yang dimulai pada hari Rabu kecuali pasti akan maksimal/sempurna

Pekerjaan akan maksimal dan sempurna bila diawali pelaksanaannya pada hari Rabu”

Pekerjaan dalam hal ini mencakup seluruh kegiatan yang baik. Di antaranya adalah kegiatan belajar dan mengajar. Para ulama menjadikan hadis ini sebagai dasar untuk mengawali pengajian mereka pada hari Rabu. Wallahu a’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here