Hari Anak Nasional: Kisah Seorang Ayah yang Diampuni Dosanya karena Senyuman Anaknya

1
295

BincangSyariah.Com – Anak adalah amanah dari Allah Swt. untuk setiap orang tua yang diberi anugerah keturunan. Suatu keluarga dapat dipastikan merindukan akan kehadiran buah hati. Anak dapat menjadi penerus keluarga atau pemersatu keluarga. Dalam Al-Quran, Allah Swt. menyebutkan bahwa anak bisa saja menjadi fitnah, musuh, dan kebanggaan (perhiasan). Semua disesuaikan dengan bagaimana orang tua mendidik anak-anaknya.

Jika kita mendidik anak dengan baik, maka esok ia juga akan membalas kebaikan kita. Dalam artian saat kita tua nanti, anak akan merawat kita dengan sepenuh hati. Kita didik agama mereka, mulai dari akhlak pada orang tua, guru, dan tetangga, juga mulai dari belajar sholat, puasa, dan sedekah.

Berbuat baik pada anak atau menyenangkan hati anak dapat menjadi penebus semua dosa-dosa para orang tua. Saat munusia mati, anak dapat menjadi mesin pahala (waladun sholih) untuk ayah-ibunya.

Seorang ibu yang melahirkan dengan taruhan nyawanya, seorang ayah yang menghidupi keluarga dengan keringatnya, akan tergantikan dengan tumbuh-kembang sang buah hati. Apalagi anak tersebut dapat meringankan beban dunia dan akhirat kedua orang tuanya. Sungguh keburuntungan tersendiri bagi sebuah keluarga yang memiliki anak qurrota a’yun , menjadi penyejuk jiwa.

Bersyukurlah memiliki anak. Buatlah mereka selalu tersenyum sebagaimana mereka akan membuat para orang tua tersenyum. Bisa saja manusia diampuni dosanya sebab perhatian pada anaknya. Sebagaimana suatu kisah pada masa Rasulullah Saw. Seorang bapak yang berbuat maksiat diampuni sebab sering membuat anaknya bahagia.

Kisah ini ditulis oleh Imam Muhammad Bin Abu Bakar. Kisah tentang seorang pendosa yang sowan pada beliau. Pada awalnya beliau mengabaikannya lantaran dia tidak mau berterus terang. Lalu datanglah Malaikat Jibril as. menegurnya. Cerita ini diriwatkan dari Sayyidina Ali ra. dalam hadits yang keduapuluh dua, dalam Kitab Al-Mawaidh Al-‘Ushfuriyah.

Baca Juga :  Hukum Membuat Patung Menurut Quraish Shihab

Suatu ketika seorang laki-laki datang pada majelis nabi. Dia berkata pada nabi, “Wahai Rasulullah, saya sudah berbuat maksiat pada Allah Swt. Hamba mohon bantuanmu untuk mensucikanku.” Rasulullah Saw. menanyakan maksiat apa yang telah ia lakukan. “Maafkan hamba wahai nabi, hamba malu untuk menceritakan padamu”, jawab laki-laki itu.

Mendengar jawaban laki-laki tersebut yang tidak mau bercerita tentang doaanya karena malu, Nabi Muhammad Saw. bersabda : “Kamu malu untuk menceritakan kemaksiatanmu padaku, tapi mengapa engkau tidak malu pada Allah Swt. yang melihat kemaksiatanmu? Sudahlah, berdirilah. Silahkan pergi dari sini sebelum api neraka turun atas kami.”

Mendengar jawaban nabi, orang tersebut pulang dengan rasa kecewa dan putus asa. Ia menangis sesegukan karena telah merasa menyakiti nabi dan tidak menemukan jalan menuju ampuan Allah Swt.

Selang beberapa saat kemudian, Malaikat Jibril as. datang mengunjungi Nabi Muhammad Saw. Beliau langsung bertanya pada nabi, “Wahai Muahammad, mengapa engkau membuatnya putus asa padahal ia sudah memiliki penebusnya walau dosanya sebesar apapun?”

Rasulullah Saw. agak terperanjat mendengar pertanyaan berupa teguran dari Malaikat Jibril as. Beliau bertanya balik padanya, mengapa orang tersebut bisa diampuni. “Dia memiliki seorang anak kecil. Ketika ia pulang dari perjalanan, pasti membawa oleh-oleh untuk anaknya yang menyambut kedatangannya dengan riang. Ketika anak kecil itu senang, maka hal itu menjadi penebus dosanya”, jelas Malaikat Jibril As.

Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa menyenangkan anak, misal dengan membawa oleh-oleh saat pulang dari perjalanan, atau mengajaknya jalan-jalan sehingga membuatnya senang, hal itu dapat menjadi penebus dosa orang tua.

Imam Muhammad Bin Abu Bakar berkata,

فعلم ان فرح اولادكم كفارة للذنوب ونجاة من النيران كما قال الله تعالى  انما اموالكم واولادكم فتنة والله عنده اجر عظيم

Baca Juga :  Hukum Mencium Kemaluan Istri

Dapat disimpulkan bahwa senangnya anak dapat menjadi penebus dosa dan penyelamat daei api neraka sebagaimana dalam firman Allah Swt. : Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar. (Qs. At-Taghabun (64) :15)

Semoga kita menjadi orang tua yang mendapat keberkahan dari senyuman anak-anak kita. Amin.

Wallahua’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here