Hakikat Tobat yang Diterima oleh Allah

0
567

BincangSyariah.Com – Bagaimana hakikat tobat yang diterima Allah? Bertobat dari segala perbuatan dosa merupakan kewajiban setiap Muslim. Secara bahasa, “tobat” bermakna “kembali.” Dalam arti kembali dari hal-hal yang dicela syariat (perbuatan dosa), kepada hal-hal yang dipuji oleh syariat (ibadah).

Amat banyak dalil-dalil berupa Alquran ataupun hadis yang menjelaskan kewajiban serta keutamaan tobat. Allah Swt. berfirman:

Apakah kalian tidak tahu, bahwasanya Allah menerima tobat dari hamba-hambanya.” (Q.S Al-Taubah [9]: 104)

Dan bertobatlah kalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman! Supaya kalian beruntung.” (Q.S. Al-Nur [24]: 31)

Nabi Muhammad saw. merupakan manusia paling sempurna, namun beliau senantiasa istiqamah dalam melakukan tobat setiap harinya. Beliau bersabda:

Wahai sekalian manusia, bertobatlah kepada Allah dan mintalah ampunan kepadaNya. Sungguh Aku bertobat kepada Allah 100 kali sehari.” (H.R. Muslim).

Allah Swt. selalu membuka pintu tobatNya kepada siapapun, kapanpun, dan di manapun. Sebagaimana sabda Nabi saw:

Sungguh Allah membuka pintu tobat di malam hari untuk para pendosa di siang hari. Dan Allah membuka pintu tobat di siang hari untuk para pendosa di malam hari.” (H.R. Muslim)

Cara Bertobat

Banyak sekali orang yang memiliki keinginan kuat untuk bertobat, namun tidak mengetahui caranya. Menurut para ulama, tobat memiliki tiga persyaratan:

  1. Menyudahi segala perbuatan dosa.
  2. Menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan.
  3. Memiliki iktikad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.

Tiga syarat ini harus dipenuhi jika tobat menyangkut perbuatan dosa kepada Allah, seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan kemaksiatan.

Namun, jika perbuatan dosa menyangkut hak sesama manusia, seperti mengambil milik orang lain, menyakiti, dan lain sebagainya, para ulama menambahkan satu syarat lagi yakni harus mengembalikan apa yang menjadi hak mereka dan meminta keridaan atas segala kesalahan kita. Tanpa hal ini, tobat tidak bisa diterima.

Baca Juga :  Dosa-Dosa Penghalang Ampunan Allah

Diriwayatkan dari Sahabat Ali r.a., bahwasanya tobat bisa diartikan dalam enam bentuk:

  1. Menyesal atas dosa-dosa di masa lampau.
  2. Melakukan serta menambal kewajiban-kewajiban yang ia tinggalkan.
  3. Mengembalikan hak-hak yang ia ambil secara zalim.
  4. Meluluhkan nafsu dalam ketaatan, sebagaimana ia memeliharanya dalam kemaksiatan.
  5. Memaksa nafsu untuk menelan pahitnya ketaatan, sebagaimana ia memberi manisnya kemaksiatan.
  6. Menangis, sebagai ganti atas segala gelak tawa yang pernah ia lakukan.

Imam Ibnu Atha` berkata, bahwasanya tobat ada dua macam:

  1. Tobat Inabah, yakni tobat yang dilakukan oleh seorang hamba sebab takut akan siksaan Allah Swt.
  2. Tobat Istijabah, yakni tobat yang dilakukan oleh seorang hamba sebab ia malu atas segala kemurahan yang telah diberikan Allah Swt. kepadanya.

Selalu Mengintrospeksi Diri

Syaikh Abdul Wahhab Al-Sya’rani berkata:

Seyogyanya seorang hamba senantiasa mengintrospeksi semua anggota badan baik yang zahir ataupun yang batin, setiap pagi juga setiap sore. Apakah anggota badannya telah melaksanakan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah Swt, atau malah menyia-nyiakannya. Apakah ia sudah menjaga matanya dari hal-hal yang diharamkan, menjaga mulutnya, telinganya, dan hatinya dengan penuh rasa keikhlasan ataupun tidak.

Ketika ia melihat dirinya melakukan ketaatan, maka bersyukurlah pada Allah Swt. dan jangan merasa bahwa dirinya pantas mendapatkannya. Ketika ia melihat dirinya dipenuhi dengan kemaksiatan, maka bersegeralah untuk menyesal dan meminta ampunan. Kemudian, bersyukulah karena ia tidak melakukan kemaksiatan yang lebih dari itu dan Allah Swt. tidak menurunkan musibah padanya sebab kemaksiatan itu. Maka pahamilah wahai saudaraku! Teguhkanlah tobatmu, dan jangan engkau mencintai dunia. Sebab Rasulullah bersabda:

“Cinta terhadap dunia dan melewati batas akan menumbuhkan sifat munafik, sebagaimana air menumbuhkan sayur-sayuran.”

Baca Juga :  Tauhid Itu di Dalam Hati

Tobat Nasuha

Rasulullah saw. bersabda:

Orang yang bertobat dari dosa, seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (H.R. Al-Thabrani).

Para ulama menyatakan bahwa yang dimaksud dari tobat di atas adalah tobat nasuha. Yakni taubat yang benar-benar tulus dari hati seseorang dan disertai kesungguhan.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Apakah kalian tahu siapakah orang yang bertobat itu?” Para Sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda:

“Orang yang bertobat tapi tidak belajar ilmu agama, maka ia tidaklah bertobat. Orang yang bertobat tapi ibadahnya tidak bertambah giat, maka ia tidaklah bertobat. Orang yang bertobat tapi tidak merelakan seteru-seterunya, maka ia tidaklah bertobat. Orang yang bertobat tapi tidak mengubah pakaian dan perhiasannya yang melampaui batas, maka ia tidaklah bertobat. Orang yang bertobat tapi tidak mengubah pergaulannya dengan orang-orang saleh, maka ia tidaklah bertobat.  Orang yang bertobat tapi tidak mengubah perilaku dan sifat buruknya, maka ia tidaklah bertobat. Orang yang bertobat tapi tidak menggulung kasur dan karpetnya (mengurangi tidur untuk beribadah), maka ia tidaklah bertobat. Orang yang bertobat tapi tidak menyedekahkan harta yang melebihi kebutuhannya, maka ia tidaklah bertobat. Jika hal-hal di atas tampak pada seorang hamba, maka ia adalah orang-yang benar-benar bertobat.”

Maka tobat seorang hamba akan bisa tercermin dari perilaku kesehariannya. Rasulullah bersabda:

Orang yang berkata: Saya takut pada Allah, tapi ia tidak berhenti dari perbuatan dosa, maka bagi Allah ia adalah orang yang berdusta bukan orang yang bertobat. Orang yang berkata: Saya merindukan surga, tapi ia tidak mau beramal untuknya, maka ia adalah orang yang berdusta bukan bertobat. Orang yang berkata: Saya mencintai Nabi, tapi tidak mau mengikuti sunnah, maka ia adalah orang yang berdusta bukan bertobat. Orang yang mengatakan: Saya merindukan bidadari, tapi tidak menyiapkan mahar untuknya, maka ia adalah orang yang berdusta bukan bertobat. Sungguh orang yang bertobat itu adalah kekasih Allah Swt. dan kekasih Rasulullah saw.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here