Hakikat Rasa Sakit Menurut Jalaluddin Ar-Rumi

1
2760

BincangSyariah.Com – Perubahan-perubahan yang terjadi pada manusia, besar maupun kecil seringkali diawali dengan kepayahan dan rasa sakit yang pernah dihadapi.

Seseorang yang pernah mengalami pedihnya dihina sebagai orang miskin akan tergerak jiwanya untuk giat bekerja dan berusaha supaya dapat membuktikan bahwa dirinya bisa pula menjadi kaya dan sukses. Seseorang yang pernah direndahkan karena dianggap bodoh akan berupaya semaksimal mungkin untuk mempelajari sebuah ilmu demi membuktikan kepada orang yang merendahkannya bahwa dia adalah orang yang terpelajar.

Senada dengan apa yang diutarakan oleh Imam Syafi’i bahwasanya ‘Barang siapa yang tidak bisa menahan perihnya belajar ia akan menanggung pedihnya kebodohan’. Sederhananya, semakin dalam pegas ditekan maka akan semakin jauh dia melesat.

Rasa sakit adalah motor yang mengarahkan seseorang untuk melakukan sebuah pekerjaan. Orang yang tidak memiliki rasa sakit, tidak memiliki gairah, dan tidak memiliki kerinduan atas capaian-capaian, maka dia tidak memiliki motivasi untuk bergerak dalam mencapai impiannya. Baik impian itu berupa kesuksesan dunia maupun kesuksesan akhirat.

Pada salah satu sajaknya di dalam buku Fihi Ma Fihi, Jalaluddin Ar-Rumi berkata, “Ada (Nabi) Isa di tubuh kita.” Dia menganalogikan Nabi Isa sebagai rasa sakit dan Maryam adalah tubuh yang menanggung rasa sakit tersebut.

Setiap kita memiliki Isa (rasa sakit) di dalam tubuh kita, seperti Maryam yang merasakan sakit ketika hendak melahirkan Isa. Rasa sakit itu yang mengantarkan Maryam untuk bersandar kepada pohon, pohon kurma yang semula kering seketika menjadi hijau dan berbuah ketika Mayam bersandar di bawahnya. Jika Maryam tidak merasakan sakitnya melahirkan ia tidak akan menuju pohon yang diberkahi itu. Allah berfirman,

Baca Juga :  Maulana Rumi dan Eksistensi Tarian Sufinya

 … فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ

Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma (QS Maryam (19) : 23).

Begitu pula dalam kehidupan ini, seandainya kita mengetahui bahwasanya segala upaya penghambaan kepada Allah kelak akan mendapatkan kebahagiaan surga yang hakiki, maka kita akan berbesar hati melakukannya. Kita akan rela menahan kantuk dan mengurangi waktu istirahat kita untuk mengisi sepertiga malam dengan bersujud dan menghamba kepada-Nya. Kita juga akan rela menahan lapar dan dahaga sepanjang hari serta mengorbankan sebagian harta, pikiran dan tenaga demi perjuangan di jalan-Nya.

Hal-hal yang kita lakukan tentunya mengandung penderitaan-penderitaan dan tidak jarang dirasuki perasaan kecewa, tetapi keyakinan bahwa kita akan mencapai kesuksesan dan kebahagiaan melalui perjumpaan dengan Allah, maka hal itu akan menguatkann kita kembali untuk tetap teguh melakukan upaya penghambaan.

Bukankah hari raya hanya diperuntukkan bagi mereka yang berpuasa?

Bukankah kesuksesan dan kenikmatan itu hadiah bagi mereka yang berusaha?

Mari kita gerakkan Isa yang ada dalam tubuh kita untuk mencapai surga-Nya, sebagaimana Maryam telah menggerakkan tubuhnya menuju pohon kurma yang diberkahi-Nya. Semoga kita bisa menjadi hamba yang benar-benar bertakwa kepada Allah, wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

  1. […] Kecerdasan Maulana Rumi telah terlihat sejak di usia dini. Setelah menginjak dewasa, ia rajin menulis karya disamping mengajar. Sebelum menjajaki dunia tasawuf, awalnya Rumi berkutat di bidang dzohiriah. Sampai kemudian ia bertemu seorang pria asing. Tokoh yang dimaksud adalah Syams Tibriz atau Syamsuddin Tibriz. Ia adalah figur karismatik yang nantinya menjadi guru paling berpengaruh terhadap pembentukan pribadi Rumi menjadi seorang sufi. (Baca: Hakikat Rasa Sakit Menurut Jalaluddin Ar-Rumi) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here