Hakikat Qada dan Qadar

0
103

BincangSyariah.Com – Tentang hakikat Qada dan Qadar, para ulama memiliki perbedaan pendapat. Sebagian ulama mengartikan sama, dan sebagian ulama yang lain memberikan arti yang berbeda.

Qadar kerap diartikan sebagai “ilmu Allah Swt. tentang apa yang akan terjadi pada makhluk di masa mendatang.” Sedangkan Qada adalah “segala sesuatu yang Allah Swt. wujudkan (adakan atau berlakukan) sesuai dengan ilmu dan kehendaknya.”

Sebagian ulama yang lain justru menerapkan definisi di atas secara terbalik, yakni definisi Qada dan Qadar ditukar. (Baca: Takdir dan Usaha Manusia Menurut Imam Abul Hasan al-Asy’ari)

Pendapat yang menyamakan Qada dan Qadar memberikan definisi bahwa aturan baku yang diberlakukan oleh Allah Swt. terhadap alam adalah undang-undang yang bersifat umum dan merupakan hukum-hukum yang mengikat sebab dan akibat.

Pengertian tersebut diilhami oleh beberapa ayat al-Qur’an, seperti firman Allah Swt. dalam Qur’an Surat Ar-Ra’d Ayat 8 sebaga berikut:

 ٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ أُنثَىٰ وَمَا تَغِيضُ ٱلْأَرْحَامُ وَمَا تَزْدَادُ ۖ وَكُلُّ شَىْءٍ عِندَهُۥ بِمِقْدَارٍ

Allāhu ya’lamu mā taḥmilu kullu unṡā wa mā tagīḍul-ar-ḥāmu wa mā tazdād, wa kullu syai`in ‘indahụ bimiqdār

Artinya: “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.”

Pengertian tersebut menjelaskan bahwa Qada menurut bahasa berarti menentukan atau memutuskan, sedangkan menurut istilah berarti segala ketentuan Allah Swt. sejak zaman azali. Sementara itu, pengertian Qadar menurut bahasa adalah memberi kadar, aturan, atau ketentuan.

Menurut istilah, qadar berarti ketetapan Allah Swt. terhadap seluruh makhluk-Nya tentang segala sesuatu. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Swt. dalam Quran Surat Al-Furqan Ayat 2 sebagai berikut:

Baca Juga :  Qadarullah atau Qudratullah, Samakah Artinya ?

 ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٌ فِى ٱلْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍ فَقَدَّرَهُۥ تَقْدِيرًا

Allażī lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍi wa lam yattakhiż waladaw wa lam yakul lahụ syarīkun fil-mulki wa khalaqa kulla syai`in fa qaddarahụ taqdīrā

Artinya: Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.

Iman kepada Qada dan Qadar berarti percaya dan yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah Swt. sudah menentukan segala sesuatu bagi makhluk-Nya. Iman kepada Qada dan Qadar memiliki arti mengimani adanya ilmu Allah Swt. yang qadīm dan mengimani adanya kehendak Allah Swt. yang berlaku serta kekuasaan-Nya yang menyeluruh.

Setiap Muslim wajib mengimani Qada dan Qadar Allah Swt., yang baik ataupun yang buruk. Hal ini tercantum dalam firman Allah Swt., Qur’an Surat Al-Hajj (22) Ayat 70 sebagai berikut:

 أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِى كِتَٰبٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ

A lam ta’lam annallāha ya’lamu mā fis-samā`i wal-arḍ, inna żālika fī kitāb, inna żālika ‘alallāhi yasīr

Artinya: Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.

Quran Surat Al-Hadid (57) Ayat 22

 مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ

Baca Juga :  Doa Memohon Takdir Baik dalam Hidup

aṣāba mim muṣībatin fil-arḍi wa lā fī anfusikum illā fī kitābim ming qabli an nabra`ahā, inna żālika ‘alallāhi yasīr

Artinya: Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

Iman kepada Qada dan Qadar meliputi empat prinsip, sebagai berikut: pertama, iman kepada ilmu Allah Swt. yang Qadīm (tidak berpermulaan), dan Dia mengetahui perbuatan manusia sebelum mereka melakukannya. Kedua, iman bahwa semua Qadar Allah Swt. telah tertulis di Lauh Mahfuzh.

Ketiga, iman kepada adanya kehendak Allah Swt. yang berlaku dan kekuasaan-Nya yang bersifat menyeluruh; dan keempat, iman bahwa Allah Swt. adalah zat yang mewujudkan makhluk. Allah Swt. sebagai Sang Pencipta dan yang lain adalah makhluk.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here